
Dikarenakan siang nanti ada pergantian petugas jaga dan kebetulan tetua tiga yang menggantikannya. Dan mengetahui akan sifat tetua tiga yang sedikit arogan membuat tetua zhao menyarankan untuk chu fan segera mengantar chuan dan neneknya.
Bahkan dia minta maaf kalau pagi ini tidak dapat menjamu, dikarenakan kesibukannya.
"apakah keberatan jika chu fan menemani kalian" tanya tetua zhao.
"terima kasih tetua, kami malah senang ada yang menemani" jawab chuan.
"chu fan berangkatlah, biar barangmu dibawakan yang lain" ucap tetua.
"baik tetua" jawab chu fan.
"adakah yang kalian persiapkan" lanjutnya bertanya pada chuan dan nenek hong.
"hehehe, aku tidak membawa apa apa hanya nenek tua ini jadi gak perlu persiapan" jawab chuan.
"oohhh" guman chu fan sambil tersenyum menyadari kalau pertanyaannya salah.
Jawaban chuan yang seenaknya barusan membuat yang lain sedikit tersenyum.
"terima kasih tetua, semoga kami bisa membalas kebaikan ini" ucap chuan.
"sama sama chuan" ucap tetua zhao.
"kami pamit tetua" ucap nenek hong sambil membungkukkan badan.
"silahkan dan berhati hatilah kalian" balas tetua zhao.
Mereka bertiga mulai melenggang dengan santai.
"berapa usiamu chuan" tanya chu fan.
__ADS_1
"belum genap dua puluh tahun" jawabnya.
"kalau aku tiga puluh tahun" lanjut chu fan.
"mau digendong lagi nek" goda chuan.
"tidak, malulah pada chu fan" jawab nenek hong.
"ooo, minta chu fan yang menggendong, apa nenek naksir? ngaca dong" usil mulut chuan.
"huh" jawabnya gemas.
"hahaha" tawa chu fan terdengar meski sedikit terkejut dengan mulut usil itu.
Canda tawa tercipta diantara ketiganya. Bahkan chu fan mulai terkontaminasi keusilan chuan. Sesekali ikut juga menggoda nenek hong.
Tak terasa perjalanan mereka mulai mendekati gerbang masuk kota kingsan. Terlihat prajurit jaga memeriksa warga yang hendak masuk kota. Ketiganya tidak kesulitan dalam pemeriksaan karena lencana perak yang menunjukkan murid inti sekte utama.
Penginapa giok putih, terlihat papan nama yang mencolok diatas pintu.
"selain sebagai penginapan juga digunakan sebagai rumah makan" jelas chu fan mengetahui chuan memandangi tempat tersebut.
"nenek lapar yaa" tanya chuan.
"lapar juga tapi..." nenek hong tidak melanjutkan ucapannya.
"didepan ada kedai yang cukup murah, kalau disini koin perunggu kalian bisa habis, hehehe" ledek chu fan. "whahaha, kalau habis nanti nenek yang aku jual" jawab chuan lebih usil.
"huhh, kalian gak pernah puas ngeledeknya dari tadi" sahut nenek hong mulai asyik dengan ledekan keduanya.
Dengan santai chuan melangkah ke pintu penginapan tersebut.
__ADS_1
"chuan" panggil chu fan bingung juga melihat tingkahnya saat ini.
"ayo, sesekali nenekku diajak makan ditempat seperti ini, lihat air liurnya udah mau keluar tuhhh" usil chuan seenaknya.
Keduanya lalu mengikuti chuan masuk.
"selamat datang digiok putih" sapa pelayan sambil memandang chu fan.
"bisa kami dilantai dua" tanya chuan meski diacuhkan pelayan tersebut.
"untuk dilantai dua kena tambahan dua koin perak" jawabnya.
"ini cukup" kata chuan sambil menyodorkan satu koin emas.
"si silahkan, lewat sini" jawabnya sedikit gugup setelah menerima koin emas.
Mereka bertiga menaiki tangga menuju lantai dua. Tiba dilantai dua terlihat hanya empat pengunjung yang menempati satu meja. Mengambil tempat yang bisa memandang keluar, mereka bertiga menunggu pelayan datang.
"ini daftar menu kami" ucap pelayan menghampirinya. Mereka memesan dua ayam pedas utuh, nasi buat tiga orang dan tak lupa arak.
Setelah mencatatnya pelayan tersebut segera berlalu.
"aku nanti menghadap guru dulu, kalian berdua bisa mencari tempat untuk menungguku" kata chu fan sedikit serius.
"berapa lama" tanya chuan.
"bisa nanti langsung bertemu atau besok" jawabnya
"tak apalah, aku dan nenek sudah biasa jadi gelandangan kog" jawab chuan lehih santai.
"huhh" chu fan geram juga dari tadi terus dijawab seenaknya.
__ADS_1
"hahaha" "bukan biasa tapi memang gelandangan" "pengemis aja belagu" terdengar celoteh empat pengunjung lain setelah mencuri dengar.