
Sampai disebuah pulau kecil, Chuan mengeluarkan kotak giok, dan mulai larut dalam kultivadinya. Energi yang padat mengalir memasuki tubuhnya. Energi yang sudah dirubah menjadi qi cair menetes didentiannya.
Sebulan berlalu, dentian Chuan sudah terisi penuh dan mulai membengkak. Saat ini dia sudah ditahap suci awal yang sempurna. Kotak giok disimpan lagi didalam cincin naga, sedang sisa energi yang tersebar diatas pulau tersebut terus diserapnya.
Tiba tiba awan mulai gelap.
"saatnya kesusahan petir, namun kali ini ada enam petir" ucap Patriak Lion.
"aku sudah siap" ucap Chuan.
"saat yang ke enam, keluarkan tongkat batu bintang sebagai sarana" lanjut Patriak Lion.
"baik" jawab Chuan sambil terus mengawasi fluktuasi energi diawan hitam.
Fenomena alam juga dirasakan rombongan Chuan yang sedang kultivasi ditepi pantai. Namun mereka tidak berani beranjak meninggalkan tempat itu. Lama mereka menyaksikan awan hitam yang menggulung dikejauhan. Sampai ternganga dan ada perasaan takut saat melihat petir menyambar untuk kedua kalinya.
Sementara itu, Chuan yang tubuhnya terbungkus energi petir tetap tenang menanti datang petir selanjutnya. Dentiannya yang membengkak sebelumnya, sudah meledak dan mulai terbentuk lagi. Dentaian yang baru lebih besar dan kuat dari sebelumnya.
Untuk kecepatannya menyerap energi juga semakin meningkat. Namun kedua petir yang datang membawa energi bahkan lebih kuat dari kemampuan Chuan dalam menyerap energi dari luar, sehingga Chuan tetap berhati hati menyerapnya.
Sebelum efek petir yang kedua berhasil diserap Chuan, tiba tiba yang ketiga sudah datang menerpanya. Kejadian itu terus berulang sampai petir kelima. Chuan terus berusaha merubah menjadi qi dan menyimpan didentiannya.
Saatnya petir keenam akan mendatanginya, Chuan mengeluarkan tongkat batu bintang dan mengalirkan qi untuk menyelimuti organ dalamnya. Sebagian qi dialirkan diseluruh tubuhnya untuk pertahanan diri dari petir terakhir.
"jdeerrrr" Petir putih ada sedikit warna keemasan datang menyambar tongkat batu bintang. Kuatnya petir keenam membuat tubuh Chuan terkoyak dan bergetar.
"cepat meditasi dan serap energinya" teriak Patriak Lion yang menyaksikan seluruh proses tersebut dari ruang jiwa Chuan.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetaran serta menahan rasa sakit, Chuan mulai bermeditasi. Untaian energi petir diserap secara rakus oleh tubuhnya. Terlihat didalam energi petir ada untaian energi keemasan. Cairan qi yang menetes kini sedikit berubah lebih kental. Sementara tubuhnya terus menyerap energi, ada unsur cahaya yang menyelimuti tubuhnya dan menyembuhkan luka yang dideritanya.
Waktu terus berlalu, tak terasa tiga hari penuh Chuan memurnikan energi petir tersebut. Kini didentiannya terisi setengah, dan luka lukanya sudah sembuh.
"saatnya untuk bangun dari meditasi" guman Chuan.
"selamat Tetua Chuan" terdengar teriakan beberapa orang saat Chuan mulai membuka matanya. Sebelum membalas sapa mereka, Chuan segera berpakaian. Karena semua pakaiannya hancur tertimpa sambaran petir.
"terima kasih" ucap Chuan sambil berdiri.
Terlihat para tetua dan yang lain mendatanginya.
"kamu membuat terobosan lagi" tanya patriak Chen setelah didepan Chuan.
"iya, sekarang tahap suci menengah" jawab Chuan.
"suci awal, menengah, mahir dan sempurna" jelas Chuan.
Karena energi alam dan sumberdaya yang terbatas maka dibenua ini menembus tahap suci awal sudah dianggap pendekat suci. Sedangkan untuk menembus kesempurnaan masih terlalu jauh dan seakan mustahil.
Namun semua anggota sekte hutan suci tak perlu pesimis untuk itu. Sebab kemampuan Tetua Gun dan yang lain dalam membuat pil emas semakin baik. Jadi teruslah semangat untuk berkultivasi dan tetap bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibannya. Dan banyak lagi penjelasan yang disampaikan Chuan.
"baik tetua" ucap para tetua dan wakilnya dari sekte hutan suci.
"apakah sekte macan putih bisa meminjam pantai, untuk berkultivasi" tanya Tetua Shusin.
"pilih mereka yang setia pada sekte, namun ada nilainya untuk itu" ucap Chuan.
__ADS_1
"apa itu" tanya Patriak Chen penasaran.
"buatkan pagar luar sekte hutan suci dan bantu keamanannya" ucap Chuan, namun membuat mereka yang ditempat itu terkejut.
"membuat pagar luar mudah, namun siapa yang berani berulah disekte hutan suci" ucap Tetua Shusin
"para tetua, wakilnya dan keamanan sekte tetap menyembunyikan tahap sebenarnya dari kultivasi mereka" jelas Chuan. Sekte hutan suci akan tetap merendah dan tidak mau terlalu menonjol. Meskipun prestasi anak anak membuat banyak sekte terpana.
Semua yang tahap langit dan suci, menyembunyikan tahapannya menjadi pendekar bumi. Sedang yang dibawahnya disembunyikan menjadi pendekar mahir. Sehingga pengakuan dari sekte macan putih akan menyempurnakan tujuan kami.
"jadi hanya pengakuan publik saja, dan belum perlu Patriak Chen mengirim murid ke sekte kami" jelas Chuan.
"whahahaha" terdengar tawa renyah Patriak Chen.
"ada apa" tanya Chuan
"kalau masalah itu, ayahku sendiri yang akan mengumumkan setelah aku dan Tetua Shusin kembali ke sekte" jawab Patriak Chen.
"bisakah murid kami untuk menambah wawasan dan pengalaman di sekte macan putih" sela Tetua Tian.
"tetua jangan terlalu merendah" balas Tetua Shusin
"bukan begitu tetua, selain yang focus dalam pembuatan pil, kedepan mereka juga harus mengetahui luasnya dunia ini" ucap Tetua Tian.
"jangan khawatir tetua, murid sekte hutan suci akan dibawah bimbinganku" sahut Patriak Chen jelas.
Setelah mereka menembus tahap bumi, nantinya akan dikirim ke sekte pedang langit. Karena Patriak Chen ada hubungan dekat dengan beberapa tetua di sekte tersebut. Lanjut Patriak Chen menjelaskan rencananya membantu para murid untuk mengenal luasnya alam ini.
__ADS_1
Para Tetua dan wakil tetua dari sekte hutan suci tersenyum mendengar hasil dari kesepakatan itu. Kedepan mereka bisa focus dalam membimbing murid muridnya. Dan semangat untuk menerbangkan para generasi mudanya. Selain itu dalam jangka panjang, dalam impian para tetua. murid murid sekte dapat mengibarkan nama harum untuk sekte hutan suci di benua selatan dan bahkan benua yang lain.