
Chuan lalu berdiri dan memanggil anak itu untuk mendekat padanya.
"kata ayah, paman adalah dewa penolong untuk keluarga kami" ucapnya saat dihadapan Chuan.
"hehehe,,,, ayahmu saja kalau menjelaskan terlalu tinggi" ucap Chuan sambil memegang pergelangan tangannya.
"hahaha,,, tanganku seperti digigit semut" ucapnya sambil tertawa. Energi sepiritual yang Chuan alirkan terus menelusuri untuk memastikan apa yang akan dilakukannya pada anak tersebut.
"hemmmm,,," guman Chuan setelah menarik energi sepiritualnya kembali.
"rambutmu dipotong habis apa boleh" tanya Chuan pada Tantan.
"kenapa paman" ucapnya penasaran.
"agar kau bisa berlatih silat" ucap Chuan.
"mau,,,," ucapnya.
Semua yang hadir tak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Chuan. Namun Lou Sin langsung mengerjakan apa yang diucapkan Chuan. Menggunduli anaknya, dan juga menyiapkan alas tidur yang diletakkan dilantai ruang tamu.
"minum dulu lalu tidur tengkurap dilantai" ucap Chuan. Tak ada keluhan dari setiap apa yang diperintahkan Chuan. Dengan kesulitan dia mengerjakan semua itu. Tidur tengkurap dengan tangan terlentang yang diatur oleh Chuan.
Chuan mulai menyalurkan energi spiritual, untuk membantu penyerapan eleksir yang telah diminum Lou Tan. Chuan merasakan dibeberapa titik tertentu ada penyumbatan yang membuat anak tersebut tidak dapat mengontrol anggota tubuhnya.
Puluhan jarum perak dilempar Chuan, dan melayang diatas tubuh Lou Tan.
"tahan yaaa,,, ini sedikit sakit" ucap Chuan sambil mengayunkan tangannya. Satu persatu jarum menusuk tubuh Lou Tan.
"uhhhh" terdengar lenguhan Lou Tan menahan sakit.
"Tantan pasti kuat" ucap Lou Sin menyemangati anaknya. Semua jarum sudah menusuk tubuh anak itu, dari kaki sampai kepalanya.
Jarum perak juga banyak di area pundak dan kepala Lou Tan.
"uhhhh,,,, uhhhhh,,,, uhhhh" gumanannya terdengar karena menahan sakit yang dirasakan.
"achhhhhhhh ,,,,," teriaknya, bersamaan dengan itu tangan Chuan bergerak. Terlihat semua jarum perak melayang dan masuk kembali ke cincin Chuan
Tubuhnya tegang lalu gemetar untuk beberapa saat. Keringat yang keruh keluar cukup banyak. Chuan terus membantu melancarkan sirkulasi darah dengan energi spiritualnya.
"energi dari pil yang dikonsumsinya masih tersimpan" batin Chuan, dan mulai membantu mengalirkan keseluruh tubuh anak itu. Tindakannya juga membantu menekan keluar racun dari pil yang dipakai untuk mengobatinya selama ini. Bukan lagi keringat keruh, namun cairan hitam kental banyak menempel ditubuhnya.
Semakin lama, kondisinya mulai stabil dan nafasnya sudah teratur.
"duduklah sudah selesei" ucap Chuan
__ADS_1
"badanku terasa berbeda" ucapnya setelah duduk.
"bukan berbeda tapi bau, mandi dulu sana" hardik Chuan menbuatnya mencium bau tubuhnya.
"iya nich" ucapnya bergegas bangun dan berlari kebelakang, tanpa sadar dia sudah bergerak tanpa canggung.
"oh,,,"
"anakku,,," ucap Lou Sin dan istrinya terkejut. Anaknya berlari dengan normal tanpa kesulitan seperti sebelumnya.
Spontan keduanya menjatuhkan lututnya dihadapan Chuan.
"terima kasih tuan muda" ucap mereka.
"bangunlah, aku minta kamar untuk beristirahat dulu" ucap Chuan.
"baik, mari aku antar" ucap Lou Sin.
Chuan dan Meilin mengikutinya menuju sebuah kamar yang cukup luas.
"maaf aku istirahat dulu" ucap Chuan
"silahkan, tuan muda" balas Lou Sin, lalu meninggalkan tempat itu.
Senentara Chuan bermeditasi untuk menstabilkan kondisinya dan terus memdalami kitab pengobatan. Meilin juga berkultivasi menyempurnakan pil yang telah disiapkan oleh Tetua Gun. Disisi lain, Lou Sin dan keluarganya mengajak kedua karyawannya bergadang untuk merayakan kesembuhan putranya.
Gunung Suci
Dipagi hari yang cerah, sepukuh hari setelah pesta malam itu. Beberapa kelompok dan desa kecil disekitar gunung suci, mengirim perwakilan mereka. Rouyan dan Luosan menerima dua wakil dari tiap kelompok dan desa untuk naik kebukit.
