
"kakek,,,," teriak Luosan saat menoleh ketika mrnyadari ada riak energi yang mendekatinya
"kau baik baik saja kan dan kenapa berada dilembah" tanya Rouyan.
hehehe baik kek, lagi menunggu mereka" ucap Luosan sambil menunjuk arah para lebah yang menunggu diluar gua
Cukup lama Rouyan mendengarkan Luosan berbagi cerita. Tentang kedatangan beberapa kepala desa. Tak lupa juga mengenai ancaman dari beberapa orang.
"salam tetua" ucap Lin Yu yang telah keluar bersama Lin Ling.
"apa yang kalian temukan" tanya Rouyan.
"sepertinya ada orang yang sengaja menyimpan harta digua tersebut" jelas Lin Yu.
Mulut gua bisa dilewati orang dewasa dengan merangkak. Tapi didalam gua terdapat ruangan yang luas. Diujungnya terdapat kolam kecil yang terus memancarkan gas beracun.
Bagi lebah hitam, gas beracun bermanfaat untuk peningkatan mereka. Beberapa lebah yang mencoba menyerap gas tersebut, tenaga mereka semakin meningkat.
"kalau boleh, kami akan pindah digua tersebut" ucap Lin Yu.
"kalian boleh tinggal disana, atur sendiri tempat tersebut" jawab Rouyan. Selain itu, kedua ratu harus memperkecil mulut gua dan membuat jalan rahasia yang lain. Sehingga keberadaan gua tersebut dapat terlindungi dari keserakahan pihak lain.
"terima kasih tetua, sebentar lagi kami akan mengeluarkan harta dalam gua tersebut" ucap Lin Ling bersemangat.
"ambil saja yang kalian perlukan" ucap Rouyan
"kami hanya memerlukan kristal yang menyala untuk penerangan didalam gua" jelas Lin Ling.
Ditengah gua ada kristal sebesar kepala manusia yang dletakkan diatas batu hitam. Karena gua tersebut berkelok kelok, maka cahaya yang muncul tidak terlihat dari luar. Ada sepuluhan kotak kecil berisi batu energi dan kantong penyimpanan seperti milik Luosan.
"itu mungkin inti batu roh, kalian gunakan saja" jawab Rouyan. Sedang batu energi yang dimaksud juga batu roh. Keduanya diperbolehkan untuk menyimpannya. Sementara kantong penyimpanan diminta untuk dibawa keluar dulu. Nanti kalau ada yang diinginkan para lebah, mereka boleh mengambilnya.
"tapi Luosan yang menemukannya" ucap Lin Yu bingung dengan pengaturan Rouyan.
"tak masalah, saat ini kami tidak kekurangan batu roh" jawab Rouyan.
"baiklah, kami bekerja dulu" ucap Lin Yu lalu terbang kearah gua bersama Lin Ling.
Suitan kecil panjang terdengar dari keduanya. Terlihat dua barisan panjang dari ratusan prajurit lebah memenuhi panggilan ratu mereka. Dibelakang menyusul para lebah pekerja juga menuju tempat tersebut.
Para prajurit lebah langsung masuk kedalam gua. Sedang para pekerja bergerombol didinding tebing pada beberapa titik yang berbeda. Beberapa batu kecil mulai berjatuhan dari titik berkumpulnya lebah pekerja.
__ADS_1
"giliran kita membuat lembah ini menjadi kebun bunga" ucap Rouyan
"baik kek" jawab Luosan bersemangat. Kesepiannya sebulan lebih kini hilang dengan pulangnya sang kakek. Dua orang dan sekumpulan lebah bekerja dengan aktifitas masing masing.
Hari pun berganti, Rouyan telah menyimpan puluhan kantong yang dijatuhkan para lebah. Saat ini dia dan cucunya terus memindahkan tanaman bunga. Sedang para lebah mulai menutup pintu gua.
Beberapa waktu berjalan, terus terlihat hilir mudik para lebah memindahkan sarang mereka. Ada juga yang membawa lebah muda yang belum bisa terbang.
Seminggu telah berlalu, Rouyan, Luosan dan dua ratu lebah berkumpul. Dua puluh lima kantong penyimpanan mulai diperiksa isinya. Ada banyak koin emas dan perak, senjata, beberapa kitab yang terlihat kuno.
Berbagai jenis bahan obat obatan, serta kristal binatang buas ada dibeberapa kantong. Puluhan token emas bergambar gunung dengan ukiran pagoda ditengahnya. Serta ratusan token perak dengan pola yang sama.
