
Setelah cukup pengaturan Chuan pada anak anak. Untuk anak perempuan disuruh pulang untuk berganti pakaian dan membantu Bibi Fei. Sedang anak laki laki bertelanjang dada karena baju mereka sedang dijemur.
Derap kuda terdengar dikejauhan, ternyata Tetua Zhao datang bersama Tetua Satu dan lima puluh muridnya. "salam Chuan" sapa Tetua Zhao.
"salam tetua" balas Chuan.
"kenapa mereka telanjang dada" tanya tetua satu.
"latihan menahan nafas disungai" ucap Chuan sambil berjalan ketepi sungai.
Tetua Satu dan Zhao mengikutinya. Sedang para murid bersama Tetua Lifan dan yang lain.
"ada apa Chuan" tanya Tetua Zhao.
"tunjukkan lengan kiri tetua berdua" ucap Chuan membuat keduanya bingung saat mengulurkan lengan kirinya. Chuan tidak menemukan tanda yang dimaksud, lalu mencorat coret tanah.
"adakah tanda seperti ini dilengan kiri muridmu" tanya Chuan lagi.
"ada, kenapa Chuan" tanya Tetua Zhao.
"muridku juga" ucap tetua Zhao.
"apa mereka ikut kesini" tanya Chuan.
"iya" jawab keduanya.
"suruh mereka melepas baju seperti anak asuhku, lalu totok yang punya tanda seperti itu" ucap Chuan.
"baik" jawab Tetua Satu meski tetap penasaran. Dengan alasan latihan berenang mereka melepas bajunya. Terdapat lima belas murid yang punya tanda seperti yang dimaksud Chuan. Dengan cekatan Tetua satu dan Zhao menotok mereka semua.
__ADS_1
"apa maksudnya" tanya seorang yang bertahap mahir. "ajak anak anak pulang nek" ucap Chuan, dijawab anggukan.
Sepeninggalan Nenek Hong dan anak anak, Chuan lalu menjelaskan. Tanda dipergelangan tangan mereka adalah bukti murid inti sekte pasir darah.
Mereka menyusup untuk menguasai seluruh Klan Chu. Panjang lebar Chuan memberi penjelasan.
"whahaha, kau terlambat Chuan" ucap murid tadi membuat Tetua Zhao dan yang lain geram.
"siapa pemimpin kalian diklan chu" tanya Chuan.
"jangan harap aku akan memberitahumu" jawabnya. "wush, ach" lesatan api biru jari Chuan menembus dada murid tersebut, membuatnya roboh dan tak bangun lagi.
Chuan tak tanggung tanggung dalam interogasinya. Lima murid tahap mahir sudah menemui ajalnya.
"ampun Chuan" ucap seorang murid.
"putra kedua walikota adalah pemimpin kami" ucap seorang murid membuat shock semua orang. Setelah berunding sebentar Chuan dan Tetua Zhao melanjutkan interogasinya.
Sementara tetua satu mengundang walikota untuk datang ketempat Chuan. Murid yang lain sibuk menguburkan ketujuh mayat temannya. Meski marah akan penghianatan temannya, mereka menurut saja saat Chuan menyuruh untuk menguburkannya. Info yang mengejutkan didapat saat delapan murid itu mulai bicara.
Terdapat lima puluhan murid yang saat ini masih didalam sekte. Ada dua puluh murid inti menjadi pasukan keamanan yang dikediaman walikota, lima diantaranya selalu mengikuti kemanapun walikota pergi. Sedang yang lima belas mengikuti putra kedua walikota.
Semuanya berada ditahap mahir tingkat akhir. Ada lima murid tetua empat yang terpaksa dan ingin bebas. Setiap bulan mereka akan berkumpul dibelakang kediaman walikota.
"kapan itu" tanya Tetua Zhao.
"besok malam"
"siapa yang datang"
__ADS_1
"biasanya para tetua"
Setelah Chuan menyegel dentian mereka dengan ilmu membelah ombak.samudra, lalu menyuruhnya semuanya memakai baju. Derap kuda dikejuhan terdengar mendekat.
"selamat datang paman" ucap Chuan.
"ada hal penting apa lagi, Chuan" tanya walikota pada pemuda yang telah menyelamatkan hodupnya. Saat keduanya sedang berbincang, Tetua satu, Zhao dan Lifan melesat menotok lima pengawal walikota.
"bangs** kalian" teriak seseorang yang telah tertotok.
"ada apa ini" tanya walikota bingung. Tetua Zhao dan Chuan lalu menjelaskan situasi yang terjadi. Sebelum meninggalkan kota ini, dia ingin membersihkan para penyusup yang sudah mengakar.
Mereka dari sekte pasir darah. Yang telah menancapkan pengaruhnya diklan Chu. Bahkan juga ada keterlibatan putra walikota.
Dan hancurnya sekte pasir darah maka para tetua sekte hutan suci terhindar dari bayang bayang masa lalu. Sebab para tetua tersebut, dulunya para tetua dan murid sekte pasir putih.
"maaf keteledoranku" ucap kepala pasukan keamanan pada walikota.
"whahaha, tak ada waktu bagi kalian untuk selamat"
"kalian erlambat menyadarinya" terdengar salah seorang yang tertotok berteriak lantang.
"singkirkan mereka" ucap walikota.
Kelebatan pedang kepala pasukan keamanan menghabisi kelimanya.
"kuburkan mereka" ucapnya pada anak buahnya yang lain. Kemudian semuanya melakukan perundingan yang cukup serius.
Untuk mengelabuhi terbunuhnya beberapa penyusup sekte pasir darah, maka Walikota akan pura pura sidak dibeberapa desa dan menyertakan Tetua Zhao dalam rombongannya.
__ADS_1