Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Sekte Pedang Naga


__ADS_3

"salam Patriak Chuan"


"salam putri"


"salam senior" ucap Tian Wu mewakili mereka berempat.


"salam senior, silahkan masuk" ucap Chuan. Mengajak mereka masuk ketempat tinggalnya. Semuanya masuk dan menuju ruang pertemuan dikediaman Chuan.


Delapan orang duduk mengelingi meja diruang tersebut. Sebelum berbincang bincang, mereka memperkenalkan diri.


"habaha,,, tak ku sangka bisa bertemu patriak sekte hutan suci" ucap Tian Wu.


"para senior bisa memanggil Chuan saja" balas Chuan.


"kalau begitu kau juga panggil paman saja, tanpa peradatan yang tak perlu" ucap Han San.


"baiklah, paman" jawab Chuan sambil tersenyum.


"terima kasih sudah menerima kami berempat" ucap Gin Yan.


"sudah lama namamu dan sekte hutan suci kami dengar" sahut Hu Long. Namun baru kali ini mereka bisa bertatap muka. Terima kasih juga tersampaikan, karena anak anak dari klan mereka banyak yang menjadi murid sekte.


Bahkan ada beberapa generasi yang serius belajar alkemist. Biasanya mereka harus menyediakan sumberdaya yang cukup besar. Tetapi sekte hutan suci tak pernah menargetkan apapun pada klan mereka.


"wah kalau begitu hutang paman buat sekteku harus segera dibayar,,, hahaha" celoteh Chuan.


"oohhhh,,," guman Han San.


"hehehe,,, tak perlu terkejut hanya bercanda paman" lanjut Chuan.


"hemmm,,, habis murid yang belajar pengobatan dan alkemist banyak juga yang dari klan han" ucapnya.


"maaf,,, semua murid sekte tidak bisa mementingkan golongan tertentu" ucap Chuan.


Dari klan apapun, mereka diperlakukan sama. Dan mengucapkan sumpah setia pada sekte, serta siap untuk membantu siapapun dan klan manapun tanpa pandang bulu. Bahkan sekte aliran hitam pun tidak kami tolak saat berkunjung dan mengajak bekerja sama. Namun tiap kerjasama dengan pihak manapun, kami tetap memiliki syarat yang harus dipatuhi.


"apa syaratnya anak anak klan gin bisa kembali ke klan" tanya Gin Yan.


"mereka boleh kembali saat dirasakan sudah mumpu dalam ilmu dan pengetahuannya, sedang syaratnya adalah mengabdi untuk semua orang dan bukan satu golongan" ucap Chuan.

__ADS_1


"ohhhh,,,, apa mungkin anak anak bisa mandiri seperti itu" lanjut Gin Yan penasaran.


"pasti bisa" ucap Chuan. Jika sudah mahir dibidangnya apa yang tidak mungkin. Seandainya klan mereka tidak mau menyiapkan tempat dan sarananya, maka sekte siap untuk itu.


Pembicaraan berlangsung tanpa mengenal waktu. Penjabaran tentang gambaran dan rencana sekte hutan suci membangkitkan semangat keempatnya.


"para senior tak perlu khawatir tentang perkembangan sekte" sahut Rouyan. Tak ada niatan kami untuk menguasai atau mengambil wilayah siapapun. Selama tidak diusik maka sekte hutan suci menjadi damai dengan siapa saja.


"kalau boleh bisakah kami mengenal senior" ucap Tian Wu.


"hehehe,,, aku cuma pengawal Chuan, tak ada yang istimewa tentang diri ini" jawab Rouyan.


"hahhhh" guman Tian Wu.


Untuk mengurangi rasa penasaran mereka, Rouyan menceritakan kalau dia dan cucunya hanya seorang pengelana dari bekas benua utara. Saat bertemu Chuan mereka berdua lagi mengalami musibah. Bantuannya tak terhingga, membuat cucunya mengangkat saudara dengan Chuan.


Mereka berbincang bincang sampai senja. Selepas menikmati jamuan yang telah disajikan. Mereka pamit pulang.


Waktu terus berlalu dengan kedamaian semu. Atas permintaan para sesepuh, Rouyan membantu rehabilitasi sekte pedang langit. Namanya kini diganti sekte pedang naga.


Usulan tersebut disampaikan oleh Chuan. Sebagai menantu kaisar, dia juga dimintai pertimbangan dan kontribusinya. Dengan disetujui usulannya, Chuan juga memberikan kitab pedang naga sebagai simbol kebesaran sekte.


Kelima senior terus mengadakan pembaruan dan pengaturan secara menyeluruh. Cara pendekatan kelimanya, sangat diterima oleh murid sekte. Karena lebih mengutamakan kebersamaan.


