Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Lebah Hitam


__ADS_3

"boommm" suara ledakan disertai percikan api dari simpul arai yang diserang Chuan dan Rouyan. Ledakan tersebut juga menimbulkan getaran ditempat tersebut. Kabut putih berangsur menghilang dan nampaklah lembah tersebut.


Terlihat dua kepompong tergantung ditebing yang ada disisi jauh dari tempat Chuan. Dua titik terlihat terbang kearah ketiga orang tersebut.


"lebah hitam,,," ucap Rouyan sambil mengeluarkan pedangnya.


"hati hati, lebah itu sangat beracun" lanjut Rouyan mengingatkan Chuan dan Luosan.


"jangan menyerang" terdengar teriakan pelan dari rombongan dua lebah yang mendekati ketiganya.


"siapa kalian" ucap Chuan saat dua lebah hitam sekepalan tangan berhenti agak jauh didepannya. Dibelakang keduanya, ada ratusan lebah sebesar dua ibu jari.


"kami dua ratu lebah yang terkurung ditempat ini" ucap lebah itu.


"bagaimana kalian tetap hidup" lanjut Chuan.


"ada energi alam yang mempertahankan kehidupan kami" jelas salah satu lebah.


"apa kalian punya nama" tanya Luosan


"Lin Yu dan dia Lin Ling, kami memakai nama dua murid kembar yang pernah bermain disini" jelas Lin Yu.


Nama tersebut akan turun temurun dipakai oleh ratu lebah. Leluhur lebah terus bercerita ke generasi penerusnya. Dahulu ada dua murid wanita tersebut adalah anak angkat tetua satu.


Saat tetua satu sedang terkena racun ganas terjadi pergolakan disekte. Sedang dua gadis tersebut bersembunyi dilembah. Secara tidak sengaja bertemu dengan leluhur ratu.


Setelah tiga hari, leluhur kami menyuruh keduanya pulang dengan memberikan madu untuk mengobati tetua tersebut. Setelah kejadian tersebut, lembah ini tertutup untuk seluruh murid sekte. Hanya tetua satu dan dua anak angkatnya yang akan turun untuk saling aapa dan cerita dengan bangsa kami.


Entah apa yang terjadi, beberapa tahun berjalan lembah yang sunyi dan damai. Tiba tiba ada formasi yang mengurung bangsa kami sampai saat ini.


"terima kasih sudah membebaskan kami" ucap Lin Yu sambil terbang rendah.


"tak perlu berterima kasih, para tetua sekte mengunci tempat ini juga untuk menyelamatkan kalian" hibur Chuan, lalu bercerita tentang kejadian berdarah yang pernah didengarnya. Dan juga hancurnya sekte pagoda suci.


"kalian bisa melihat seluruh tempat ini untuk membuktikan kebenaran ceritaku" ucap Chuan lalu menjelaskan untuk tidak mengganggunya saat memindahkan pagoda kedalam lembah.


"baik, biar prajurit lebah yang memberitahu rakyat kami" ucap Lin Ling. Kemudian terdengar seperti suitan yang membuat beberapa prajurit lebah terbang menuju lembah.


"kami akan melihat sekte, silahkan melakukan apa yang kalian rencanakan" ucap Lin Ling sambil bersuit mengomando para prajurit lebah. Rombongan lebah terbang melewati sisi kiri kanan ketiga orang tersebut.

__ADS_1


"sial,,, aku sudah berpikir akan ada pertempuran besar dengan mereka" ucap Rouyan


"masa senior seperti paman keder dengan lebah tersebut" goda Chuan.


"untukmu yang bisa menyelimuti tubuh dengan api bukan masalah untuk itu" ucap Rouyan.


Namun bagi Rouyan dan Luosan akan kesulitan. Bahkan jika ada sengatan yang menimpa maka akan berakibat fatal bagi keduanya.


"sudahlah, ayo pindahkan pagodanya dan paman bisa segera berkultivasi" ucap Chuan.


Rouyan mengajak Luosan menyiapkan tempat kosong didasar lembah. Tempat yang akan digunakan untuk menempatkan pagoda. Dengan cepat keduanya melesat dan mempersiapkan tempat tersebut.


Chuan berjalan kearah pagoda dan memperhatikan bangunan tersebut dengan teliti. Lama dia terdiam sambil berjalan mengelilingi pagoda. Dari jauh terdengar dengungan sayap lebah yang hilir mudik menyusuri setiap sudut sekte.


