
Para pemuda desa mulai terpecah belah, satu kubu menjadi anggota sekte yang satunya secara diam diam tetap berusaha membebaskan desanya.
Malam hari kesunyian pun datang, jatah makan yang diterima hanya sekedar untuk hidup saja. Hanya karena beberapa pemuda yang berharap kepala desa dan sesepuh desa nantinya bisa kembali memimpin mereka.
Ada beberapa berita yang dibawa kedua pemuda tadi, dengan berbisik kami mendengarkan berita yang didapat. Kadang tenggelam dalam keheningan kala terdengar langkah kaki diluar.
Dua hari lagi ada penyergapan dihutan, ada rombongan saudagar yang melintas. Perkiraan waktu siang hari, jadi persiapannya sudah dimulai malam ini. Beberapa anggota akan berangkat besok atau bisa juga malam ini, untuk memasang jebakan dan memastikan area yang tepat untuk penyergapan, sesanya besok malam.
Separuh anggota sekte yang keluar dan para tetua sekte, tinggal satu tetua, anggota tahap awal serta para pemuda desa yang belum dipercaya sepenuhnya oleh tetua sekte.
"paman bertiga aku ada rencana dan mengajak komandan" mulai membeberkan rencana. Malam ini kami berdua akan keluar, untuk komandan segera minta bantuan prajurit.
Beberapa pil nutrisi dan penawar racun dari perampok dulu aku serahkan pada komandan untuk dibagikan, prajurit yang diikat siang tadipun sudah dilepaskan.
"pil penawar racun yang kalian terima hanya sedikit saja membantu, pil nutrisi selain membuat kenyang juga sedikit memulihkan tenaga" ucapku.
"terima kasih pendekar" jawab para prajurit.
"jangan keras keras kalau bicara" tegur komandan
"baik" jawab mereka serentak sedikit pelan.
"hehehe" tawaku pelan
"ada apa nakmas" "kalau prajurit bicara pelan, garangnya jadi hilang" jawabku diiringi senyum semuanya.
"untukmu, rubah sikap dan tabiatmu, jangan karena keponakan seorang komandan cun akhirnya memandang orang lain sebelah mata" ucapku sambil menunjuk seorang prajurit. Dia hanya menatapku, entah apa artinya tapi tidak segarang tadi siang.
"boleh tahu namamu" ucapnya,
"orang menjulukiku Pendekar Hitam, tidak layak kamu sombong dohadapanku, bahkan komandanmu pun tidak berani" jelasku sambil menunjukkan lencanaku
"berukir emas" bisik para prajurit terkejut.
"maafkan kami" bisik mereka serentak sambil hormat.
"tak perlu seperti itu, siapa yang punya penutup wajah" lanjutku
"ini tuan" jawab seorang prajurit sambil menyerahkan enam kain penutup wajah.
"untuk menutupi wajah jelekku saja, hehehe" gumanku sedikit jelas didengarkan mereka,
"hehehe, haha, hihi" tawa mereka ditahan.
"siapkan diri kalian untuk dua hari lagi, tetap seperti biasa jangan menimbulkan kecurigaan" ucapku
"kami butuh bantuan paman bertiga" lalu menjelaskan, untuk besok malam para pemuda yang masih setia dengan desanya agar berjaga dirumah rumah tempat warga desa dikumpulkan.
Kalau terjadi sesuatu mereka harus memakai kain putih diikatkan dilengan dan jangan ikut panik. Panjang lebar menjelaskan rencanaku sampai ketiganya paham. Lama terdiam dalam harapan dihati mereka, tiba tiba terdengar suara ramai diluar.
__ADS_1
Mungkin malam ini mereka mulai bergerak.
"aku melihat situasi dulu paman" ucapku lalu merapal ilmu bayangan naga, lalu melompat bergatungan dibawah atap.
Pelan pelan membuka atap seukuran tubuh paman gion. Setelah keluar langsung melesat menuju pohon rindang, dengan ilmu bayangan hawa keberadaanku tersamar pula oleh energi alam.
Suasana didepan bangunan tempat tinggal anggota sekte begitu ramai,
"kesempatan yang baik" batinku.
Lalu melesat, kembali keatas atap
"sekarang paman" ucapku pelan diikuti lesatan paman gion keluar melalui atap yang terbuka.
