
Campurkan energi dari pil dengan qi yang mereka miliki. Lalu alirkan keseluruh tubuh. Selesai melakukannya lalu ubah energi itu menjadi qi murni.
Banyak yang chuan sampaikan pada tetua dan seorang muridnya.
"maaf yang jelek dan rendah ini terlalu banyak bicara" ucap chuan mengakhiri penjelasannya.
"jangan kau terlalu sungkan, aku akan melakukan seperti yang kau jelaskan" ucap tetua shusin.
Mengambil satu pil dan menelannya, kemudian bergegas kekamar tamu. Seorang muridnya yang bersama chuan hanya diam seribu kata.
Tetua shusin yang sedang berkultivasi merasa lonjakan energi yang besar. Keanehan energi yang terkandung didalam pil tersebut membuatnya penasaran.
"pil inti api yang berbeda" batinnya.
Energi pil inti api yang pernah tetua minum reaksinya tidak seperti ini. Energi api seakan membalut energi halus yang lebih besar.
Teringat ucapan chuan, dia mengabaikan rasa penasarannya. Qi yang didentiannya dialirkan untuk mengarahkan energi tersebut keseluruh tubuhnya. Dengan menahan rasa panas yang tercipta tetua shusin berusaha memadukan qi nya dengan energi tersebut.
Perlahan lahan keduanya mulai berpadu. Qi murni yang disisipkan chuan didalam pil tanpa disadari langsung bersatu dan membuat qi tetua shusin berubah.
__ADS_1
"qi ku menjadi lebih baik dari sebelumnya" batin tetua shusin penasaran.
Dia tidak mau kehilangan focusnya dalam berkultivasi. Keringat tetap keluar saat dibeberapa titik ada kemacetan rasa sakit tercipta karena aliran energi qi nya terus menekan.
Tanpa menghiraukan rasa sakit yang tercipta, semakin focus dan hati hati memaksakan aliran tersebut. Dua jam berlalu tanpa disadari, semua aliran qi nya telah lancar.
Sekarang tetua shusin mengalirkan kembali qi menuju dentiannya. Qi yang terkumpul memenuhi dentiannya. "bumm" letupan kecil tercipta. Energi qi yang menyebar segera diputar lagi keseluruh tubuhnya.
"akhirnya aku naik tingkat enam" batin tetua shusin. Saat dentian baru tercipta segera energi yang berputar dialirkan kembali. Semua qi yang terkumpul sekarang mengisi separuh dari dentiannya.
Setelah menyelesaikan kultivasinya tetua shusin segera menuju kamar mandi dikamar tersebut.
Suasana chuan dan murid tetua shusin sudah mencair. Pintu kamar tamu tiba tiba terbuka, tetua shusin muncul dengan senyum diwajahnya.
"terimakasih chuan" ucap tetua shusin sedikit membungkukkan badan.
Muridnya tertegun melihat tingkah gurunya.
"guru" ucapnya keheranan.
__ADS_1
"sekarang lakukan seperti apa yang chuan jelaskan tadi" ucap tetua shusin sambil menyerahkan satu pil dari chuan.
Setelah muridnya pergi, tetua shusin duduk disamping chuan. Berbagai pertanyaan ditanyakannya pada chuan. Dengan santai chuan menanggapinya.
Saat bertanya tentang tahapannya chuan selalu mengelaknya dengan halus. Suara riang anak anak terdengar memasuki penginapan.
Kehadiran anak anak menyelamatkan chuan dari desakan pertanyaan pertanyaan tetua shusin. Dua murid yang baru datang diberinya bimbingan seperti yang baru dilakukannya. Setelah menerima pil, keduanya masuk kamar tamu.
Chuan dengan santai mendengar cerita anak anak yang sedang bersuka ria. Saat yanyan dan cao datang chuan meminta mereka menemani anak anak. Sedang chuan berangkat kekamarnya untuk membersihkan diri.
Tak terasa malam mulai datang. Ketiga murid tetua shusin telah selesai berkultivasi. Wajah mereka terlihat lebih cerah dan halus dari sebelumnya. Tetua shusin begitu asyik ngobrol dengan ketiganya.
Meja makan sedang disiapkan. Nenek dan bibi fei tak canggung membantu para pelayan penginapan. Setelah siap, semua yang ada dipenginapan dipanggil dan mulailah mereka menempati kursi yang telah disediakan.
Mulailah semuanya menikmati hidangan yang tersedia. Seperti sebelumnya chuan mengundurkan diri untuk beristirahat. Dan mulai tidur, namun kali ini pintu kamar dibiarkannya terbuka.
Yanyan dan cao memberitahu pada anak anak kalau jangan ganggu chuan yang sedang tidur. Sebab kalau mereka tidur ganti chuan yang menjaga mereka. Anak anak mengerti apa yang disampaikan yanyan.
Malam ini tetua shusin yang memberi bimbingan pada anak anak. Seperti yang biasa nenek hong lakukan. Semuanya dengan antusias mendengarkannya. Tak terasa waktu bagi anak anak untuk tidur telah tiba.
__ADS_1