
"chuan" ucap Tetua Tian mengejutkan semua yang sedang berlatih.
"kak Chuannnn" teriak anak anak lalu berhamburan kearahnya.
Sempat berdiri dan melangkah sedikit, diapun terjatuh lagi ditindih Nenie dan teman temannya. Kerinduan dan kehangatan hati mereka tertumpahkan.
"whahaha, kalian sudah semakin kuat" tawa renyah Chuan terdengar. Satu persatu anak anak itu bangun, setelah melepas kangen padanya.
"selamat tetua" ucap Chuan setelah dia berdiri. "terimakasih" balas Tetua Tian sambil senyum.
"ayo pulang" ucap Chuan disambut sorak sorai anak anak.
"suitt" siulan beberapa anak terdengar. Empat puluh ekor kuda berkumpul, masing masing anak sudah menentukan pilihannya.
Hanya kuda chuan tetap asyik direrumputan.
"suiittt" siulan chuan menggema, membuat kuda itu menghampirinya. Chuan lalu naik dipunggung kudanya. Sedikit qi dialirkan sambil memegang kepala kudanya.
Barisan anak anak dari yang terkecil sampai yang besar, begitu rapi penataannya. Seakan barisan yang telah terlatih. Padahal dalam pikiran mereka, hanya tentang bagaimana menjaga saudara saudaranya.
Chuan lalu mendekati nenek dan Bibi Fei. Mereka bercakap cakap santai, Chuan juga menggoda kedekatan Nenek Hong degan Tetua Lifan. Sedikit tersipu malah menjadi bahan usilan mulut Chuan.
__ADS_1
Bibi Fei tak ketinggalan pula untuk menggodanya.
"masa sudah tua masih malu malu tapi mau" ucap bibi fei disambut gelak tawa chuan.
"whahahaha" tawa chuan terus pecah, meskipun nenek hong memacu cepat kudanya.
Sampai dirumah semuanya telah sigap dalam beraktifitas. Chuan, dua tetua dan tiga murid tetua asyik berbincang diruang depan.
Tiba tiba Tetua Gun datang bersama dua muridnya. "bagaimana tetua" tanya Chuan. Setelah duduk dia lalu bercerita. Dua minggu walikota sudah sehat seperti semula, dan mulai melakukan penyelidikan dibantu Tetua Zhao.
Ternyata paman dari istri keduanya yang mengatur semua itu. Tadi pagi sudah dihukum dengan dihancurkan dentiannya. Beberapa orang yang juga terkait saat ini mulai menjalani hukuman.
Ada titipan salam dari Tetua Zhao untuk Chuan. Juga undangan walikota untuk kita semua, bahkan tentang anak anak yang diceritakan Tetua Gun pada walikota juga ikut diundang.
"iya chuan, kalau begitu sekarang saja sebelum gelap" ucap Tetua Lifan.
"silahkan tetua" balas Chuan.
Tetua Lifan lalu mengajak yang lain megumpulkan anak anak, tak lupa nenek dan Bibi Fei. Raut wajah mereka menunjukkan kebahagiaan, saat Tetua Lifan menjelaskan kenapa semua dikumpulkan.
Atas desakan anak anak, Chuan akhirnya bergabung juga dengan rombongan itu. Walau cukup menarik perhatian, namun mereka semua seakan cuek. Asyik dengan canda tawa diantara mereka.
__ADS_1
Chuan membebaskan pilihan mereka, dia juga memilih pakaian hitam tapi dengan kain sedikit halus dari miliknya. Pemilik toko juga terlihat akrab dengan Nenek Hong, sebab sudah beberapa kali mereka bertemu.
"mana pilihanmu, nek" tanya Chuan.
"ini" jawab nenek sambil menunjukan baju diatas meja. "dia yang bernama Chuan, pemuda yang aku ceritakan itu" lanjutnya memperkenalkan Chuan.
"namaku Xusei, pemilik toko ini" ucapnya memperkenalkan diri.
"senang berkenalan dengan bibi" ucap Chuan.
"sama sama aku juga lebih bangga, bisa berkenalan pemuda baik sepertimu" balasnya.
"hehehe, biasa aja bi" ucap Chuan.
Percakapan ringan terjadi pada ketiganya. Chuan juga minta Xusei untuk datang dua hari lagi kerumah mereka. Dia minta dibuatkan baju seragam untuk anak anak. Atasan biru dan abu abu, sedang bawahan celana hitam. Untuk para orang tua hitam semua dengan kain yang bagus.
Lalu lalang anak anak terlihat sopan saat meletakkan pilihannya, membuat ketiganya tidak merasa terganggu. Mereka berfikir kalau keriganya lagi bicara serius.
Setelah selesai menghitung biayanya pesanannya Chuan lalu membayarnya. Xusei juga berjanji akan mengajak penjahitnya berkunjung dua hari lagi.
"untuk yang dibeli malam ini, Nenek Hong yang membayar" ucap Chuan dan pamit menunggu diluar. Kedua orang itu hanya tersenyum, melihat dia pergi.
__ADS_1
Malam sudah mulai larut, sesampainya dirumah semua anak langsung tidur dengan hati senang. Chuan dan para orang tua sedang asyik dan tenggelam dalam meditasinya.
Mentari pagi hangat menyapa. Semuanya berkumpul sebentar untuk memberi pengarahan pada anak anak. Terutama tentang cara mereka menjaga sikap saat ditempat pejamuan. Setelah itu semuanya, dengan ceria mempersiapkan diri masing masing.