Rouyan memberi masukan dan mengadopsi apa yang dilihatnya disekte hutan suci. Diluar bimbingan guru atau tetua, tiap senior bertanggung jawab pada beberapa yuniornya. Pembagian kelompok berdasarkan tahap kultivasi dan tehnik yang disukainya.


Dengan pembagian tersebut, mereka bisa saling berbagi masukan. Mengabaikan status dan asal usul, diharapkan rasa kekeluargaan hadir dihati para murid. Saling menghargai dan melindungi diharap tumbuh semakin kuat.


Sementara itu Chuan sering pergi kepinggiran kota. Lou Sin sedang membersihkan lahan yang diberikan mertuanya. Tanah lapang yang luas kini terbuka dan siap digunakan untuk melatih anak anak pinggiran yang kurang beruntung.


Saat ini Chuan sedang memberi bimbingan pada Sin Wan dan beberapa orang dari lembah suci. Sudah tiga hari mereka datang ditempat tersebut. Dan selama itu pula Chuan serius memberi bimbingan pada mereka.


"apa bisa bertemu Tuan Muda Chuan" ucap seseorang menemui Lou Sin.


"maaf, bisa menunggu sebentar yaa" jawab Lou Sin tanpa menanyakan identitasnya. Karena dia tahu Chuan tak pernah menanyakan itu, jika yang datang tak memberitahukannya. Namun Lou Sin tidak tahu kalau tehnik Chuan bisa mengetahui kedalam pikiran seseorang selama kekuatan spiritualnya dibawah Chuan.


"mari masuk dulu" ajak Lou Sin untuk masuk dirumah mertuanya. Selain tempat tinggal mertuanya, bagian depan rumah tersebut saat ini dijadikan ruang tamu.


"terima kasih" jawab orang tersebut.

__ADS_1


"apa berita yang tuan bawa" setelah cukup lama menunggu akhirnya Chuan hadir dan langsung bertanya.


"salam tuan muda" ucapnya sambil bangkit dan menangkupkan kedua tangannya.


"salam paman, kelihatannya ada berita yang cukup mendesak" balas Chuan.


"berita dari perbatasan" jelasnya. Ada beberapa kelompok orang yang mendekati perbatasan. Tiap kelompok mereka teedapat dua ratusan pendekar tahap bumi dan langit. Saat ini mereka masih diluar perbatasan, dan terlihat belum bergerak untuk melintas.


"darimana mereka datang" tanya Chuan.


"dari benua tengah" jelasnya. Mereka sebagian besar murid sekte bulan merah. Yang lain berasal dari klan tang yang ada dibenua tengah.


"baiklah, berapa anggota teliksandi yang bersamamu" tanya Chuan


"kami cuma dua puluh orang, dua tahap suci yang lain tahap langit" jawabnya.


"bantuan yang datang bagi pemberontak" ucap Chuan. Sekte bulan merah adalah sekte aliran hitam yang cukup kejam. Mereka datang untuk membantu klan chao dan tang. Para teliksandi diminta Chuan untuk menyamar dan menguras bekal mereka. Selain itu jika memungkinkan untuk melemahkan kelompok kecil mereka. Sebelum kelompok tersebut bergabung jadi satu.


"untuk pasukan khusus biar aku yang menemui Jenderal Erlong" jelas Chuan. Sementara Komandan Xhuan akan dihubungi setelahnya. Selain itu Chuan juga memberikan lima botol obat.


"itu pil anti racun, bagikan pada semua anggota teliksandi" lanjut Chuan.


"terima kasih tuan, kalau begitu aku permisi dulu" ucapnya sambil memasukkan botol obat tersebut kecincin penyimpanan.


"baiklah, hati hati paman"


"siap, terima kasih tuan muda"


Lou Sin yang hadir menemani Chuan hanya terbengong mendengar pembicaraan tersebut. Peristiwa yang besar akan terjadi. Namun Chuan tetap santai dalam menyikapinya.


"kita terpaksa menyimpan berita ini dan terlihat tenang" ucap Chuan pada Lou Sin. Peristiwa akhir akhir ini cukup meresahkan semua pihak. Jika berita ini muncul maka rakyat yang paling resah.


"apa yang bisa aku bantu" tanya Lou Sin.


"dengan alasan membuat pagar ditempat ini, galilah tanah yang panjang dan luas" ucap Chuan.


"apa aku disuruh membuat kuburan masal" tanya Luo Sin terkejut.


"bisa jadi, atau mungkin jadi tempat persembunyian kalian" ucap Chuan santai

__ADS_1


"baiklah" jawab Lou Sin singkat.


__ADS_2