
Mentari hangat menyapa. Chuan sedang bercengkrama dengan para tetua didojo. Jing Meilin juga terlihat diantara mereka. Istrinya sudah menembus tahap langit tingkat satu.
Hari ini, Chuan dan istrinya akan meninggalkan sekte hutan suci. Gunung suci yang baru ditemukan sudah enam bulan lebih ditinggalkannya. Tak ada pesan atau apapun dalam pertemuan kali ini.
Hanya canda tawa sebagai pelepas, dengan harapan Chuan dan istrinya selalu teringat suasana hangat sekte hutan suci. Kekeluargaan yang terjalin tidak menyiratkan sebuah sekte. Namun lebih seperti keluarga besar yang telah melewati badai bersama sama.
Chuan telah kembali dengan penampilannya. Istrinya memakai kain halus menutupi sebagian wajahnya. Keduanya memakai pakaian hitam halus yang ringkas. Dirasa cukup perpisahannya, sepasang pendekar muda mulai melangkah meninggalkan sekte hutan suci.
Keduanya terus melesat pelan melintasi lebatnya hutan. Saat malam mereka menginap dikota kecil yang disinggahinya. Canda tawa tercipta seakan menghiasi cinta kasih mereka yang sedang mekar.
Seminggu lebih perjalanan telah mereka lewati. Pasangan tersebut mulai memasuki kota Duocan. Penjagaan terlihat lebih ketat dari sebelumnya. Patroli prajurit dapat dijumpai setiap saat.
Chuan dan Meilin memasuki rumah makan yang cukup besar. Setelah memesan makanan keduanya langsung menuju lantai dua. Suasana ditempat tersebut juga terlihat ramai.
Muda mudi dengan para pengawalnya terlihat memenuhi dibeberapa meja. Hanya tersisa dua meja kosong dilantai dua. Percakapan mereka sempat terhenti saat Chuan dan istrinya masuk.
"kita harus memanfaatkan kesempatan ini"
"iya,,, akademi militer harus dikuasai oleh klan tang dan chao"
"dua penguji yang ditugaskan adalah penatua dari klan chao"
"ketua klan chao sudah mengintruksikan untuk meloloskan setiap calon dari klan tang"
"hahaha,,, meskipun masih dua bulan lagi, sepertinya kesuksesan sudah ditangan kita"
Gelak tawa terdengar dari kumpulan mereka. Dua tuan muda klan tang dan chao sedang mengatur strategi. Semakin lama omongan mereka kian ngelantur. Pengaruh arak yang mereka nikmati, menjadikan obrolan semakin sensitif.
Rencana merebut posisi panglima besar yang saat ini dipegang klan lin. Juga posisi Lin Xhuan sebagai komandan pasukan khusus juga diincar oleh orang dari kedua klan tersebut.
Salah seorang dari klan tang saat ini menjabat sebagai komandan keamanan ibukota. Itu hanya setingkat dibawah panglima besar. Jika mereka bisa mempengaruhi putra mahkota maka jabatan tersebut akan mudah direbutnya.
Chuan dan Meilin yang selesai menikmati hidangannya, hanya diam mendengar percakapan mereka.
"hei,,, kalau sudah selesai cepat pergi, jangan tetap ditempat ini" hardik tuan muda dari klan tang.
"hahaha,,, lihat, wanitanya cantik sekali" ucap tuan muda klan chao yang sempat melihat Meilin membenarkan penutup wajahnya.
"wah betul, biar pemuda jelek itu yang pergi"
"cepat tinggalkan wanitamu, untuk menemani kami"
"whahahaha"
"hahahaha"
Sekumpulan pemuda tersebut tertawa keras, melihat Chuan dan Meilin hanya diam saja. Saat keduanya beranjak pergi, terdapat seorang pemuda yang menghalangi.
"kau boleh pergi, tapi tinggalkan wanitamu" ucapnya.
"bucggg,,, achghgh" tangan Chuan bergerak cepat dan membuat pemuda itu terlempar kedinding ruangan. Pemuda sial tersebut meringkuk dan tak bergerak.
__ADS_1
"haiiii"
"kalian tahu apa yang siapa dia" teriak seorang pengawal sambil berdiri diikuti oleh yang lain.
"hiaatttt" teriak Meilin sambil mengayunkan pedangnya yang sudah terhunus. Dikarenakan tidak siap maka dua kepala sudah lepas dari badannya.
"sudahlah ayo pergi" ucap Chuan yang melihat tangan Meilin bergetar sehabis membunuh keduanya.
"sial,,, kalian harus bertanggung jawab untuk semua ini" teriak tuan muda klan chao saat melihat Chuan melangkah pergi.
"ayo kita pergi" ajak Chuan pada istrinya.
"iya" jawabnya sambil melangkah mengikuti Chuan. Keduanya tetap waspada pada kelompok tuan muda tersebut. Bukannya takut tapi mengasah reflek dari istrinya.
