
Nenek hong yang punggung chuan, dengan tangan memeluk erat tubuhnya.
"hiattt, wuss" teriak chuan lalu melesat melompat dari dahan pohon yang besar kedahan pohon lainnya.
Sesekali dia melompat sampai keatas pohon untuk melihat arah dan keadaan. Cukup lama chuan melesat dengan pijakan pucuk pucuk pepohonan.
"oohhh" desah kekaguman nenek hong beberapa kali terdengar. Beberapa kilometer lagi terlihat titik titik pelita didepan.
Sepertinya sebentar lagi memasuki sebuah desa atau mungkin sekte utama klan chu. Setelah cukup dekat chuan berhenti dan menurunkan nenek hong dari punggungnya.
"chuan, cincinmu isi dengan pakaian dan koin perunggu saja" terdengar patriak lion dipikirannya. Tanpa menjawab chuan melakukan seperti yang diperintahkan gurunya.
Pakaian dan koin perunggu tetap dicincinya, sedang koin perak dipindahkan kecincin naga. Kembali mereka melanjutkan perjalanan setelah berhenti sejenak menunggu nenek hong mengambil nafas karena keterkejutannya saat digendong chuan.
"apa tahapanmu chuan" tanya nenek hong tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"tahap menengah nek, namun qiku sedikit berbeda karena efek dari rumput emas" jawab chuan berbohong. Nenek hong hanya mengangguk mendengar jawaban chuan. "mari nek" ajak chuan.
Mulailah mereka melangkah santai keluar pinggiran hutan. Sebuah tanah kosong terbentang dihadapan mereka diseberangnya terdapat sebuah pagar dari pepohonan yang tertata rapi.
Sebuah gerbang terlihat karena dua obor yang tertancap dikiri kanannya. Tetap santai mereka berjalan. Diatas gerbang tertulis 'klan chu'.
__ADS_1
Tiba tiba muncul dua orang penjaga yang menyadari kehadiran chuan dan nenek hong.
"berhenti" teriak seorang penjaga saat tiba digerbang penjagaan.
"tunjukkan tanda pengenal kalian" lanjutnya saat chuan dan nenek hong berhenti didepannya.
"maaf tidak punya, kami dari klan gu ingin kesekte pasir putih untuk minta tolong mengobati nenekku" jawab chuan.
"suiitttt" terdengar siulan keras dari penjaga satunya. Terlihat sepuluh orang lebih berlari menuju gerbang. Tatapan kecurigaan terlihat jelas dimata mereka.
"jaga gerbang dulu kami akan mengantar kedua orang ini agar diperiksa tetua kelima" ucap penjaga yang bersiul tadi.
"baik, mari nek" jawab chuan sambil mengajak nenek hong.
Mereka mengajak keduanya menuju sebuah balai terbuka, yang disana terdapat beberapa orang yang lagi bersantai. Terlihat juga salah satu diantara mereka adalah seorang pendekar tahap bumi.
"malam tetua zhao" ucap penjaga.
"siapa mereka" jawab orang itu. Lalu penjaga tersebut menjelaskan seperti yang chuan ucapkan tadi.
"aku tetua zhao , kalian silahkan duduk dulu" ucapnya. Chuan dan nenek hong lalu duduk dilantai yang terbuat dari kayu.
__ADS_1
Memang dibalai tersebut tidak terdapat perabot apapun, hanya balai yang luas tempat santai sekaligus pos utama para petugas keamanan.
"maat nek, saya akan memeriksa keterangan kalian" kata tetua zhao lalu mendekati nenek hong.
Terlihat kewaspadaan orang orang dibalai tersebut. Nenek hong tetap diam bahkan saat tangan tetua zhao menempel dipunggungnya.
Setelah beberapa saat tetua zhao menyudahi apa yang dilakukannya lalu duduk didepan chuan dan nenek. "keteranganmu memang benar, bahkan aku tak yakin tetua sekte pasir putih bisa membersihkan racunnya" ucap tetua zhao.
"memohon bimbingan tetua sekte untuk kesembuhan nenekku" ucap chuan.
"kalian memakai cincin penyimpanan, bolehkan kami memeriksanya" kata tetua zhao tak menjawab pertanyaan chuan.
Kecurigaannya belum hilang meski sikapnya ramah. "silahkan" ucap chuan lalu melepas cincinnya diikuti oleh nenek hong.
Senyuman muncul dibibir tetua zhao, saat melihat koin perunggu dan pakaian yang tersimpan didalamnya. Walaupun lebih dari seribu koin tapi sebenarnya tak sebanding sama sekali dengan satu koin emas.
"untuk dapat tanda pengenal diklan chu biayanya lima koin perak perorang" ucap tetua zhao.
"maaf apa koin itu tidak cukup" tanya chuan.
"sebenarnya cukup, tapi bagaimana biaya hidup kalian nanti"
__ADS_1