Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Menyelamatkan Keluarga Bangsawan


__ADS_3

Malam semakin pekat, sedikit cahaya bintang. Menghadirkan seramnya malam. Mulai memasuki hutan,  aku alirkan tenaga dalam dimataku. Seperti saat masih menyelam dilaut dulu, suasana redup menjadi sedikit terang.


Meski sedikit cahaya akan terlihat jelas. Masih melompat dari pucuk pohon ke pucuk yang lain, didepan terlihat asap tipis menari.


"ada orang ditengah hutan" batinku sambil terus mendekat.


Setelah dekat lalu turun dan berhenti didahan pohon yang rindang. Dari tempatku terlihat belasan orang melingkari api unggun. Bercanda dan tertawa, seakan sedang merayakan suatu.


Setiap orang terlihat memegang seguci arak tergenggam ditangannya. Dua orang didekat api unggun asyik membakar buruannya.


Dengan merapal ilmu bayangan naga aku mendekati mereka. Dengan duduk santai diatas pohon jelas terdengar obralan mereka.


"bagaimana bangsawan yang kita rampok tadi siang"


"aman boss, empat orang menjaga markas".


Ternyata gerombolan perampok yang sedang pesta keberhasilannya. Keluarga bangsawan yang dikawal sepuluh pendekar mahir dapat mereka tawan. Lima pengawal meninggal, sedang lima lainnya menyerah setelah disergap gerombolan ini dengan panah beracun saat melintasi tepi hutan.


Lama mereka bersuka ria ditempat ini. Daging buruan yang dibakar sudah pindah kedalam perut mereka. Empat orang beranjak menjauh menuju kearah pohon rimbun.


"Selamat menikmati boss"


"istri bangsawan itu masih menarik"


"hahaha"


"apalagi anak gadisnya"


"whahaha" celoteh anggota perampok diiringi tawa temannya.


Sambil terhuyung karena mabuk, mulut mereka semakin nyerocos kesana kemari. Setelah keempat perampok menghilang dirimbunnya pohon, segera aku melesat menotok gerombolan yang tersisa satu persatu.


Empat belas perampok roboh tertotok, kemudian melesat hati hati menuju arah menghilangnya empat orang tadi. Melewati beberapa pohon besar terlihat sebuah rumah kayu, empat orang duduk menjaga didepan rumah, dihadapannya terdapat guci arak.


Empat jarum melesat tepat dititik pingsan mereka. Tanpa membuang waktu lalu melesat diatas atap rumah itu, terlihat lima pengawal terikat dengan wajah pucat keracunan. Seorang paruh baya dan dua wanita terikat pula disudut lain, empat perampok berdiri didepan mereka bertiga.


"besok bersama anak buahku ambil harta untuk menebus istri dan anakmu"


"ayah jangan turuti mereka"


"hahaha, ayahmu sudah terkena racun dan hanya kami yang punya penawarnya"


"hahaha".


Cukup lama mendengar mereka, dan ternyata saudagar hulian yang kami selamatkan kemarin juga terkena panah racun mereka. Dia dapat melarikan diri dibantu seorang pengawal sedang pengawal yang lain dibantai para perampok. Pengawal saudagar meninggal didekat perbatasan, sedang saudagar hulian diselamatkan para prajurit jaga yang melihatnya.

__ADS_1


Tanpa ilmu bayangan naga mulai merapal ilmu menari diatas samudra, dengan menjebol atap akupun turun.


"*******, kau cari ****** ya" geram perampok brewok "muka hitam, kalau mau ****** aku saja yang layani" teriak satunya dan langsung menyerangku dengan pedangnya.


"hiat" serangannya cepat seakan ingin langsung membunuhku, belum sepuluh jurus tapak yang aku aliri tenaga dalam tepat mengenai dadanya, membuatnya terpental dan pingsan didekat para pengawal yang terikat.


"hiatttt" teriak ketiga perampok bersamaan menyerangku. Gerakan ketiganya lebih lincah dari yang tadi, lima puluh jurus telah berlalu, aku hanya bisa mengimbanginya.


Masih dalam pertarungan aku keluarkan tongkat hitam dari cincinku, "krakk, jlebb" terdengar suara leher seorang perampok patah dan tongkatku menancap didada permpok yang lain.


Ternyata keterkejutan mereka melihatku mengeluarkan tongkat membuatnya sedikit lengah.


"muka hitam, kalau kau mendekat aku bunuh gadis ini" ancamnya sambil mengalungkan pedang dileher anak gadis bangsawan itu.


"mau bunuh dia apa urusannya denganku" ucapku datar "tuan pendekar, selamatkan anak kami" ratap ibunya menangis.


"siapa kau, berani menyatroni kami" teriak si brewok "hahaha, kau memanggilku muka hitam, tuan itu memanggil pendekar, tak salah namaku pendekar hitam" ucapku


"kalau cuma ingin harta ambil harta didekat pengawal itu lalu tinggalkan markasku" teriaknya


"bagus, bagus, whahaha" tawaku konyol, masih dalam kewaspadaan aku melangkah menuju sebuah peti.


