
Lumonk masih menunjukkan pertahanannya yang solid. Meskipun sama ditahap menengah tapi dia kalah dua tingkat dari lawannya.
Latihan fisik dan tingkat penguasaan jurus Lumonk lebih baik dari lawannya. Sambil bertahan dan sesekali menyerang, dia berusaha menguras stamina lawannya.
Para pengunjung tertegun dengan semangat yang Lumonk tunjukkan. Para tetua sekte utama yang lain juga menunjukkan wajah kagumnya. Murid murid sekte yang sebelumnya terlihat merendahkan mereka, saat ini hanya terdiam.
Keringat sudah membasahi pakaian keduanya.
"hiaatttt" teriak Lumonk lalu menyerangnya dengan serius. Serangannya yang berubah membuat lawan yang mulai kelelahan menjadi terkejut. Sabetan pedang kayunya mulai menimbulkan beberapa luka ringan pada lawannya.
"aku menyerah" ucapnya setelah bertahan sesaat. Nafas naik turun tidak teratur dan wajah terlihat pucat karena kelelahan. Dia menyadari, kalau luka dan kelelahan yang dideritanya akan menghasilkan kekalahan yang lebih memalukan.
"terimakasih, atas kemurahan hatimu dan tidak membuatku menangis" ucap Lumonk sambil sedikit membungkukan badan.
"bagus bagus"
"hahaha" teriakan penonton mendengarkan Lumonk mengembalikan ejekan yang diterima sebelumnya.
Raut muka tetua tiga merah padam karena marah. Terlihat ada kemarahan dan rasa malu. Keinginan untuk menonjolkan muridnya ternyata berbalik menohok mukanya sendiri.
Melihat situasi yang terjadi, dan untuk menghindari hal hal yang tak diinginkan. Tetua Tian, Lifan dan Gun melompat keatas panggung. Ketiganya melepas tahapan pendekar bumi.
Semua yang berada ditempat itu diam dan tertegun melihatnya. Bahkan para tetua sekte dan penatua klan menunjukkan wajah takjubnya.
"maaf untuk semuanya, kami mewakili tetua Chuan dan rombongan pamit undur diri, adapun kurang sopannya kami dan anak anak, mohon untuk dimaafkan. terimakasih" ucap Tetua Tian disusul ketiganya membungkukkan badan.
Ketiganya lalu melompat ketempat semula. Chuan kemudian melangkah pergi bersama rombongannya. Mereka meninggalkan tempat pejamuan tersebut.
__ADS_1
Sebagian besar tamu juga mengikuti mereka. Selain tetua tiga dan muridnya yang tetap terpaku ditempat semula. Para tetua lain turut kedepan untuk melepas rombongan Chuan.
"suiittt" siulan Chuan terdengar keras. Kuda kuda mereka berlarian mendekat. Para petugas keamanan berjajar rapi dan terlihat kagum dan segan pada rombongan chuan.
Dengan sigap semuanya melompat kekuda masing masing. Mereka lalu memacu pelan keluar gerbang kediaman walikota.
"anak anak yang hebat"
"santun dan tidak sombong"
"tetap tenang walau dihina"
"selalu diam meski direndahkan" banyak kata pujian keluar dari orang orang yang melepas kepergian mereka.
Pandangan para tetua, penatua dan tamu berubah seketika. Mereka yang dipandang rendah adalah orang orang yang lebih bisa sombong dari dirinya.
"tetua kenal dengannya" sapa tetua satu mendengar Tetua Zhao mengguman.
"sedikit tetua" jawabnya.
"tamparan untuk kesombongan kita" ucap tetua satu, sambil tersenyum.
"bisa mengantarku mengunjungi mereka" lanjit tetua satu. "akupun ada rencana mengajak murid murid ketempatnya" balas Tetua Zhao.
"jangan lupa kabari aku" ucap tetua satu.
"baik tetua" jawabnya singkat.
__ADS_1
Kemudian keduanya berkumpul dengan para tamu.
Sesampai dirumah, Chuan mengumpulkan semuanya diruang depan. Dia menyampaikan jika beberapa bulan lagi akan pindah dari rumah yang sekarang. Dia juga menyampaikan kalau tempat yang diberikan walikota adalah hutan yang tidak ada penduduknya.
Tangis anak anak terdengar saat Chuan menyampaikan akan meninggalkan tempat mereka.
"aku ikut kak Chuan" kata beberapa anak terdengar.
"tolong dengarkan dulu" jelas Chuan.
Jika Bibi Fei memperbolehkan maka siapapun boleh ikut. Tempat yang baru bukan perkotaan yang ramai, tapi hutan yang sepi. Tak ada fasilitas apapun yang nyaman untuk mereka.
Untuk Tetua Tian dan yang lain, Chuan juga membebaskan pilihan masing masing. Nenek dan Bibi Fei juga boleh menentukan pilihannya. Panjang lebar chuan menjelaskan semuanya.
Namun saat ini hanya yang sulit dan tidak enaknya saja yang disampaikan. Bahkan terkadang sedikit menakut nakuti anak anak.
"baiklah, semuanya bisa berpikir sebelum mengambil keputusan, saat ini aku keluar dulu" ucap Chuan menyudahi penjelasannya. Setelah Chuan pergi, tak satupun dari mereka beranjak dari ruang tersebut.
Nenek Hong, para tetua dan muridnya telah bulat ingin mengikuti Chuan. Selain hutang budi, mereka telah bersumpah untuk selalu menemani pemuda itu.
Anak anak sedang dilema, satu sisi Chuan dan sisi lain Bibi Fei.
"kalian tak perlu cemas, bibi juga akan ikut kalian bersama Chuan" jelasnya. Sebenarnya rumah yang mereka tinggali adalah milik bibi fei tapi tanah milik klan chu.
Beberapa kali dia mengurus haknya. Namun beberapa pengurus di klan chu mempersulitnya. Biarlah siapapun nanti yang menempatinya, Bibi Fei tak mempermasalahkannya.
# ,,, TERIMA KASIH ATAS SEMUA DOA°NYA,,,
__ADS_1
Semoga Rahmat Kesehatan dan Kebahagian Dilimpahkan-NYA untuk anda semua ,,, Amin Yaa Robb.