Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Satu Musuh Terasa Banyak


__ADS_3

Siang berganti malam. Semua rombongan Chuan mulai meninggalkan pulau kecil. Tiga orang yang terluka parah dibantu tetua yang lain untuk perjalanannya.


Tak ketinggalan, Tetua Zhao ikut dalam rombongan tersebut. Mereka melesat menembus kegelapan malam. Kala melintasi pemukiman, terlihat kerlip lampu menghiasi kesunyian.


Saat tengah malam mereka sampai dihutan suci. Chuan langsung mengajak mereka ke aula dibalai pengobatan. Para penjaga yang mengetahui rombongan Chuan yang datang tetap melanjutkan aktifitasnya, karena Tetua Tian memberitahu untuk meningkatkan penjagaan mereka.


Didalam aula, ketiga orang yang terluka mendapat perawatan dan bantuan qi dari tetua yang lain. Sedangkan Tetua Tian, Gun dan Lifan diajak Chuan kerumahnya.


"ada sesuatu yang penting untuk aku sampaikan" ucap Chuan memulai penjelasannya. Dia sebentar lagi akan meninggalkan hutan suci untuk mencari pengalaman diluar. Bahkan dia akan meninggalkan benua selatan.


Tak lupa dia bercerita, pertemuannya dengan Rouyan.


"setelah ini Tetua Tian akan dibimbing Patriak Lion untuk mendalami tehnik formasi dan beberapa ilmu jiwa" ucap Chuan menyudahi penjelasannya.


"maksudnya, Patriak Lion mau mengajariku" ucap Tetua Tian senang.


"meditasilah dan buka ruang jiwamu, biarkan Patriak Lion masuk dan menjelaskannya" ucap Chuan.


Sementara Tetua Tian tenggelam dalam meditasinya, Chuan melanjutkan dengan yang lain. Dengan kekuatan spiritualnya, Chuan mengirim tehnik akupuntur yang sempurna pada Tetua Lifan.


"terimakasih tetua" ucap Tetua Lifan menyadari tehnik yang mengalir dipikirannya.


"pelajari dengan sungguh sungguh, aku yakin pencapaian tetua bisa lebih baik dariku" ucap Chuan.


"hehehe, kau terlalu merendah" ucap Tetua Lifan sambil tersenyum.


Tetua Lifan yang merasa senang mendapatkan tehnik tersebut, buru buru untuk meditasi. Bahkan dia lupa pamit pada Chuan dan Tetua Gun.


"maaf, Tetua Gun tidak mendapat keberuntungan seperti yang lain" ucap Chuan.


"tak apa Chuan, sebenarnya tinggal disekte ini sudah menjadi kebahagiaan untuk kami" ucap Tetua Gun.


Chuan lalu mengajak Tetua Gun masuk kekamarnya. Chuan melepas kepemilikan kotak dimensinya, dan meminta Tetua Gun untuk meneteskan darahnya disatu batu yang tertanam didinding kamar.


"pindai batu tersebut dengan kekuatan jiwa" ucap Chuan.

__ADS_1


"hahhhh, ini gila" ucap Tetua Gun terkejut setelah memindai batu tersebut.


"itu kotak dimensi dan setelah menjadi pendekar suci, tetua bisa memasukinya" ucap Chuan dengan memberi tahu cara keluar masuknya.


Juga beberapa penjelasan yang lain. Tak lupa tentang Patriak Lion yang senang berkultivasi didalamnya dan sering seringlah berbincang padanya. Chuan meminta, semua yang didalamnya dapat digunakan untuk kesejahteraan anggota hutan suci.


Cukup banyak Chuan memberi penjelasan, dan yang terakhir dia minta Tetua Gun untuk merahasiakan hal tersebut. Karena selama ini dia menanggung kebutuhan sekte dari hasil yang ada didalamnya.


"aku berjanji untuk menjaga dan merahasiakannya" ucap Tetua Gun


"teruslah belajar untuk menyempurnakan pil" pinta Chuan lalu menjelaskan.


Patriak Lion sering melihat Chuan belajar menyempurnakan pil saat didalam kotak dimensi. Karena sering tukar pendapat dengannya, Chuan saat ini bisa membuat pil tanpa tungku.


"bagaimana caranya membuat pil tanpa tunggu" tanya Tetua Gun.


"dengan kontrol energi jiwa yang baik tetua juga bisa melakukannya" jelas Chuan.


