
Setelah Erlong duduk, kini Chuan berdiri dan mulai berbicara didepan prajurit khusus.
"aku sudah menerima data diri kalian semua" ucap Chuan. Disela aktifitasnya, mereka harus terus berkultivasi. Jangan merasa iri pada teman kalian yang sudah mendapatkan posisi. Karena semakin sibuk aktifitasnya, maka semakin sedikit kesempatan untuk berkultivasi.
Jangan sampai kesempatan ini mereka sia siakan. Untuk kultivasi prajurit khusus, Kaisar Jing telah mengeluarkan biaya yang sangat besar. Semua itu untuk menyiapkan sumberdaya yang dibutuhkan.
"bahkan putri tercintanya terpaksa diberikan padaku" canda Chuan saat melihat para prajurit yang terus serius mendengarkannya.
Ucapan yang dilontarkan sambil melihat Meilin, membuat para tetua, Jenderal Erlong dan yang lain tersenyum.
"hahaha"
"whahaha"
"hehehe" tapi tawa para prajurit pecah.
Gemuruh tawa yang terdengar akhirnya reda.
"siapkah bersumpah setia pada kekaisaran" teriak Chuan
"siap" jawab prajurit serempak.
"siapkah bersumpah setia pada sekte hutan suci" sahut Erlong.
"siappppp" jawab mereka lebih keras
"baiklah, sekte hutan suci didirikan untuk memberi bimbingan" ucap Chuan. Banyak ilmu dan tehnik tingkat tinggi seperti yang dipelajari para prajurit. Juga ilmu pengobatan dan pembuatan pil yang diajarkan.
Tetapi yang paling ditekankan oleh sekte adalah kesetiaan dan kekeluargaan. Terus tingkatkan setiap tahapan sampai sempurna. Mereka yang ditahap langit tingkat sempurna, maka Tetua Lifan akan membimbing untuk menembus tahap suci.
"panjang umur Tuan Muda Chuan" teriak seorang prajurit
"panjang umur Tuan Muda Chuan" sahut yang lain
"jayalah Kaisar Jing"
"jayalah Kaisar Jing"
"jayalah sekte hutsn suci"
"jayalah sekte hutan suci"
Teriakan menggema mereka, terdengar menggetarkan hati.
"terima kasih" ucap Chuan.
"untuk pengaturan cuti kalian biar Jenderal Erlong yang mengurusi" lanjut Chuan.
Bagi prajurit khusus yang tidak menduduki jabatan tertentu, cukup dengan Komandan Xhuan. Dalam sepuluh hari lagi, mereka akan dipanggil dan berkumpul ditempat ini.
"jangan membicarakan hal ini pada siapapun, meskipun pada keluarga kalian" ucap Chuan mengakhiri sambutannya.
"siap tuan muda" ucap mereka serempak. Setelah Chuan duduk, Komandan Xhuan memberikan sedikit arahan pada mereka. Dilanjutkan dengan menugaskannya untuk mengumpulkan semua prajurit yang ada di kamp tersebut.
Tiga ratus lima puluh prajurit mulai membubarkan diri. Mereka yang sedang tugas ijin untuk kembali lebih dahulu. Sedang yang lain mengumpulkan semua prajurit ditempat tersebut.
__ADS_1
Data yang diterima Chuan, terdapat dua ribu lebih prajurit khusus. Rencana awal hanya ratusan, kini membengkak secara signifikan. Bahkan kamp pelatihan saat ini terus berkembang karena diluar kamp terdapat rumah keluarga para prajurit.
Disisi lain, perkampungan orang orang gunung sudah tertata dengan rapi. Banyak titik berdiri pos jaga dengan jarak yang tak begitu jauh.
Daerah pegunungan yang sebelumnya bebas dan liar. Kini menjadi kota kecil yang terlindungi. Akses masuk wilayah tersebut juga lebih ketat dari kota duocan.
Pada kesempatan tersebut, Jenderal Erlong yang berbicara didepan para prajurit. Sedangkan Chuan hanya mengawasi mereka satu persatu.
Karena cukup banyak yang dicurigai Chuan, maka Komandan Xhuan mendekati Erlong agar memanggil tiap komandan kelompok berkumpul.
Dari mereka, Chuan mengetahui nama nama dari prajurit prajurit tersebut. Ada tiga komandan kelompok dan enam puluhan prajurit dalam daftar Chuan. Malam harinya mereka diminta berkumpul kembali diruang pertemuan.
"siapkan seratus prajuritmu untuk ikut pertemuan" ucap Chuan saat meninggalkan tempat tersebut bersama Komandan Xhuan.
"baik, aku pergi dulu" ucap Xhuan
"iya" balas Chuan.
Chuan juga berlalu dari tempat tersebut, untuk mendatangi istrinya dirumah Lin Xhuan.
Nilan nama ibu Lin Dong, terlihat senang Chuan mengunjungi rumahnya.
"silahkan masuk tetua" ucapnya saat melihat Chuan dihalaman rumahnya.
"iya,,,, wah kelihatannya lebih nyaman disini yaa" ucap Chuan
"kebersamaan dan kekeluargaan diantara keluarga prajurit lebih terjalin ditempat ini" ucap Nilan.
