
***
Sementara Chuan tenggelam dalam kultivasinya di sekte macan puti. Suasana di sekte hutan suci mulai ramai karena kunjungan para tetua dari sekte lain. Beberapa perwakilan sekte, ada yang membawa beberapa murid untuk latih tanding dengan murid sekte hutan suci.
Masih dilatih tanding dalam pelatihan fisik banyak wakil sekte merasa kewalahan. Mereka tertegun akan tangguhnya fisik para murid sekte huran suci. Meskipun menang dalam segi usia ternyata mereka harus mengakui kekuranggannya.
Para tetua mereka berusaha menemui Tetua Tian untuk mencari tahu metode yang mereka ajarkan. Tetua Tian menemui mereka dengan santai, bahkan meminta para sekte untuk mengirim anak anak dibawah sembilan tahun kalau ingin fisik mereka dibentuk disekte hutan suci.
Keputusan yang diambil Tetua Tian untuk merahasiakan metode yang dipakai sekte. Juga tidak mau keberadaan buah langka terekpos ke luar. Selain itu juga mengikat kerjasama dan meningkatkan prestise sekte hutan suci.
Ada dua sekte menengah yang bingung atas syarat umur yang ditentukan. Sedangkan mereka menerima dan membimbing murid baru setelah usia sepuluh tahun keatas.
Tetua Tian mengumumkan ada empat sekte menengah yang dapat bekerjasama dengan sekte hutan suci. Sedang untuk sekte kecil bisa masuk melalui seleksi tahunan sekte hutan suci.
Empat sekte menengah masing masing mengirim lima puluhan anak untuk dilatih fisik mereka. Bahkan setengah dari anak anak itu adalah anak dari para tetua atau wakil tetua sekte. Ada juga anak para bangsawan yang tertarik ketika sekte tersebut merekrut anak anak yang masih belia.
Kerjasama yang terjalin cukup menguntungkan untuk sekte hutan suci. Selain koin emas yang diterima sekte, juga ada tanaman obat yang diserahkan oleh keempat sekte tersebut.
Tetua Tian sebelumnya menyampaikan kalau sekte hutan suci tidak kekurangan sumberdaya pil untuk kultivasi. Dia malah senang kalau mereka membawa tanaman obat atau bahan pembuatan pil jenis apa saja.
***
Sementara di sekte macan putih, Chuan masih tenggelam dalam kultivasi tertutupnya. Didalam ruang kultivasi pribadi Tetua Shusin, dia masih dalam posisi meditasi.
Sebuah batu hitam berpola tergenggam ditangannya. Namun jiwanya sedang diruang jiwa bersama Patriak Lion.
Tehnik pedang kilat yang mengalir dari batu hitam kepikirannya, sudah dipelajarinya. Setelah pemahamannya akan tehnik pedang kilat sudah menyeluruh, kini dia berlatih gerakan gerakan tehnik tersebut diruang jiwa.
Patriak Lion tertegun melihat kedalaman tehnik yang Chuan peragakan. Saat pada puncaknya terlihat kekuatan petir tipis melintas dalam setiap gerakan tangan Chuan.
__ADS_1
"gerakanmu sudah sempurna sekarang, tinggal meningkatkan cara mengolah qi mu menjadi energi petir"
"terimakasih atas bimbingannya"
"itu keberuntunganmu, aku malah berpikir seakan tak pantas jadi gurumu"
"aku tetap berterimakasih, karena selama ini guru telah banyak membimbingku"
"sudahlah, keluar dulu sebab banyak yang mengkhawatirkanmu"
"baik guru" ucap Chuan, lalu menyudahi kultivasi tertutupnya. Dia bangun dari posisi meditasi dan melangkah keluar ruang kultivasi Tetua Shusin.
"apa yang kalian lakukan" ucap Chuan terkejut melihat empat murid inti Tetua Shusin berdiri didepan pintu.
"maaf Tetua Chuan, kami diperintah Tetua Shusin menjaga ruangan ini secara bergilir"
"lima bulan yang lalu Patriak Wang mengukuhkan Tetua Chuan sebagai Tetua Kehormatan, meskipun Tetua Chuan tidak hadir"
"apakah Tetua Shusin sedang bepergian"
"tidak, tetua sedang bersama patriak ditempat latihan" "baiklah, mari kita kesana"
"Tetua Chuan bisa menunggu diruang utama dulu, biar kami yang melapor" ucap murid Tetua Shusin, lalu terlihat dua murid berlari keluar rumah.
Dua murid lain menemani Chuan yang melangkah keruang utama rumah Tetua Shusin. Setelah Chuan duduk santai, kedua murid tersebut meninggalkannya. Dan kembali dengan beberapa hidangan dan arak ditangan mereka.
"silahkan tetua"
"terimakasih" balas Chuan, lalu mulai menikmati hidangan yang tersedia saat kedua murid tersebut meninggalkannya.
__ADS_1
"hahaha, selamat tetua" teriak Tetua Shusin saat melihat Chuan sedang menikmati arak.
"jangan mengolokku"
"salam Patriak Wang"
"kau..." teriak Patriak Wang terkejut saat memperhatikan Chuan.
"ada apa, ayah" tanya Patriak Muda Chen melihat ayahnya terkejut.
"whahaha ,,, pantas kau bisa membantuku, ternyata pendekar suci, bahkan melebihi tingkatanku" ucap Patriak Wang
"Chuan,,," ucap Patriak Muda Chen terkejut.
"hehehe" tawa pelan Chuan.
"apa Tetua Shusin sudah tahu" lanjutnya sambil memandang Tetua Shusin
"aku pun tahu saat pembersihan sekte beberapa bulan yang lalu" jawab Tetua Shusin
Patriak Wang mengucapkan terima kasih atas bantuan Chuan beberapa waktu yang lalu. Sebuah medali emas dan cincin dimensi diberikan pada Chuan. Tetua kehormatan terukir diatas lambang sekte macan putih dan juga terdapat ukiran Tetua Chuan dibelakangnya.
Mereka lalu kembali mengambil tempat duduk diruangan tersebut. Chuan mendapat tatapan penuh penasaran dari ketiganya. Chuan memberitahukan kalau dia berada ditahap suci awal tingkat tujuh, setelah mereka berempat duduk.
Chuan mulai bicara serius menjawab pertanyaan yang muncul dari rasa penasaran ketiganya. Semakin lama mereka tenggelam dalam percakapannya sehingga lupa sama waktu.
Waktu beranjak dengan cepat. Geliat malam sudah menyambut mereka. Sebelum berakhirnya pertemuan tersebut, Patriak Wang meminta Chuan untuk membantu Patriak Muda Chen dalam meningkatkan tahapnya.
Chuan menyanggupi permintaan tersebut, karena hal tersebut juga dijanjikan Chuan pada Tetua Shusin. Dia juga berpamitan kalau besok pagi akan kembali kesekte hutan suci. Bahkan jika Patriak muda mau, besok bisa berangkat bersamanya.
__ADS_1