Saat hendak keluar rumah makan, kedua tuan muda dan yang lain sudah didepan. Mereka menghalangi Chuan dan Meilin.
"kalian berani kurang ajar diibukota"
"iya,,, kalian tahu tidak siapa kami"
"serahkan wanitamu dan lumpuhkan dirimu sendiri"
Mereka meneriaki Chuan, sambil mengarahkan jari telunjuknya.
"tolong beri kami jalan dan masalah ini selesai disini" ucap Chuan santai.
"anjing sialan,,,, ringkus dua orang itu" teriak tuan muda klan chao pada pengawalnya.
"serang,,,,"
"hiaattt,,,," terdengar teriakan yang mengomando orang orang tersebut.
"hiaattttt,,,, trannkkkk" teriakan Meilin juga terdengar bersama suara pedang yang beradu.
Sedang Chuan hanya bergerak liar dan gesit menghindari pengeroyokan. Sesekali dia membantu Meilin menangani serangan yang menyelinap dari belakang.
"ini benar benar latihan" ucap Chuan santai disambut senyum yang tersembunyi dibalik penutup wajah Meilin.
Jurus demi jurus telah diaplikasikan oleh Meilin. Tingginya tehnik pedang suci membuat pengeroyoknya mulai tumbang satu persatu. Tusukan dan goresan pedang yang cukup parah diderita beberapa pengeroyoknya.
Sudah separuh lebih para pengeroyok yang terluka parah, sedang sisanya mulai terlihat takut untuk menyerang.
"hentikan,,,," terdengar teriakan dari jauh.
"salam Komandan Tang Han" ucap tuan muda klan tang.
"Tuan Muda Tang Cin, ada apa ini" tanya Tang Han.
"kedua pemuda itu telah membunuh pengawalku" ucap Tang Cin, nama dari tuan muda klan tang.
"benarkah" tanya Tang Han sambil menatap Chuan.
__ADS_1
"mereka ingin merampas istriku, komandan" jawab Chuan santai.
"kau,,, kau,,, tuan,,," ucapan Tang Han tercekat.
"pemuda jelek sepertimu tak pantas memiliki wanita sempurna seperti dia" teriak Tang Cin tak menghiraukan perubahan pada raut wajah ketakutan dari Komandan Tang Han.
"plak,,," tamparan Tang Han mendarat diwajah Tang Cin.
"tuan dan tuan putri,,, maafkan kesalahan kami" ucap Tang Han berlutut didepan Chuan dan Meilin.
"hancurkan kultivasi mereka dan masalah ini kami anggap selesai" ucap Chuan.
"baik" jawab tegas Tang Han lalu melesat memukul bagian pusar dari anak anak tersebut.
"komandan,,, kau"
"apa maksudmu komandan"
Tang Cin dan yang lain protes sambil menahan rasa sakit. Mereka tak menyangka kalau Tang Han malah membela kedua musuhnya.
"urus mereka, kami pergi dulu" ucap Chuan dan mengajak Meilin segera berlalu dari tempat tersebut.
"baik tuan" jawab Tang Han.
"prajurit, antar mereka semua pulang" teriak Tang Han.
"mereka semua sudah buta, mengganggu pejabat khusus dan tuan putri" ucap Tang Han.
"sampaikan hal ini pada keluarga mereka" lanjut Tang Han memberi arahan pada prajuritnya.
"siap komandan" jawab para prajurit serempak.
***
Chuan dan Meilin akhirnya sampai diistana Kaisar Jing. Suasana hidup terlihat di istana kekaisaran. Ratu permaisuri langsung meminta para pelayan untuk menyiapkan jamuan besar.
Malam harinya terlihat para selir dan putra putrinya datang. Dalam senyum dan ucapan selamat mereka tersirat sudut bibir beberapa putra putri ratu selir yang mencibir.
Kaisar dan permaisurinya hanya tersenyum melihat ekspresi mereka. Keduanya tidak mau menjelaskan keadaan asli Chuan. Melihat sikap santai Chuan, keduanya hanya menggelengkan kepalanya.
Malam panjang dalam pesta keluarga kekaisaran telah berakhir. Pagi yang menjelang membawa warna dan cerita yang menjadi kasak kusuk diantara putra putri ratu selir.
"keberuntungan anak jelek itu besar juga"
"masa Meilin mau dengannya, hanya karena sumpah belaka"
"kalau aku jijik melihat wajah hitamnya"
Masih banyak lagi kasak kusuk yang terdengar dibeberapa istana ratu selir.
Banyak yang datang saat mendengar kedatangannya. Berita Chuan dan Meilin telah menikah secara sederhana telah tersebar luas dikalangan pejabat istana.
__ADS_1
Kepulangan pasangan tersebut, memicu antusias para pejabat untuk memberikan hadiah. Meskipun terdapat mereka yang datang untuk menjilat. Namun lebih banyak yang membawa ketulusan dalam kedatangan mereka.