
Kemelut intern antar tetua sekte sampai jadi pergunjingan dikedai. Mereka merasa khawatir seandainya anak kedua yang menjadi pengganti. Karena dari kecil sudah terlihat sombong dan kasar. Bahkan akhir akhir ini pengawalnya sering terlihat memancing masalah dan memeras warga.
Asyik mencuri dengar, tanpa sadar senjapun datang. Terlihat dari kedai, enam anak kecil termenung ditepi jalan dengan pakaian lusuh.
"maaf paman, siapakah mereka" tanya chuan pada pengunjung didekatnya.
"anak anak itu yaa"
"iya" jawab chuan
"kamu orang baru disini"
"iya paman, aku mengantar nenek untuk mencari tabib dikota"
"mana nenekmu"
"dipenginapan giok putih, tetua zhao yang menolong kami" "ooo" ucapnya lalu menjelaskan.
Mereka dari desa diperbatasan, orang tuanya meninggal karena perampokan. Tetua zhao yang membawa mereka. Jumlah mereka ada dua puluhan anak.
Dua rumah dari sini ada gang kecil. Masuk gang itu akan ketemu rumah tua, disanalah merrka tinggal. Seorang wanita tua yang merawatnya.
Para warga juga membantu ala kadarnya. Keseharian mereka cukup memprihatinkan. Tetapi para warga juga tak bisa berbuat banyak.
Suasana kedai hening sejenak ketika dia selesai menjelaskan. Setelah membayar chuan keluar kedai dan mendekati anak anak tersebut.
"kakak bisa beri sedikit koin untuk kami" ucap seorang anak perempuan yang paling kecil.
"koin seperti ini apa mau" ucap chuan sambil menyerahkan sepuluh koin perunggu.
__ADS_1
"terima kasih kak" ucapnya sambil meneteskan air mata. "kita bisa makan malam ini" teriaknya lagi kepada yang lain.
Keenam anak tersebut kemudian berdiri dan membungkukkan badannya kearah chuan.
"terima kasih kak" ucap anak laki laki berumur delapan tahunan.
"dimana kalian tinggal" tanya chuan.
"disana, tak jauh dari sini" jawabnya.
"boleh aku ikut" lanjut chuan.
"tapi rumah kami jelek" ucap anak perempuan tadi.
"tak apalah" ucap chuan.
"ayo" ajaknya.
"permisi bibi" ucap chuan saat melihat seorang wanita paruh baya didepan rumah yang didatangi anak anak itu. "siapa dia, ming" tanya bibi pada anak laki laki tersebut yang ternyata bernama ming.
"dia yang memberi ninie koin" jawabnya.
"namaku bibi chufei" ucapnya memperkenalkan diri "namaku chuan" ucap chuan.
"mari silahkan masuk, tapi maaf tempat kami kumuh" ucapnya mengajak chuan masuk rumah.
Tanpa terlihat perabot yang tersedia. Mereka duduk dilantai beralas apa adanya. Satu persatu anak anak yang ditampung chufei keluar.
"salam kak" "hii pipinya hitam" "tapi tetap tampan lho" berbagai celotehan anak anak saat melihat chuan
__ADS_1
"hus jangan berisik" ucap ming menenangkan teman temannya.
"ini anak anak yang tinggal disini" kata bibi fei.
"bagaimana keseharian mereka bi" ucap chuan sambil melihat satu persatu anak asuh bibi fei.
Meski terlihat kumuh dan sedikit kurus. Ketegaran tetap terukir diwajah mereka.
"kadang beberapa warga memberi bantuan kepada kami" ucap bibi fei.
Sering juga dia merasa sedih saat melihat anak asuhnya murung. Kejenuhan dan rasa iri dengan anak warga yang sedang bercanda dengan orang tuanya.
Penjelasan yang sampaikan chufei membuat chuan terharu. Jangankan untuk membeli pakaian, buat makan saja mereka sering kekeurangan.
"apa koin perunggu bisa membantu kalian" tanya chuan. "meskipun koin perunggu, kami sangat terbantu untuk menyambung hidup" ucapnya.
"ini ada sedikit koin perunggu, tolong digunakan sebaik baiknya" ucap chuan sambil mengeluarkan setumpuk koin perunggu dari cincin penyimpanannya.
Semua koin perunggu yang dia punya diserahkan pada chufei. Meskipun cuma setara dengan dua koin emas, tetap membuat mereka terkejut.
"chuaannn, ini,,,," terdengar bibi fei berteriak kecil.
"gunakan untuk mereka" ucap chuan disambut dengan isak tangis kebahagiaan oleh mereka.
Tanpa takut beberapa anak perempuan usia enam tahunan memeluk chuan. Ucapan terima kasih terdengar disela isak tangisnya.
"gunakan sehemat mungkin, semoga ada saatnya aku bisa membantu kalian lagi" ucap chuan.
"terima kasih" kata bibi fei tetap terisak.
__ADS_1
"kalau nenekku mau tinggal disini, mungkin bisa membantu bibi fei mengawasi mereka" ucap chuan
"aku malah senang kalau ada teman sudi untuk itu" jawab bibi fei.