
Mentari masih sejuk menyapa, nenek hong sudah selesai memasukkan keranjang dan beberapa potong pakaian yang masih layak dipakainya.
"kita makan dulu dikedai" ajak nenek hong.
"tidak usah nek, telan ini saja" ucap chuan sambil menyodorkan dua pil nutrisi.
Nenek hong tersenyum menerimanya, lalu menelan satu pil.
"masihkan perlu untuk sedikit bernostalgia nek" tanya chuan saat dihalaman.
"tidak chuan, biarkan pintunya terbuka agar warga yang penasaran bisa masuk" ucap nenek sambil terus berjalan.
Pagi yang belum beranjak dan letak rumah yang hampir diujung desa membuat tak seorangpun memperhatikan kami.
"siapkah melintasi hutan" ucap chuan saat tiba dipingiran hutan.
"nenek terlalu siap, energi yang semalam membuat tubuh ini rasanya segar kembali" ujarnya sambil tersenyum.
Dengan harapan baru nenek hong berjalan santai disamping chuan. Kisah masa lalu nenek hong meluncur mengisi kesunyian hutan. Kadang beberapa nyanyian burung terdengar. Terkadang kesunyian yang mencekam.
Menurut nenek hong, binatang buas dihutan ini sepertinya sudah punah.
Sekarang hutan ini menjadi tempat persembunyian sekaligus markas beberapa sekte aliran hitam. Sering terjadi perebutan wilayah diantara mereka.
Saat semakin dalam memasuki wilayah hutan terlihat jalan setapak mulai tersamarkan oleh rerumputan.
__ADS_1
"dimana kira kira markas mereka nek" tanya chuan. "beberapa kilometer disebelah kanan adalah tempat mereka, sedang pastinya nenek tidak tahu" jawabnya.
"guru" panggil chuan lewat pikirannya.
"beloklah kekiri dulu sebab hutan didepan cukup lebat" saran patriak lion.
"kita jalan lewat sini nek" ajak chuan mengajak belok kekiri keluar dari jalan setapak.
"ada apa chuan" tanya nenek hong.
"hutan didepan cukup lebat, sebaiknya kita menghindari masalah yang mungkin menunggu didepan sana" jelas chuan.
Diam diam chuan mulai mengalirkan qi kematanya. Energi yang mengalir menggugah ketajaman matanya. Gerakan kecil yang jauh didepan tak luput dari pandangannya.
Lebih dua kilometer mereka merubah jalur perjalanannya. Tanpa nenek hong sadari chuan selalu melirik arah kanannya.
Setelah dirasa beberapa bayangan yang sesaat tadi terlihat kini menghilang. Arah mereka sekarang sedikit serong kekanan. Pagi telah berganti siang.
Terik sang matahari mulai terasa menerobos celah pepohonan. Dikarenakan sedikit melenceng dari jalurnya membuat perjalanan mereka belum ada separuhnya.
"lelahkah nek" tanya chuan.
"sedikit" jawab nenek hong sambil tersenyum.
"berhenti sebentar dan telan pil ini" ucap chuan sambil menyodorkan pil nutrisi hijau dan pil penguat tubuh.
__ADS_1
Tak lupa seguci arak chuan keluarkan dari cincin dimensinya.
"silahkan nek" ucap chuan sambil menyodorkan guci araknya.
"gluk, gluk, gluk,,, ahhh" terdengar nenek hong menikmati araknya.
Ternyata sejak tadi dia memendam rasa dahaga. Pil yang diterimanya sudah pula ditelannya. Reaksi pil yang cukup cepat memulihkan energi, membuat dia kian semangat.
"jalan lagi nek" ajak chuan setelah sesaat beristirahat. Dijawab dengan anggukan dan merekapun berdiri dari duduknya.
Langkah mereka kali ini sedikit lebih cepat dari semula. Kewaspadaan yang tetap chuan jaga. Bukan takut ancaman tapi lebih pada keselamatan nenek hong.
Jauh sudah perjalanan mereka. Hari mulai merangkak berganti senja. Terdengar nyanyian burung burung memanggil anak atau pasangannya untuk kembali kesarang. Beberapa hewan melata mulai melakukan aktifitasnya.
Mata chuan yang tajam memudahkannya mengetahui gerakan kecil dari ular yang sedang bersembunyi. Siluet kemerahan dibelakang, membuat nenek hong sedikit mengerutkan wajahnya.
"kenapa nek" tanya chuan.
"sebentar lagi malam, apa kita harus tidur dihutan". Mendengar jawaban itu chuan hanya tersenyum.
Tak seberapa lama, malampun datang.
"hari sudah mulai gelap naiklah dipunggungku, biar aku menggendongmu nek" ucap chuan lalu sedikit membungkuk membelakangi nenek hong.
Chuan mulai mengalirkan qi murninya dan mengeluarkan ilmu naga terbang diawan. "pegangan nek" teriak chuan.
__ADS_1