
Dengan santai, ketiganya tak menghiraukan celotehan pengunjung tersebut. Chuan hanya berfikir lebih baik menghindari masalah yang tercipta. karena tak mau penyamarannya tebuka.
Tak menunggu lama dua pelayan datang membawakan pesanan kami.
"ada lagi yang kami lakukan" ucap pelayan setelah menata semua hidangan.
"adakah kamar dilantai bawah" ucap chuan.
"ada tuan, sehari lima koin perak" jawab pelayan.
"tolong siapkan untuk dua hari, dan koinnya tadi apa kurang" ucap chuan.
"baik, serta koinnya masih sisa untuk itu" jawab pelayan. "oooh, sisanya buat kalian saja" ucap chuan.
"terima kasih, silahkan dinikmati" ucapnya lalu pergi meninggalkan ketiganya
"habiskan saja nek, kalau kurang nanti tak pesankan lagi" ucap chuan melihat nenek hong yang sedang memotong paha ayam.
"gak usah dipotong, diambil semua juga gak apa apa" kata chu fan menimpali.
"huhhh, kalian nikmati saja tuh milik sendiri" jawab nenek hong.
"hehehe" keduanya kompak tertawa kecil.
Candaan ringan terdengar dimeja kami. Beruntung pengunjung lain tak meneruskan ejekannya. Terlihat mereka beranjak pergi disaat kami lagi asyik makan.
Sambil asyik menikmati arak, chu fan menjelaskan keadaan kota kingsan. Dua puluh kilometer lagi terdapat kediaman walikota yang sekaligus tuan besar dari klan chu.
__ADS_1
Didepannya ada bangunan besar, disanalah sekte utama klan berada. Dari depan nampak seperti rumah, sedang dibelakang berjejer bangunan yang memanjang tempat para murid sekte.
Sedang sekte pasir putih sekitar satu kilometer saja dari tempat ini. Mereka tinggal dibelakang gedung sebuah serikat dagang. Sebenarnya yang melindungi sekte itu bukan klan chu, tapi serikat dagang tersebut.
"hahhh" terdengar suara terkejut dipikiran chuan.
"ohhh" chuanpun terkejut mendengar penuturan itu.
"apa nama serikat dagang itu" tanya chuan penasaran. "bintang perak" jawab chu fan.
"haahhh" guman chuan yang tak menyangka bertemu cabangnya secepat ini.
Saat asyik bercakap cakap, seorang pelayan datang.
"kamarnya sudah siap tuan" ucapnya.
Ketiganya mengikuti pelayan tersebut turun kelantai dasar dan menuju kamar yang mereka sewa. Saat tiba didepan kamar dan sedikit basa basi dengan pelayan ketiganya masuk.
"karena sudah tahu tempat kalian, maka aku kebintang perak dulu minta ijin apa bisa menemui guru" ucap chu fan.
"tunggu, aku ikut kebintang perak" ucap chuan.
"nek aku pergi dulu" lanjut chuan.
"hati hati kalian" jawab nenek hong.
"iya, dan nenek mandi yang bersih biar cantik" goda chuan sambil berlalu keluar kamar bersama chu fan.
__ADS_1
Terlihat ramai lalu lalang warga saat keduanya asyik menusuri jalan. Banyak kios dan kedai berjajar disepanjang jalan. Beberapa gang kecil bersembunyi diantara bangunan.
Sampailah keduanya disebuah bangunan dua lantai yang megah. Serikat dagang bintang perak, tertulis didindingnya. Dua penjaga terlihat, mengawasi orang orang yang keluar masuk tempat tersebut. Saat keduanya masuk, pengawasan penjaga lebih tertuju pada chuan.
"lihat lihatlah, aku akan memberikan surat dari tetua zhao" ucap chu fan lalu menuju meja pelayan. Chuan lebih asyik melihat lihat barang yang dipajang didinding.
Berbagai senjata, ramuan obat obatan, serta beberapa kitab tingkat awal. Sekilas saja dia melihat karena tak ada yang menarik untuknya.
Segera dia menghampiri chu fan yang lagi menunggu didepan meja.
"bagaimana" tanya chuan.
"nunggu dulu" katanya.
Seorang pelayan mendekati mereka lalu berkata
"bisa bertemu tapi besok pagi" ucap pelayan itu.
"baiklah, terima kasih" ucap chu fan lalu mengajak chuan keluar.
"maaf, aku melapor dulu kesekte, besok ketemu lagi" ucap chu fan.
"terima kasih dan hati hati" jawab chuan.
Keduanya lalu berpisah jalan. Chu fan kembali kesektenya sedang chuan melangkah santai menyusuri jalan. Sebuah kedai minum dimasukinya. Asyik menikmati arak, chuan mencuri dengar keadaan kota kingsan.
Walikota yang berusia lebih dua ratus tahun, mulai sakit sakitan. Padahal dia seorang pendekar tahap bumi. Untuk tahap tersebut dia bisa berusia sampai lima ratus tahun.
__ADS_1
Sedangkan dua anak laki lakinya mulai berebut dukungan untuk menggantikan posisi ayahnya. Pengaruh penatua klan dan tetua sekte utama menjadi incaran keduanya.