Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Serius


__ADS_3

Seandainya sekte masih jaya, maka Chuan harus menjadi bagian didalamnya. Jika lain yang terjadi, maka harus membantu sekte tersebut bangkit lagi. Hanya pokok saja yang diceritakannya.


"begitulah ceritanya, dan ada titipan untuk itu" ucap Chuan sambil mengeluarkan kitab pengobatan langit dan bumi dan kitab pedang naga.


"guru" ucap Tetua Tian terkejut. Airmata tumpah tak terbendung lagi. Tangannya bergetar memegang dua kitab yang mewakili kerinduannya pada sang guru.


Yang lain tenggelam dalam pikirannya masing masing. "chuan" ucap Tetua Gun hendak menanyakan sesuatu pada Chuan.


"bagaimana patriak tabib dewa sekarang" lanjutnya. "dialam dewa" ucap Chuan tak bisa menceritakan kejadian sesungguhnya.


Tetes air mata ketiga tetua lama tak kunjung reda.


"Chuan" ucap Tetua Gun.


"iya tetua" sahut Chuan.


"kami semua sudah berunding sebelumnya" ucap Tetua Gun menjelaskan.


Tetua Lifan pernah menceritakan kepada mereka tentang pengetahuan Chuan yang sebenarnya sedikit diatas mereka, namun hanya perlu diasah.


Dan delapan orang yang setia pada sekte pasir putih, berjanji akan mendampingi chuan dalam membimbing anak anak itu. Namun mereka minta untuk tidak menggunakan nama sekte pasir putih, untuk identitasnya.


Ringkas dan jelas Tetua Gun mewakili yang lainnya. "hanya keadaanku yang tak bisa membantu" ucap Tetua Tian dengan nada menyesal.


"tak perlu sedih seperti itu guru" ucap Chuan.


"tolong jangan panggil guru, panggil tetua saja seperti yang lainnya" ucap Tetua Tian berharap.

__ADS_1


"baiklah" ucap Chuan sedikit bingung.


Lalu Chuan minta dua kitab tersebut dipelajari oleh mereka semua. Hingga saatnya nanti bisa diturunkan pada anak anak yang saat ini bersama Chuan. Dan memohon ijin untuk melihat kondisi Tetua Tian.


Dengan bingung Tetua Tian hanya mengangguk saja. Kemudian Chuan meminta Tetua Lifan melepaskan pakaian tetua tian.


Melihat tubuh kurus didepannya, dengan dentian yang hancur. Chuan menghela nafas sebentar dengan wajah tegang. Dua pil nutrisi hijau dan pil penguat tubuh diminumkan pada Tetua Tian.


Hanya keheningan yang tercipta melihat keseriusan Chuan dalam memeriksa Tetua Tian. "bibi Fei jangan melamun lhoo" goda Chuan memecah keheningan itu. "huhhh" guman Bibi Fei yang faham akan mulut usilnya.


"hahhhh kami yang tegang, kau malah cengengesan" geram Nenek Hong.


"jangan marah nek, nanti yang naksir jadi takut lho" usil Chuan.


"hemmm" hampir semua orang berguman karena keusilannya.


"setelah ini sangat sakit tetua" ucap Chuan.


"rasa sakit sudah bertahun tahun aku alami bahkan mati pun siap, lanjutkan saja" ucap Tetua Tian sambil tersenyum.


"jangan meninggal tetua, nanti ada yang kehilangan" goda Chuan mengendirkan keseriusannya.


"anak ini gak ada seriusnya" ucap Tetua Lifan.


"kalau terlalu serius bisa cepat tua lho" balas Chuan.


"huhhh" geram Nenek Hong.

__ADS_1


"whahaha" tawa Chuan pecah.


Tak menghiraukan mereka yang sedang memandangnya. Chuan mengeluarkan botol kristal dan mengambil isinya. Pancaran energi dari mustika bumi masih sedikit keluar, meskipun chuan menggenggamnya dengan erat.


Dengan ilmu memecah ombak samudra, Chuan memasukkan mustika tersebut melalui pusar Tetua Tian. Dengan serius dia menempatkannya dengan aliran qinya. Saat sudah terikat dibekas dentian yang hancur, dia melepaskan tangannya dari pusar tetua tian. Keringat keluar dari tubuhnya. Sedangkan Tetua Tian juga berkeringat karena menahan rasa sakitnya.


"istirahat dulu tetua" ucap Chuan sedikit menepi lalu meditasi. Keheningan yang tercipta begitu sunyi, seakan semuanya menahan nafas melihat semua yang dilakukan Chuan.


Tetes air mata yang sudah kering keluar lagi tanpa Tetua Tian bendung. Wajah pucat tak terlihat lagi meskipun belum bisa dikatakan normal. Yang lain juga meneteskan airmata, karena rasa senang yang tak terkira.


"tetua" ucap Tetua Gun.


"jangan ganggu dia" ucap Tetua Tian.


"kalau sudah serius, anak ini menakutkan juga" ucap Nenek Hong


"hehehe" tawa kecil terdengar dari sebagian tetua.


Cukup lama mereka menunggu chuan bermeditasi. Setelah bangun, dia langsung mengajak tetua tian keposisi yang pas. Agar selama proses tidak tergangu aktifitas semua penghuni rumah.


"meditasilah, tetua" ucap chuan, kemudian duduk dibelakang tetua tian yang sudah mulai meditasi. Dia tempelkan kedua tangan dipunggung tetua tian. Dengan ilmu memecah ombak samudra, dia menuntun qi murninya untuk menembus jalur kedentian tetua tian.


Kebuntuan dibeberapa titik sudah diselesaikan. Sampai diposisi mutika bumi, Chuan dengan ilmunya menghancurkan mustika tersebut. Dengan energi mustika yang besar muncul luka baru dibekas dentiannya yang rusak, dan memicu dentiannya terbentuk kembali.


"alirkan energinya keseluruh tubuh" ucap Chuan sambil tetap focus menjaga terbentuknya dentian baru Tetua Tian.


"huuhhhh" chuan menghela nafasnya, saat tangannya dilepaskan dari punggung tetua. Dentian yang sudah terbentuk membuatnya lega. Meskipun dengan keringat yang membasahinya.

__ADS_1


"energi yang berputar dalam tubuh, alirkan perlahan kedentian yang baru terbentuk" jelas Chuan pada tetua. Setelah penuh dan menerobos, lakukan seperti sebelumnya.


__ADS_2