
Ramai lalu lalang warga terlihat dan tidak terusik oleh kedatangan chuan memasuki desa.
"maaf paman, dimanakah kedai makan didesa ini" tanya chuan saat berpapasan dengan seorang warga.
"terus saja dikanan jalan ada kedai yang cukup ramai, kamu baru masuk desa ini yaa" ucap warga tersebut.
"iya paman dan terima kasih" ucap chuan lalu melangkah menuju kedai yang disebut.
Beberapa warga sekilas melihat saat chuan melewatinya. Sesampai didepan kedai terdengar keramaian pengunjungnya. Dengang santai dia memasuki kedai, dan mengambil tempat yang kosong.
"pesan apa nak?" tanya pak tua pemilik warung, setelah chuan duduk.
"makan pakai lauk dan arak, paman" sahutnya.
"baik, tunggu sebentar" ucap pemilik warung lalu beranjak menyiapkan pesanan chuan.
Terlihat beberapa pemuda yang meneruskan obrolannya setelah sempat terhenti saat chuan datang.
"bulan depan aku masuk sekte macan putih" ucap salah satu pemuda membanggakan diri, karena masuk disalah satu dari dua sekte besar.
"selamat kawan, kedepan jangan lupa ajak kami" timpal satunya.
Ternyata dari percakapan mereka, setelah masuk disalah satu sekte besar akan mempunyai harapan besar untuk menjadi prajurit diklan tian. Bahkan kalau beruntung bisa ikut seleksi masuk prajurit kerajaan.
__ADS_1
"ini makanannya nak" ucap pemilik warung mengejutkan chuan.
"terimakasih paman" ucap chuan lalu asyik menikmati sajian yang tersedia.
Masih tetap memasang telinga tajamnya, mencuri dengar obrolan yang ada dikedai tersebut. Obrolan saling sahut, bahkan ada juga orang tua yang menimpalinya.
Beberapa sekte utama dari beberapa klan bulan depan juga akan membuka seleksi penerimaan murid baru.
Banyak juga berita lain dapat chuan curi dari percakapan mereka. Bahkan menurut mereka klan tian ibarat sebuah kerajaan dibawah panji kekaisaran.
Berbagai macam gambaran keadaan terdengar disela candaan para pengunjung kedai.
"guru" panggil chuan lewat pikirannya.
"sepertinya kita dipinggiran klan gu, berbatasan langsung dengan wilayah klan chu" ucap patriak lion.
"paman, araknya tambah lagi" sapa chuan saat pemilik kedai lewat habis mengantar pesanan pengunjung lain. "baik" balas pemilik kedai sambil tersenyum.
Hari mulai beranjak siang, para pengunjung silih berganti. Empat orang yang baru masuk sepertinya dari golongan pendekar. Beberapa pengunjung memberi tempatnya pada mereka.
Seorang pendekar tahap mahir dan lainnya ditahap menengah.
"bawakan makan dan arak terbaik, gak pakai lama" teriak yang ditahap mahir.
__ADS_1
Gelak tawa keempatnya mengisi keheningan yang tercipta karena kedatangan mereka. Dengan tergesa gesa paman pemilik warung menyiapkan pesanan mereka.
Satu persatu pengunjung membayar dan pergi saat keempatnya asyik melahap pesanan yang sudah tersaji. Tak mau timbul masalah chuan juga ikut keluar dari kedai tersebut.
Tampak santai chuan menyusuri jalan desa. Terlintas tanya dalam pikirannya,
"kenapa desa ini begitu sepi, tidak seperti saat dia datang".
Meskipun rasa penasaran timbul, tapi dia tetap melenggang dijalanan.
"mampirlah nak" sapa seorang wanita tua saat dia didepan disebuah rumah tua.
"maaf nenek memanggilku" tanya chuan.
"memang siapa lagi nak" balasnya.
Chuan iseng mampir dirumah tersebut. Sampai didepan rumah, dia langsung diajak masuk. Wanita tua langsung menutup kembali rumahnya saat chuan sudah masuk dirumahnya.
"kog ditutup ada apa nek" tanya chuan.
"kamu baru datang didesa ini yaa" malah dijawab dengan pertanyaan olehnya.
"iya nek, aku sedang berkelana mencari pengalaman" ucap chuan.
__ADS_1
"duduklah dulu, aku biasa dipanggil nenek hong" ujarnya. "baik, namaku chuan" jawab chuan sambil duduk dan nenek hong berlalu pergi keruang belakang.
Hanya terdapat sebuah kursi panjang tanpa sandaran, meja, lemari yang sudah usang dan dipan untuk tidur nenek tersebut. Rumah tua yang cukup kecil, tanpa ada kamar. Ada ruang belakang yang difungsikan sebagai dapur, karena tungku tempat memasaknya terlihat dari tempat chuan duduk.