
Setelah melewati batas desa, laju kuda semakin cepat. Sebuah desa yang cukup besar didepan, keramaian masih terlihat walau mulai beranjak malam.
Memasuki tengah desa terlihat bangunan yang lebih besar dari yang lain. 'penginapan mawar merah' terpampang plakat diatas pintu.
Seseorang menghampiriku saat turun dari kuda
"aden mau menginap" sapanya
"iya paman"
"untuk kudanya sepuluh koin perunggu den" lanjutnya
"tolong rawat kudaku, sisanya buat paman" ucapku sambil memberi satu koin perak.
Memasuki penginapan, beberapa pelayan memandangku cuek. Seorang wanita yang lebih tua dari pelayan lain menghampiri
"aden mau menginap apa sekedar makan" ucapnya ramah
"huh" terdengar lirih beberapa pelayan mengguman
"kasian sudah muka hitam, pakaiannya juga kain kasar" bisik yang lain
"menginap bibi" jawabku
"yang biasa dua koin perak bonus makan malam dan sarapan den"
"ada yang bagus bibi"
"yang bagus lima koin perak" jawabnya sabar
"aku ambil yang bagus" ucapku sambil menyodorkan enam koin perak
"satunya buat bibi" lanjutku
"terima kasih den, mari bibi antar"
Kamarku terletak dilantai dua
"ini kamarnya, ada lagi yang bisa dibantu"
"adakah rumah makan didesa ini" tanyaku
"lima rumah dari sini, kadang ada yang sedikit arogan disana, lebih baik makan yang kami sediakan den"
"tak apa nanti aku kesana saja, jatahku ambil saja buat bibi"
"oh terima kasih" jawabnya kemudian berlalu.
Memasuki kamar yang cukup luas dengan kamar mandi dalamnya.
Sehabis mandi aku keluar menuju rumah makan yang dimaksud.
Saat memasuki rumah makan
"selamat datang kisanak" seorang pelayan menyapa.
"adakah tempat yang nyaman disini"
"dilantai dua mari kisanak" ucapnya
Sampai diatas langsung menuju tempat yang dapat melihat keluar, sedikit menjauh dari beberapa pengunjung yang sudah hadir dulu
"pesan apa"
"hidangkan makanan yang istimewa disini"
"baik kisanak, lima koin perak dibayar dimuka" ucapnya.
Dia berlalu setelah menerima koin yang aku berikan. Tak selang lama datang dua pelayan membawa hidangan pesananku, nasi, ayam utuh dimasak pedas dan seguci arak.
"uhuk" terbatuk saat meneguk arak. Sedikit malu saat aku melirik beberapa pengunjung tertawa lirih. Baru pertama kali merasakan, ada rasa hangat mengalir diperut.
Tanpa menghiraukan pengunjung yang lain, mulai menikmati hidangan yang ada. Terdengar obrolan mereka, sepulang berdagang saudagar hulian sakit keras, sudah sebulan dan belum ada tabib yang bisa menyembuhkan.
Selain harta yang menggiurkan juga anak gadisnya sebagai hadiah.
"walau cantik, dia galak dan arogan",
"biar galak tapi cantik",
"kalau aku bisa mengobati, habis kawin ya ditinggal saja kalau gak bisa diatur", "whahaha pokok kawin",
"hahaha",
"besok kita kekota, yang penting dicoba dulu" terdengar sahut menyahut obrolan dan candaan mereka.
__ADS_1
Setelah puas menikmati hidangan dan mencuri dengar, lalu beranjak dari tempat dudukku. Kemudian keluar dan melangkah ringan menuju kepenginapan. Sesampai didalam kamar, aku rebahkan tubuhku.
"besok kekota mencoba mengbati saudagar itu" lamunanku dan beberapa keisengan terlintas.
"yang penting tidur nyenyak malam ini" gumanku, tak selang lama terlarut dalam alam mimpi.
"tok, tok, tok" terdengar pintu diketuk
"siapa" teriakku
"saya den, mengantar sarapan"
"masuklah pintu tidak dikunci" jawabku
"oh bibi, letakkan dimeja saja"
"aden keluar pagi ini atau siang"
"setelah mandi dan sarapan, ada apa bi"
"tukang kuda itu suami bibi, nanti biar disiapkan dulu kudanya"
"ohh terima kasih" jawabku
"kami yang harusnya berterima kasih, sudah banyak yang aden berikan"
"sudah seharusnya kita saling membantu, ini buat kalian dan berhematlah" sambil memberi satu koin emas
"ini banyak sekali, bisa buat kami makan enak setahun" raut mukanya bingung untuk menerima.
"ambil saja"
"iya den, bibi permisi" ucapnya sambil menerima koin yang aku berikan.
Saat memalingkan muka dan berlalu, terlihat sekilas air mata yang hampir jatuh. Sedikit lama mandi dan sarapan, ternyata hari sudah agak siang.
Tibalah saat untuk melanjutkan perjalanan, kudaku bersih tertambat didepan restoran dijaga seorang tukang kuda.
"terima kasih, aden" sapanya
"sama sama paman" sahutku
Suasana yang ramai membuat sedikit pelan jalan kudaku. Keluar pusat desa, terlihat kebun warga dikiri kanan jalan.