"achh" suara wanita terkejut, terasa ada gerakan cepat kearahku. Dan ayunkan tongkat menangkis serangan pedangnya


"membelah samudra, hiattt" semakin cepat perubahan jurusku.


"ayahhh" terdengar suara tangis kedua wanita tersebut. Berpelukan merasa lepas dari maut.


Setelah melepas semua yang terikat, aku geledah pakaian brewok dan ketiga temannya. Terdapat tujuh kantong koin, dan satu kantong berisi sebotol cairan dan sebotol pil penawar racun.


"telan masing masing dua pil" ucapku sambil memberikan botol pil pada istri bangsawan, lama mereka terdiam. Aku mengambil arak diatas meja, lalu asyik menikmati arak sambil menunggu mereka menyerap kasiat pil penawar racun.


"terima kasih tuan pendekar namaku ghu simu, mereka istri, anak dan pengawalku" kata guman ghu


"terima kasih tuan" ucap yang lain padaku


"panggil aku pendekar hitam saja, apa peti itu hartamu" ucapku sambil menunjuk dua peti yang tergeletak.


"benar tapi tuan bisa mengambilnya" jawabnya


"tak perlu, bisakah kalian membawanya"


"disalah satu peti ada dia kembang api, kalau kami nyalakan nanti ada bantuan prajurit yang datang"


"baik, ambillah ini" lalu mengeluarkan cincin dimensi pada tuan ghu

__ADS_1


"ini cincin penyimpanan" katanya terkejut


"iya tahu penggunaannya"


"bisa tuan"


"simpan petimu dicincin tapi sebelumnya ambil dua kembang api untuk memanggil bantuan".


Setelah memasukkan peti lalu mengumpulkan perampok yang mati ditengah ruangan tersebut. Satu perampok yang pingsan didekat pengawal ternyata juga tewas oleh seorang pengawal.


Kantong para perampok diserahkan padaku oleh mereka dan aku masukkan dicincin dimensi. Selesai menggeledah rumah kami semua keluar, terlihat keempat penjaga masih pingsan.


"ikat para perampok yang pingsan, dan disana masih ada belasan yang sudah aku totok" ucapku pada para pengawal sambil mencabut jarum perakku.


"baik tuan" jawab mereka


"kalau tidak terpaksa jangan dibunuh mereka juga manusia" baiklah tuan.


"tolong agak menjauh, rumah ini akan aku bakar" ucapku,


Merekapun menjauh terlihat pula pengawal yang menyeret empat perampok yang masih pingsan, aku keluarkan ilmu naga api, dari kedua telapak tanganku terlihat api biru menyala, "bumm" terdengar ledakan saat api terarah kedinding kayu, nyala api semakin membesar melahap markas perampok.


"dups" terdengar letupan kembang api melesat keudara, "duarrr" terdengar ledakan diangkasa disertai cahaya kembang api yang menyilaukan.


Tak selang berapa lama terlihat kembang api dari tempat lain


"itu balasan mereka, nyalakan satunya agar mereka tahu posisi kita" kata tuan ghu.


"sebentar lagi bantuan kalian datang, aku permisi" ucapku "ikutlah kami tuan"


"maaf aku tidak bisa dan besok sampai dikota tolong datang ke serikat dagang bintang perak"


"apa yang harus kami lakukan"


"temui tuan chu, 'kerjasama lebih bernilai daripada hadiah' ucapkan kata itu padanya" ucapku


"baik tuan, aku berjanji untuk itu"


"selamat tinggal semua semoga kita bertemu lagi" teriakku dengan tenaga dalam karena setelah menitip pesan aku langsung melesat.


Bukan pergi jauh hanya bersembunyi di dahan paling tinggi sebuah pohon yang rindang. Terlihat orang tua dan anak berpelukan, isak tangis terdengar lirih, para pengawal yang terbengong sebentar waktu aku pergi sekarang terlihat siaga menjaga tuannya.


Terlihat dikejauhan pasukan berkuda membawa obor mengarah ketempat mereka. Komandan pasukan dan tuan ghu kelihatan kalau sudah akrab. "pendekar hitam yang menolong kami, dan melumpuhkan para perampok" terdengar tuan ghu mulai menjelaskan.


Setelah menyadarkan empat perampok yang terikat, kemudian menuju ketempat perampok lainnya. Selesai semuanya diikat lalu totokanku dilepaskan komandan prajurit yang aku lihat sudah tahap pendekar bumi.

__ADS_1


Para pengawal dan beberapa prajurit berjalan menggiring para perampok, komandan pasukan dan keluarga tuan ghu naik kuda dibelakangnya. "achhh saatnya tidur" gumanku sambil bersandar, tak lama berselang akupun terbawa kealam mimpi.


Sinar mentari hangat menyentuh, suara khas hewan hutan bersahutan bangunkanku. Bekas reruntuhan terlihat masih  api yang menyala dan asap hitam.


__ADS_2