"apa tujuan kunjungan kalian yang sebenarnya" tanya Rouyan saat mereka sudah berkumpul diatas bukit.
"bertahun tahun kami tinggal di sekitar hutan kabut" ucap pria tua mewakili kelompok tersebut.
Mereka pernah menyuruh orang masuk kehutan, namun tak ada yang pernah keluar. Saat kabut yang menyelimuti hutan menghilang, rasa penasaran muncul. Selain ingin mengetahui nasib orang orang mereka. Juga penasaran apa yang disembunyikan oleh dibalik kabut tersebut.
"untuk memuaskan rasa penasaran kalian, silahkan melihat suasana dibukit ini" ucap Rouyan. Namun ada dua rumah yang ditempati lebah hitam beracun. Mereka tidak diijinkan untuk mengusiknya. Seandainya tetap melakukan, Rouyan tidak bertanggung jawab akan akibatnya.
Terlihat ribuan lebah dikedua rumah tersebut. Para lebah hilir mudik dalam posisi siaga, sesuai pengaturan kedua ratunya. Membuat para pengunjung sedikit bergidik menyaksikannya.
Rouyan menemani mereka berkeliling tempat tersebut. Dia juga menjelaskan sebagian kecil, apa yang ditemukan. Tiap tiap rumah yang sebelumnya terdapat kamar, saat itu dirubah Chuan menjadi ruang luas tanpa sekatan. Hanya menyisakan dua rumah yang ada kamarnya. Yaitu yang ditempati Chuan dan Rouyan bersama cucunya.
Lereng bukit teedapat tanaman buah dan obat obatan dijelaskan kalau mereka yang mengolahnya. Setelah puas mereka melihat tempat tersebut, akhirnya berkumpul lagi.
"tempat seluas ini apa tidak bosan kalau hanya kalian berdua" tanya salah seorang ketua kelompok dengan nada sinis.
__ADS_1
"apa tujuan kalian sebenarnya" tanya Rouyan tenang.
"kami ingin menjadikan tempat ini sebagai markas" lanjut orang tersebut.
"apa yang lain juga seperti itu" tanya Rouyan.
"namaku Huang Di, mewakili kelompok pemburu dan kelompok lain yang selalu berpindah pindah" ucap pria paruh baya dengan nada santun.
Kelompok tersebut meminta untuk bisa tinggal ditempat tersebut. Wilayah gunung suci sebenarnya berada disimpang tiga benua daratan. Sebagian masuk wilayah timur dan tengah, sebagian juga dibekas benua utara yang selalu bergolak.
Perebutan wilayah dan kekuasaan oleh klan, penguasa kota dan kelompok tertentu, menjadikan kelompok mereka selalu berpindah untuk keselamatan anggota keluarga besarnya.
"hahaha,,, klan huang bermimpi untuk bangkit kembali" ucap ketua kelompok yang diabaikan oleh Rouyan.
"ohhh,,, apakah kau dari klan huang" tanya Rouyan juga penasaran.
"iya, kami hanya ingin tempat untuk generasi muda klan" jawab Huang Di.
"seandainya menempati lahan diluar benteng apa kalian bersedia" tanya Rouyan.
"dimanapun kami siap, karena kondisi keluarga yang cukup kesulitan untuk terus berpindah pindah" jawab Huang Di.
"whahaha,,, aku sarankan untuk tunduk dan menjadi anggota serigala darah, biar keluarga kalian terjamin" ucap ketua tersebut, yang ternyata dari ketua gerombolan perampok serigala darah.
"ahhhh,,, ternyata gerombolan perampok yang cukup ditakuti diwilayah ini" ucap Rouyan
"bukan hanya diwilayah ini, tapi hampir diseluruh bekas benua utara, whahahaha" balasnya sambil tertawa keras.
"untuk klan huang kembalilah sebulan lagi, beri kami waktu untuk berpikir" ucap Rouyan.
"tak perlu sebulan kalau tunduk padaku, besok kalian bisa pindah ketempat ini" ucap ketua serigala darah dengan arogan.
"baiklah, kami permisi dulu" ucap Huang Di sambil mengepalkan kedua tangan sebagai ungkapan hormat pada Rouyan. Kemudian beberapa wakil kelompok mengikutinya turun dari tempat tersebut.
Rouyan yang menyembunyikan tahap kultivasinya ditahap langit, terlihat tenang.
"seorang tahap langit awal berusaha menguasai tempat ini"
"sok berkuasa"
"tak tahu tingginya langit"
"katak yang ingin meraih bulan" kata kata sinis terdengar dari orang orang yang masih tinggal tempat tersebut.
Terdapat dua puluhan orang dari kelompok kelompok kecil yang ternyata pecahan dari gerombolan serigala darah.
__ADS_1
"tinggalkan tempat ini" ucap Rouyan tegas.
"whahahaha,,, jangan berteriak padaku pak tua" ucap ketua gerombolan.