
Louyin sebagai kepala cabang balai lelang memberikan informasi yang dibutuhkan Chuan. Meskipun merasa sedikit bingung, sebab mereka yang dicari Chuan merupakan pelanggan tetap dibalai lelang.
Dengan terburu buru Louyin keluar balai lelang ditemani dua pengawalnya. Pagi hari yang cerah, patriak sekte teratai merah sudah kedatangan tamu. Louyin dan dua pengawalnya yang mendatangi sekte tersebut.
Tanpa basa basi Louyin menjelaskan maksud kunjungannya. Dia berharap adanya kedamaian diantara kedua sekte. Perdebatan alot terjadi karena sikap arogan dari patriak sekte.
Beberapa tetua juga memperkuat sikap permusuhannya. Mereka yakin kalau bisa menguasai sekte hutan suci. Bahkan untuk melakukannya, mereka cukup membawa dua ratus an murid intinya. Semakin siang suasana percakapan mereka semakin panas. Louyin meminta maaf kalau usulannya membuat patriak dan para tetua semakin emosi.
Karena usahanya dirasa sia sia, diapun berpamitan pulang. Saat akan meninggalkan tempat pertemuan tersebut patriak sekte penasaran dengan sikap santai Louyin.
"kenapa kau begitu santai saat kami menolak untuk damai" ucap patriak sekte.
"kalau kalian bersikeras untuk hal tersebut, apalah artinya penjelasan kami" ucap Louyin sambil menghentikan langkahnya.
"sepertinya kamu kenal dengan anak itu" lanjut patriak sekte.
__ADS_1
"Chuan adalah pemilik balai lelang, dan lima tahun yang lalu dia sudah ditahap suci" ucap Louyin. Patriak dan tetua sekte terdiam mendengarnya.
"maaf kami permisi, semoga kalian tidak menyesali keputusan yang telah kalian buat" lanjut Louyin lalu beranjak keluar dari tempat tersebut.
Pendekar suci dan pemilik balai lelang, benarkan ucapan Louyin tersebut. Pembincangan patriak dan para tetua masih berlanjut. Mereka berubah drastis dalam sikapnya, dan menunjuk seorang tetua yang kenal dekat dengan Tetua Zhao untuk mengunjunginya. Mereka berharap informasi sekte hutan suci dari Tetua Zhao.
Menjelang senja, pertemuan mereka berakhir. Seorang tetua melesat meninggalkan sekte, sedang yang lain kembali dengan aktifitasnya.
Sementara itu, ditempat lain. Ke lima wakil tetua diberi kebebasan oleh Chuan untuk menyusuri kota. Sedang Chuan dan Teikong hanya beristirahat dipenginapan.
Waktu terus berlalu, sambil menikmati araknya mereka semua asyik berbincang santai. Masing masing wakil tetua bercerita tentang kejadian yang dialaminya tadi siang. Beberapa cerita tersampaikan dengan suasana yang santai.
Beberapa pedagang terdengar mengeluh akan tingginya pajak yang dibebankan pada mereka. Juga pungli yang dilakukan oknum penatua dan ada juga oknum dari sekte yang bersekongkol dengan pejabat setempat.
Dibelakang pasar kota, dua wakil tetua menemukan sekelompok pemuda jalanan. Paling besar diantara mereka dua puluh tahun an. Sedang yang masih anak anak usia sepuluh tahun an juga ada.
__ADS_1
Malam semakin larut, Chuan hanya sedikit menimpali cerita mereka. Dia juga berpamitan untuk kembali kepenginapan. Sedang Teikong dan yang lain dibiarkan dikedai namun dia berpesan kalau minum arak jangan sampai mereka lupa diri.
Keluar dari kedai arak Chuan melesat pergi. Bukan menuju penginapan, namun menuju kearah lain. Selain dengan ilmu bayangan naga, keremangan malam membantu Chuan untuk menyembunyikan dirinya.
Sebuah rumah yang cukup besar dan ada penjagaan ketat, jadi perhatian Chuan. Menurut Louyin, rumah tersebut milik salah satu penatua yang datang ke sekte hutan suci. Dirasa cukup aman Chuan melesat mendatangi rumah tersebut. Empat penjaga yang mulai terpengaruh arak, dipukulnya hingga pingsan.
Lalu Chuan melesat dan mengintip rumah tersebut melalui atapnya. Terdapat dua kamar yang cukup lebar, dan dengan kekuatan jiwanya Chuan mengetahui sebuah kamar yang kosong tanpa kehidupan didalamnya.
Namun ada kekuatanĀ yang membatasi dipintu ruangan tersebut. Rupanya ada formasi keamanan dipintunya, namun diatas ruangan yang tertutup papan kayu tidak ada formasi seperti itu.
Dengan hati hati dan tanpa suara Chuan menerobos atap lalu turun diatas kamar tersebut. Saat mengintip didalam kamar, terlihat beberapa peti tersusun rapi. Ada dua kotak kecil diatas meja.
Merasa situasi cukup aman, Chuan menerobos ruangan tersebut. Lalu dia memasukkan peti dan kotak kecil kedalam cincin naganya.
Selesai menguras isi ruangan tersebut, Chuan dengan cepat melesat pergi. Tiba dibagian belakang rumah tersebut, usil Chuan mulai terusik. Qi nya mulai diubah menjadi api, dan melepaskan ketempat tersebut.
__ADS_1
Saat api mulai membesar, Chuan tersenyum puas dan cepat berlalu dari tempat itu.