
Dua kuda berlari kembali menuju kingsan.
"usahakan memancing dua pendekar bumi satu persatu" "baik guru" jawab Chuan lalu melesat dan melintas dekat rumah yang ditempati orang orang itu.
Chuan melepas tahapannya sampai pendekar bumi. Dia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sampai luar batas desa dia semakin pelan.
"berhenti" teriak seseorang dibelakangnya.
"ada apa tuan menghentikan aku" tanya Chuan sambil berhenti dan membalikkan badan.
"siapa kamu"
"aku hanya pengelana yang sedang melintasi desa ini" "jangan macam macam denganku, jawab yang jelas kalau ditanya" ucapnya dengan marah.
"hiaattt" dengan menari diatas samudra dan totokannya dia langsung menyerang. Karena kemarahannya, orang tersebut terkejut atas serangan Chuan.
Namun refleknya sebagai pendekar tua memang bagus. Dia juga mulai mengimbangi serangan Chuan. Semakin sengit pertarungan keduanya. Chuan juga semakin besar mengeluarkan energinya. Lesatan serangannya kini juga lebih cepat dari lawannya.
"deest" chuan beradu serangan. Raut wajah terkejut sempat terlintas diwajah pendekar tua. Dia merasa tenaga Chuan melebihi yang dikeluarkannya. Membuatnya sedikit sedikit goyah.
Tak mau setengah hati dia mulai mengeluarkan serangan serangan yang lebih kejam. Dengan hati hati, Chuan juga semakin serius untuk mendaratkan serangan serangannya yang disertai totokan.
"dest, ahh" sebuah totokan yang mengambil sedikit kelengahan musuh, tepat mengunci jalan darahnya, setelah lebih seratus jurus berlalu.
"kenapa tuan mengikutiku" tanya Chuan.
"sialan kamu yang memata matai kami" jawabnya.
__ADS_1
"siapa tuan sebenarnya" tanya chuan.
"tetua satu sekte lembah maut, cepat lepaskan atau kamu mencari mati berurusan denganku" teriaknya.
"whahaha, kenapa tetua terhormat, bergaul dengan para pemuda bejat" pancing Chuan.
"bang*** kau, mereka murid tetua dua dan tiga dari sekte utama" ucapnya.
"aku tahu urusanmu, tapi sayang kau salah mencari musuh" ucap Chuan.
"siapa kau"
"mereka yang akan kalian incar, adalah orang orang yang aku sayangi dan lindungi" ucap Chuan lalu melepaskan pukulan disertai ilmu naga api.
Tanpa bisa berkutik karena tertotok, orang itu langsung roboh dan mati. Api biru mulai membesar ditangan Chuan, dan dilepaskan pada mayat itu. Karena panasnya melebihi api pada umumnya, maka dalam waktu tak lama menyisakan beberapa tulang yang tak sempat terbakar.
"chuan"
"tak seperti biasanya"
"maksudnya"
"kenapa tak kau ambil hartanya"
"hehehe maaf, aku terlalu emosi saat mengingat anak anak yang diincarnya, lagian cincin dimensi tak semudah itu untuk terbakar"
"jangan terbawa emosi" ucap patriak lion memberi arahan.
__ADS_1
Meskipun menghancurkan dentian lebih menyakitkan namun bisa memberi kesempatan untuk berbuat baik. Kalau akhirnya dia bunuh diri setidaknya bukan tanganmu yang menghabisi.
Banyak yang disampaikannya pada chuan, bahkan dia disuruh untuk mengorek abu sisa pembakaran untuk membersihkan sisa identitasnya yang tidak terbakar.
Sebuah cincin ditemukan Chuan, dan setelah menguburkan tulang yang tersisa dia langsung kembali kepenginapan.
Malam mulai berganti, sang fajar masih enggan menampakkan ronanya. Chuan bergegas keluar penginapan, bahkan sarapan pagi yang disiapkan terpaksa ditolaknya.
Siang ditempat latihan kini berubah sepi, anak anak disibukkan untuk berkultivasi dihalaman rumah. Saat ini Chuan telah sampai ditempat latihan. Dia termangu sendiri ditempat itu.
Empat cincin dimensi dikosongkan olehnya. Setelah itu dia hanya merenung, tempat yang beberapa bulan ini memberinya banyak kenangan. Sebentar lagi akan ditinggalkannya.
"suiittt" tak mau terlalu larut dengan kenangan, diapun memanggil kudanya. Kuda muda yang semakin gagah mendekatinya.
Sambil mengelus kudanya, Chuan memberi makan tiga apel dan tujuh anggur darah kesukaan kudanya. Karena qi murni yang dimasukkan, membuat kuda terdiam sebentar karena merasakan energi yang mengalir ditubuhnya.
Setelah kudanya kembali normal, chuan melompat kepunggung kuda dan memacu pelan menuju rumahnya.
"kak Chuan sudah pulaaang" teriak beberapa anak terdengar. Semua anak terlihat berkumpul dihalaman. Para tetua dan yang lain juga terlihat keluar rumah.
"kak Chuan, Xixie apa boleh bertanya" ucap Xixie.
"boleh, ada apa" tanya Chuan penasaran.
"kata Tetua Tian, kami sekarang disuruh memanggil kak Chuan menjadi Tetua Chuan" ucapnya polos.
"whahaha" tawa Chuan pecah.
__ADS_1
"kog tertawa" ucap Ninie yang juga menunggu jawaban Chuan. Sedangkan teman temannya yang lain hanya bengong melihat Chuan tertawa.
"mungkin Tetua Tian baru bangun tidur dan dia bermimpi, jadi ngomong begitu" canda Chuan seenaknya. Dia lalu menambahkan, kalau mereka tetap memanggil kak chuan, tetap seperti biasanya.