Kedepan Patriak Lion bisa membimbing Tetua Gun. Yang perlu dilakukan saat ini adalah menaikkan tingkat jiwanya. Sebab tanpa tungku perlu energi jiwa yang besar.


Menaikkan tingkat jiwa atau dibenua lain menyebut spiritual memang sulit. Membutuhkan sumber energi yang besar untuk itu. Tapi didalam kotak dimensi ada sumber energi yang bisa Tetua Gun manfaatkan. Dan masih banyak yang Chuan jelaskan pada Tetua Gun.


"apa tingkat jiwamu sekarang" tanya Tetua Gun


"tingkat dewa" jawab Chuan


"pada tingkat tersebut, bisakah mempengaruhi orang lain" tanya Tetua Gun


"tingkat suci pun bisa, bahkan ditingkat semesta seperti tetua bisa membaca pikiran orang lain" jelas Chuan.


Dengan ilmu menembus dasar samudra, Tetua Gun bisa membaca pikiran orang lain yang tingkat jiwanya sama atau dibawahnya. Untuk yang tingkat lebih tinggi sulit untuk melakukan hal tersebut.


Tapi tak perlu berkecil hati, sebab selain pembuat pil dan ahli formasi jarang memperhatikan tingkat jiwanya. Dengan sering membuat pil, tanpa disadari membantu meningkatkan kekuatan jiwa kita. Jelas Chuan sambil menyemangati Tetua Gun.


Setelah cukup puas dengan penjelasan Chuan, Tetua Gun minta ijin untuk meditasi dikotak dimensi. Chuan melarangnya karena masih ada banyak waktu dilain hari. Saat ini bukan saat yang tepat untuk melakukannya.

__ADS_1


Chuan lalu mengajak Tetua Gun keluar kamarnya. Waktu keduanya keluar kamar, terlihat Tetua Tian dan Tetua Lifan baru bangun dari meditasinya.


"terimakasih tetua bertiga selama ini membantuku dengan sepenuh hati" ucap Chuan.


"kami yang seharusnya berterimakasih telah diberi kesempatan kedua, beberapa waktu yang lalu semua tetua telah berjanji kalau hidup mereka untuk sekte hutan suci" ucap Tetua Tian.


"dengan empat belas pendekar suci, siapapun berpikir dua kali untuk menyentuh kita" kata Tetua Lifan.


"aku harap semua anggota sekte hutan suci tetap rendah hati seperti sebelumnya" jelas Chuan.


Tak perlu mencari musuh, namun tidak mundur saat ada yang memusuhi. Cari kawan sebanyak banyaknya dan hindari musuh semampunya. Sebab satu musuh terasa lebih banyak dibandingkan dengan seratus teman. Banyak yang disampaikan Chuan pada kesempatan tersebut. Sampai tak terasa pagi datang, dan sang mentari menghangatkan hutan suci dan penghuninya.


Suasana riuh terdengar didepan rumah Chuan. Nenek dan Chufei meminta keamanan sekte diperketat. Berita tentang Chuan dan yang lain sudah pulang namun langsung memasuki aula untuk kultivasi membuat mereka senang namun ada kecemasan juga.


Tiga orang yang terluka parah membuat semua keluarga besar sekte hutan suci berkumpul untuk konfirmasi hal tersebut. Setelah cukup lama mereka menunggu, Chuan dan tiga tetua keluar serta langsung mendatangi semua orang yang sedang berkumpul.


Tetua Tian menjelaskan, kalau mereka semua berhasil melewati proses saat meningkatkan tahapannya. Untuk tiga wakil tetua yang terluka, saat ini sudah ditangani oleh tetua yang lain.


"tak perlu merasa cemas, dan lakukan aktifitas seperti biasa" ucap Tetua Tian.


"apa yang terjadi dengan wajah Tetua Chuan" tanya ceiyun.


"selama ini Tetua Chuan menyembunyikan wajah aslinya, untuk menghindari masalah" jawab Tetua Gun.


"hahaha Kak Chuan sangat tampan" tawa seorang murid perempuan.


"iya, sebagus hatinya"


"wah, sayang dia tetua kita"


"emang kenapa"


"aku kan bisa naksir kak Chuan"


"whahahaha"

__ADS_1


Celoteh para murid terdengar riuh, dan ada juga yang berbisik bisik tentang itu. Bahkan saat Tetua Tian membubarkan mereka untuk melakukan aktifitasnya, terlihat banyak murid yang saling bergerombol.


__ADS_2