Setelah kedua ratu lebah tidak berminat dengan iainya, Rouyan dan Luosan memasukkan kembali kekantong penyimpanan. Keduanya memasukkan tiap jenis barang dalam beberapa kantong.
Terdapat satu kantong yang unik, berisi banyak pakaian hitam dengan kain yang halus. Serta sebuah cincin penyimpanan yang diikat dengan akar pohon.
Luosan diminta untuk meneteskan darahnya pada cincin tersebut. Kemudian mengeluarkan seluruh isinya. Ada tiga tungku hitam berpola naga. Juga beberapa hewan buas yang terawetkan. Seakan mereka baru saja dibunuh.
"hahahaha,,,, tungku ini, Kak Chuan pasti suka" teriak Luosan. Rouyan hanya tersenyum mendengar ucapan cucunya yang bersemangat. Dari begitu banyak harta yang berharga, ternyata dia hanya berpikir apa yang pantas diberikan pada Chuan.
"tetua, dua ular itu apa boleh buat kami" tanya Lin Ling.
"ambillah yang kalian inginkan" jawab Rouyan sambil tersenyum.
"kalian bisa meminta tolong pada Chuan untuk menjadikannya eleksir" kata Rouyan.
"dia pasti mau untuk membantu kalian berdua" lanjut Rouyan.
"ohhh terima kasih" jawab Lin Yu kaget.
"adakah yang kalian inginkan" tanya Rouyan
"sepertinya tidak ada lagi" jawab Lin Yu.
"kalau tidak ada akan aku simpan dulu"
"silahkan tetua"
"kek, apa boleh minta satu untuk dimakan, aku sebulan ini hanya menelan pil dan madu saja" ucap Luosan.
"ambil satu untuk nanti malam" jawab Rouyan.
__ADS_1
"kalian nanti malam juga boleh ikut" lanjut Rouyan
"para prajurit yang suka, sedang yang lain belum terbiasa" ucap Lin Yu.
"iya, biasanya kami hanya makan madu" timpal Lin Ling.
"hehehe,,,, nanti kalian coba dulu" ucap Rouyan.
"bagaimana rumah baru kalian" tanya Rouyan.
"kami perlu sebulan lagi" jelas Lin Yu. Dalam sebulan, semua yang ada dirumah lama akan kosong. Keduanya juga meninggalkan sebagian madu didua rumah tersebut.
Sementara untuk rumah baru, saat ini mereka sedang membuat banyak jalan masuk. Dengan banyaknya jalan masuk, akan menyembunyikan keberadaan mereka.
Rouyan juga menimpali tentang jalan menuju pagoda agar dihindari oleh para lebah. Sedangkan prajurit mereka disuruh untuk selalu menyembunyikan keberadaan mereka. Tentang segala pengaturan diserahkan pada kedua ratu mereka.
Mereka berempat lalu membubarkan diri dan akan berkumpul saat malam hari.
***
Sekte hutan suci
Pagi yang cerah membawakan semangat pada keluarga besar sekte hutan suci dalam memulai aktifitasnya. Chuan terbangun dari meditasinya, saat merasakan panggilan Tetua Gun.
"hahaha,,, mudahkan tetua" ucap Chuan setelah Tetua Gun keluar dari giok dimensi.
"sial,, sekedar mempelajarinya perlu waktu hampir enam bulan dibilang mudah" balas Tetua Gun.
"tapi dialam nyata cuma perlu beberapa jam saja,,, hehehehe" elak Chuan.
"hahaha,,, satu jam disini sama dengan sebulan didalam giok dimensi" ucap Tetua Gun sambil tertawa
"jadi lama kau berkultivasi digiok dimensi sudah berapa tahun, hehehe" lanjutnya.
"lebih dari seratus tahun" jawab Chuan
"wah ternyata kau lebih tua dari pada aku" ejek Tetua Gun.
"sialll,,,, hahahaha" ucap Chuan sambil tertawa karena sadar telah diejek.
Keduanya sama sama tertawa karena berhasil saling membuli diantara mereka. lalu meneruskan dengan berbincang santai sampai hari mulai siang. Tetua Gun akhirnya undur diri untuk mulai menyempurnakan buah dewa.
__ADS_1
Waktu berlalu tanpa pernah melambat. Sudah lebih dari sepuluh hari semenjak Tetua Gun mulai menyempurnakan buah dewa.