Getaran pelan terasa saat dengan ilmunya, Chuan mulai mengangkat pagoda tersebut. Pagoda melayang menuju lembah yang sudah disiapkan penempatannya oleh Rouyan dan Luosan.


Bersama dengan melayang turunnya pagoda kelembah tersebut, Chuan juga berada dibelakangnya. Proses yang menegangkan bagi orang lain namun terlihat santai ketiga orang itu menyikapinya.


Setelah penempatan pagoda tersebut berhasil, Rouyan segera bersiap untuk memasukinya. Sedang Chuan dan Luosan melesat kembali keatas bukit. Keduanya dengan santai duduk sambil bercakap cakap.


"bolehkah tahu siapa tuan berdua" tanya Lin Yu yang sudah terbang mendekati Chuan.


"dia,,,," ucap Lin Yu saat memperhatikan Luosan dengan dalam.


"dia saudara angkatku, berasal dari ras rubah" balas Chuan.


"ohhhh" guman Lin Yu


"apa rencana kalian" tanya Chuan


"kami masih sulit untuk keluar dari tempat ini" ucap Lin Yu


"kenapa tidak tinggal ditempat ini" lanjut Chuan


"bukankah tuan bertiga tinggal disini" ucap Lin Yu penaaaran.


Saat Lin Yu terdiam, Lin Ling datang menghampiri mereka.


"ada apa" tanya Lin Ling.

__ADS_1


"Tuan Chuan bertanya kenapa tidak tinggal ditempat ini" ucap Lin Yu sambil memperkenalkan nama keduanya.


"kelihatannya Tuan Chuan begitu tenang saat melihat kami kemarin" tanya Lin Ling


"kalian datang tidak dalam permusuhan" jelas Chuan. Sementara formasi terbang kalian bukan untuk menyerang.


Meakipun racun lebah hitam kuat, jika berhadapan dengan Chuan akan banyak korban dipihak lebah hitam. Sambil menjelaskan Chuan menyelimuti tubuhnya dengan api ungu yang agak besar.


"sialll,,, kenapa tidak bilang dulu" ucap Luosan menggerutu saat melompat menjauhi Chuan. Lin Yu dan Lin Ling juga mundur agak jauh serta terbangnya tidak stabil karena ketakutan yang menimpa keduanya.


"hahaha,,,," tawa Chuan pecah saat melihat tingkah ketiganya.


"maaf,,," ucap Lin Ling


"hehehe, aku hanya bercanda" ucap Chuan santai.


"tinggallah ditempat ini" ucap Chuan. Rumah yang dikiri kanan tangga, akan Chuan pindahkan kekiri kanan gerbang teleportasi. Dua rumah paling tepi bisa digunakan untuk ras lebah.


Mereka ditempatkan ditepi agar tidak terganggu saat keluar masuk kehutan untuk mencari makan. Sebagian madu bisa mereka simpan ditempat lain kalau takut dijarah oleh Chuan dan dua lainnya.


"hemmmm"


"hihihi" gumanan dan tawa kecil terdengar.


"ada apa" tanya Chuan


"kalau tuan bertiga ingin menjarah kenapa tidak dari tadi" ucap Lin Yu


"hehehe, mestipun berharga tapi tidak sampai menggerakkan kami untuk menjarahnya" ucap Chuan


Setelah mengucapkan hal tersebut Chuan lalu beranjak pergi menuruni tangga. Dengan ilmu menembua dasar samudra dan energinya yang besar, dia mulai memindahkan rumah rumah tersebut.


Hari terus berganti. Sepuluh hari sudah Chuan dan Rouyan memindahkan rumah dan membersihkannya. Dua rumah disudut tepi lembah ditempati dua kelompak lebah hitam. Kepompong yang dilihat Chuan adalah rumah lebah.


Para lebah juga memindahkan rumahnya dibantu Luoyan. Ada sebuah rumah berisi barang berharga, Chuan menyimpan harta tersebut. Sebuah rumah yang cukup besar ditata menjadi tempat penyimpanan kitab yang banyak ditemukan dibeberapa rumah tersebut.


Saat ini, dua pemuda terlihat santai dengan daging bakar didepannya. Chuan dan Luosan sedang menikmati waktu santai mereka. Ditangan Chuan juga tergenggam guci arak yang sesekali dituangkan kemulutnya.


Keduanya dengan santai bercanda seakan tanpa beban. Diantara canda tawa mereka ada rencana yang terselip. Keduanya ingin menata kembali bagian lereng bukit dan lembah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2