"kisanak silahkan kesini" teriak seorang prajurit saat melihatku masih diatas kuda
"salam tuan" sapaku setelah turun dari kuda
"mana tanda pengenalmu"
"tidak ada tuan" jawabku
"berkuda masuk bayar satu koin perak dipos" jawabnya sambil menunjuk pos penjagaan.
"berhenti" teriak seorang prajurit saat akan berlalu setelah membayar.
"ada apa lagi tuan" ucapku
"tak pantas kuda itu untukmu"
"maksudnya" balasku santai
"kuda itu terlalu bagus buatmu, lihat pakaian dan muka jelekmu"
"tapi ini kudaku tuan"
"tinggalkan kudamu baru boleh masuk"
"kalau tuan mau beli silahkan"
"kamu melawan yaa"
"tidak tuan" jawabku masih berusaha menahan emosi
"kalau tidak tinggalkan disini"
"tuan ini prajurit apa perampok" sedikit berteriak
"******* jaga mulutmu"
Keributan yang terjadi membuat beberapa prajurit lain mendekat,
"sudah jangan buat ribut" tegur prajurit lain pada temannya
"mulutnya yang buat aku emosi"
__ADS_1
"sudahlah kamu yang mulai"
"jangan ikut campur ini urusanku"
"biarkan saja tuan, mulut temanmu akan membawa bencana buat dirinya" ucapku
"tinggalkan kudamu atau ku hajar atas kelancangan mulutmu"
"ternyata otakmu sudah busuk ya" ucapku sambil melempar lencana dari komandan cun "bangs,," ucapannya tercekat setelah melihat lencana itu
"ampun tuan" berjongkok sambil menyerahkan lencanaku
Semua prajurit yang melihat lencana juga berbaris sigap,
"sudahlah berdiri, harap tidak mengulangi lagi"
"siap tuan"
"tolong anggap tidak pernah bertemu denganku"
"siap tuan" jawab semua prajurit jaga serempak.
Berkeliling kota dengan memacu pelan kudaku, penginapan, rumah makan, kedai minum, toko toko yang tertata strategis. 'Serikat dagang bintang perak' terlihat plakat cukup mencolok disebuah bangunan besar.
Tak jauh terlihat penginapan angsa putih yang cukup megah, iseng aku datangi tempat itu. Banyak mata memandangku saat menambatkan kuda, terlihat memang kontras, diriku yang sederhana dan kuda yang bagus.
Sadar akan itu membuatku tertawa dalam hati.
Ruangan lantai satu berfungsi sebagai rumah makan, siang ini terlihat banyak tempat yang kosong. Aku menuju bangku kosong disudut depan. Dari luar sedikit terhalang tanaman hias, sedang dari dalam leluasa memandang keluar.
Seorang pelayan laki laki mendatangiku
"mau pesan apa" sapanya sedikit acuh sambil menyodorkan buku menunya
"angsa api utuh komplit" ucapku sambil menyodorkan duapuluh koin perak sesuai dengan harga yang tertera
"baik ditunggu" ucapnya sedikit baik setelah melihat dengan mudahnya aku mengeluarkan uang.
Tak lama hidangan datang
"ada lagi yang bisa dibantu" ucapnya sedikit canggung
"kalau menginap disini sehari bagaimana"
"dilantai dua sehari satu koin emas, sedang lantai tiga lima koin emas" jelasnya
"siapkan kamar untuk tiga hari" ucapku sambil menyodorkan lima belas koin emas.
Pelayan itu hanya diam terpana dan terlihat serba salah. Tanpa kata dia berlalu setelah mengambil koinku.
"salah sendiri memandang rendah orang lain" gumanku, lalu asyik menikmati hidangan yang tersaji.
Terlihat ramai lalu lalang warga, kota yang besar dan terkesan selalu sibuk. Sambil asyik melihat suasana luar tanpa terasa semua hidangan sudah pindah keperutku.
"hahaha ternyata rakus juga nafsu makanku" gumanku sambil senyum sendiri.
Setelah lama termenung, datang pelayan wanita menghampiriku
"mari saya antar kekamar tuan" ucapnya
"lho pelayannya ganti yaa" ucapku
"temanku sedang menyiapkan kamar",
"apa penginapan ini juga menyediakan pengurus kuda"
"ada sehari sepuluh koin perak"
"baiklah itu kudaku" sambil menunjuk kudaku didepan penginapan.
Kami mulai melangkah menuju kamarku dilantai tiga,
"ini kamarnya" ketika masuk terlihat pelayan tadi selesai membenahi kamar
"maaf sikapku tuan" ucapnya melihatku
"tak apalah, janganlah memandang orang dengan sebelah mata, agar kalian juga dihargai orang lain" ucapku pada kedua nya "ini kuncinya" sambil menerima kunci aku berikan satu koin emas
"tolong carikan pengurus kuda, sisanya buat kalian dan pengurus kuda"
"baik tuan" jawab mereka berdua.
Aku rebahkan tubuhku, lalu tenggelam dalam lamunan. Tak terasa senja pun datang, setelah mandi akupun melangkah keluar penginapan.
Ternyata senja hari semakin ramai dan sibuk. Pelan kakiku melangkah sambil menikmati suasana kota. Serikat dagang bintang perak tujuanku kali ini. Bangunan yang besar terlihat banyak juga pengunjungnya.
__ADS_1