Chuan dengan santai menuju kursi diteras rumah. Nilan lalu masuk dan memberitahu medatangan Chuan. Keduanya mendatangi Chuan dengan membawa makan ringan dan minuman.
"dia diajak pangeran untuk menemaninya" jelas Nilan.
Lin Dong datang dikamp bersama para tetua. Waktu itu putra mahkota juga sering berkunjung untuk berkultivasi. Saat Kaisar Jing sudah kembali keistana, pangeran ditawari Tetua Lifan untuk berkultivasi disuatu tempat.
Seorang tetua menemani pangeran menuju tempat tersebut. Dikawal oleh dua puluhan prajurit dan Lin Dong ada bersama mereka.
"rencananya, bulan depan mereka akan pulang" jelas Nilan.
"hahaha, biarkan dia berkembang sesuai keinginannya" jelas Chuan. Anak itu punya ketekatan dan kecerdasan yang lebih baik daripada yang yang lain. Orang tuanya cukup memantau dan sesekali memberi masukan saat ada perbuatannya yang salah.
Nilan hanya tersenyum mendengar penjelasan Chuan. Penilaian Chuan yang baik tentang Lin Dong membuatnya bangga.
"jika dia kembali, antarlah ketempatku" lanjut Chuan.
"baik tetua, kami pasti mengantarnya" ucap Nilan
Ketiganya terus ngobrol santai sambil menikmati suguhan yang ada. Sampai senja datang, baru Chuan mengajak Meilin berkeliling ditempat tersebut.
Meminjam dua kuda dikamp tersebut, keduanya memacu santai menuju perkampungan diluar kamp. Suasana senja hari yang indah dinikmati oleh keduanya.
"Tuan Muda Chuan datang,,,," teriak seorang pria saat melihat Chuan menuju desanya. Dia terus berteriak sambil berlari menuju rumah pemimpinnya. Terlihat para warga keluar dari rumah mereka. Tua muda berjajar disepanjang jalan ingin melihat dewa penolong mereka.
"panjang umur tuan muda"
"panjang umur tuan putri"
__ADS_1
"Yang Agung memberkati keduanya" teriak Sin Wan diikuti seluruh warga desa. Ucapan yang terus menggema mulai Chuan memasuki gerbang desa sampai keaula ditengah desa tersebut.
Aula terbuka yang cukup luas, didepan terlihat patung Chuan dan Rouyan yang terpahat rapi.
"salam tuan muda dan tuan putri" ucap Sin Wan.
"salam,,, bagaimana kabarnya paman" balas Chuan.
"baik,,, mari silahkan masuk" ucap Sin Wan sambil memasuki aula diikuti Chuan dan Meilin.
Mereka duduk mengelilingi meja yang besar. Selain Sin Wan, hadir pemimpin suku yang sekarang lebih senang dipanggil kepala desa. Beberapa pria paruh baya dan ada juga pemuda yang hadir.
"itu patungmu yaaa" tanya Meilin.
"ahhhh, paman Sin Wan saja yang lagi usil, hehehe" jawab Chuan santai sambil tersenyum. Mereka yang hadir cuma tersenyum dan ada yang tertawa pelan.
"kami tak menyangka kalau kau datang lagi, jadi patung itu sebagai pengingat untuk anak kerurunan kami" jelas Sin Wan
"tak apa apa, kalau kita mau menghargai orang lain, maka balasan yang baik akan kembali pada kita sendiri" ucap Chuan.
"boommmm" terdengar ledakan dari sebuah rumah didekat aula tersebut.
"itu rumah Tabib Ho" ucap Sin Wan.
"ohhhh" guman Chuan.
"hahaha,,, salam tetua" ucap Tabib Ho dari jauh.
"salam tabib,,, kenapa disini" tanya Chuan.
"sejak desa ini dibangun, Tabib Ho dan keluarganya mulai tinggal disini" jelas kepala desa.
Hasil budidaya tanaman obat semuanya diubah menjadi eleksir ('cairan obat' menurut mereka) oleh Tabib Ho, sehingga nilai jualnya semakin tinggi. Hal tersebut membuat kehidupan mereka lebih baik.
"wah berapa kalian menggajinya" canda Chuan.
"aku gak minta gaji pada mereka" jelas Tabib Ho sambil sewot.
"hihihi,,,," tawa kecil Meilin terdengar.
"maaf bercanda paman,,, ada apa Mei'er" ucap Chuan
"ada persaingan tak sehat dari Tabib He, sehingga dia mengalah pada adik tersayangnya" jelas Meilin.
"ohhh begitu, terkadang jabatan dan kemewahan dipandang sebagai tolak ukur kebahagiaan seseorang" ucap Chuan.
Padahal dalam kesederhanaan tersembunyi kebahagiaan yang tak dapat dibeli dengan harta. Lihat para warga yang terus bekerja sedang hasilnya mereka pasrahkan pada Yang Agung. Namun pada senja dan malam hari terdengar canda tawa didalam keluarga mereka.
Disisi lain, mereka yang sibuk menumpuk harta. Tapi keresahan, kecurigaan dan kemarahan yang hadir dalam setiap waktunya.
"siapa yang dikatakan bahagia diantara keduanya" tanya Chuan.
"iya,,,"
"benar,,,"
__ADS_1
"ohhhh,,," gumanan yang hadir terdengar disela senyum mereka.