
Saat tengah malam, masih tersisa setengah dari pengunjung sebelumnya. Terlihat mereka serius dalam obrolannya, beberapa yang berbicara keras harus dibentak temannya. Beruntung tempat yang Chuan tempati cukup remang pencahayaannya.
Pemilik kedai membawakan guci arak lagi, sambil menyisipkan secarik kertas.
"aku tunggu dibelakang kedai" isi surat yang diterima Chuan.
Dengan menanting guci arak ditangannya dia melangkah melalui pintu belakang. Sebuah pos kecil didatanginya. "masuklah" sapa seseorang.
"teysan" ucap Chuan melihat salah satu diantara lima orang dipos tersebut.
"duduklah" ucap Teysan.
"bagaimana kabar kalian" tanya Chuan.
"kami baik baik saja" jawab Teysan lalu menjelaskan. Mereka ingin ikut bersama Chuan. Penginapan kecil mereka ternyata dipersulit untuk proses jual belinya.
Bahkan pemilik sebelumnya hanya menerapkan sewa. Mereka tidak jadi menjualnya. Pendapatan mereka semakin menurun, bahkan dua belas teman mereka sering menganggur.
Dia juga menceritakan kalau bulan lalu sudah menikah dengan ceiyun. Banyak yang disampaikannya pada Chuan. Lama mereka menunggu jawaban Chuan.
"seandainya kalian membuat desa kecil dipinggir hutan bagaimana" tanya Chuan.
"sudah bulat kesepakatan kami, jadi dimanapun tak jadi masalah" ucap yang lain.
"kalian tahu tempat kami latihan" tanya Chuan.
"iya" jawab teysan.
"besok pagi, ajak semua temanmu ngobrol disana" ucap Chuan.
__ADS_1
"kami pasti kesana" ucap teysan.
"baiklah, sampai ketemu besok" ucap Chuan lalu pamit pada mereka semua, dan dia langsung pulang.
Semalam Chuan ditempat latihan. Patriak Lion membimbing Chuan diruang jiwanya. Saat pagi datang, anak anak seakan melihat Chuan sedang tenggelam dalam meditasinya.
Namun sebenarnya dia sedang mendapatkan, pengarahan dari Patriak Lion. Bahkan saat menerima orang baru dia harus menggunakan ilmu menembus dasar samudra. Semua itu untuk melihat keteguhan dan niat mereka yang sebenarnya.
Pagi beranjak siang, anak anak sedang berlatih renang dengan para tetua yang mengawasinya. Rombongan Teysan yang datang, berbincang bincang dengan Nenek Hong dan Bibi Fei.
Saat Chuan menyudahi meditasinya, dia melihat tempat latihan sudah banyak orang.
"whahaha, sudah banyak orang yaa" ucap Chuan.
Teriakan anak anak terdengar mengajaknya turun kesungai. Dia membalas dengan senyum, sambil menghampiri Teysan dan yang lain.
Dengan santai tiap orang dilihatnya satu persatu.
"desh" totokannya bersarang di salah satu anak buah Teysan.
"bajing**, apa yang kau lakukan padaku" ucapnya.
Teysan bingung melihat apa yang dilakukannya.
"siapa yang punya tanda seperti ini" tanya Chuan sambil menunjukkan tanda dipergelangan tangan kiri orang tersebut. Yang lain tidak ada yang mempunyai tanda seperti itu.
"kapan dia bergabung dengan kalian" tanya Chuan.
"empat bulan yang lalu" jawab Teysan. Chuan lalu menjelaskan identitas orang dengan tanda seperti itu. Teysan dan yang lain hanya bisa bengong mendengarnya. Chuan lalu mendekati tepi sungai, dan menyuruh anak anak untuk kembali.
__ADS_1
"Monk, ajak semuanya melihat pesanan diserikat apa sudah ada" ucap Chuan.
"iya kak" jawab Lumonk.
"ajak nenek dan bibi untuk menemani" lanjut Chuan.
"baik, Chuan" balas Nenek Hong dari jauh.
Chuan dan para tetua berkumpul dengan Teysan.
"apa tujuanmu memata matai kami" tanya Chuan.
"orang seperti kalian tidak berhak atas hutan suci" ucapnya.
"asal kau tahu, setelah sekte pasir putih, tak ada yang bisa kalian sentuh lagi" ucap Chuan.
"whahaha, kalian semua sudah terlambat karena baru menyadarinya" balasnya.
"hehehe, kau salah" ledek Chuan.
"pertemuan kalian nanti malampun sudah kami ketahui" lanjut Chuan.
"darimana kau tahu" ucapnya terkejut.
"tanya temanmu yang menunggu dineraka" ucap chuan. "kau,," tak bisa dia selesaikan ucapannya karena selarik api biru sudah menembus dadanya.
Aku tidak mau ada duri dikeluarga besar kami. kebaikan sekecil apapun pasti akan kami balas. Namun jangan harap untuk menghancurkan kekeluargaan yang sudah kami bina selama ini, jelas Chuan.
"bagaimana dengan kalian" ucap Chuan.
__ADS_1