Setelah menutup kembali atap yang terbuka, kemudian menyusul paman gion yang lebih dulu melesat menuju batas desa.
Jauh melewati batas desa, kami berhenti ditepi hutan. "nakmas tunggu mereka disini" kata paman gion
"baiklah, tapi kita nanti ketemu dimana?"
"telusuri jalan kecil didepan nanti ada jalan besar, kalau kekanan arah kota raja, sedang kekiri arah kota tiran" jelasnya,
Untuk sampai kota raja harus melewati beberapa kota kecil, maka paman gion memilih menuju kota tiran. Salah satu kota besar yang mempunyai banyak prajurit keamanan.
Derap kaki kuda terdengar dikejauhan yang semakin mendekat. Ilmu bayangan naga menyembunyikan hawa keberadaanku. Cahaya malam sedikit menyinari, ketika duapuluhan anggota perampok melintas dibawah pohon tempatku bersembunyi.
"kita menunggu pagi untuk mulai menyiapkan jebakan, sekarang kita bagi tugas masing masing" ucap tetua busan.
Mulailah membagi menjadi tiga kelompok kecil dengan tugas yang dibebankan tiap kelompok.
"siap tetua" ucap mereka serempak setelah tetua busan selesai menyampaikan rencananya.
Rombongan ini ternyata dipimpin oleh tetua busan, orang yang mengaku sesepuh desa.
Waktu yang seakan berjalan pelan kini sudah berganti pagi. Kicauan burung mengiringi rombongan yang mulai bergerak.
Sampai dititik yang ditentukan mereka berpisah. Tempat yang strategis, tepat ditengah jalan besar yang membelah hutan. Terdapat banyak pohon besar yang baik untuk bersembunyi.
Sepuluh orang dengan lari cepat melesat ketepi hutan, sedang sisanya mulai memasang jebakan dan menandai titik tempat sembunyi mereka untuk melancarkan penyergapannya.
Selesai memasang jebakan dan peraiapan yang lain, mereka duduk santai sedikit jauh dari jalan. Tetua busan yang sebelumnya tinggal ditenda terlihat melesat mendekati mereka ditemani dua anggota yang selalu mengawalnya, dari cincin dimensi dikeluarkannya beberapa guci arak.
Lalu melesat menuju ketepi hutan tempat anggota lain yang sedang mengintai. Sesampai dilokasi hal yang sama juga dikeluarkannya.
Selesai bercakap cakap sebentar diapun melesat mau kembali ke tenda. Tanpa ilmu bayangan naga aku melintas agak jauh didepannya. Melesat menuju kebagian dalam hutan.
"hehe, kena kalian" batinku saat menyadari mereka terpancing untuk mengejarku. Setelah cukup jauh memasuki hutan, laju lariku mulai berkurang.
"berhenti" teriak tetua busan.
__ADS_1
"hahaha salam tetua" sapaku sambil tertawa,
"siapa kamu" bentaknya,
"baru kemarin bertemu masih bertanya apa sudah mulai lupa ingatan, hehehe" jawabku sambil buka cadar.
"pendekar hitam, bagaimana kamu bisa ada disini" ucapnya terkejut,
"hahaha" tawaku
"pendekar tengik" teriak dua orang lainnya
"habisi dia" seru tetua busan, diikuti lesatan keduanya. "hiaatttt" serangan yang cepat dan mematikan langsung dilancarkan dengan pedang terhunus.
Tak ada sepuluh jurus, totokanku sudah mendarat dikeduanya.
"sial, hiaattttt" tetua busan marah dan mengeluarkan jurus dengan tenaga dalam, "blurrr" pohon besar tumbang saat terkena jurusnya.
Jurus demi jurus semakin gencar dan ganas. Ilmu menari diatas samudra terlalu mudah untuk mengimbanginya. Duapuluh jurus berlalu, mulai merapal ilmu naga api.
Kemarahan membuat hilang kewaspadaannya,
"bless, acchhh" terdengar ketika pukulan kami beradu.
Api yang keluar dari tapakku tidak dapat ditahannya.
Tetua busan roboh dengan tubuh hangus terbakar.
"ampun pendekar" ratap dua orang yang tertotok sebelumnya. "bless" pukulan memecah ombak samudra mendarat ditubuh keduanya.
"aaccchhhhhh" teriak mereka.
"tahapan kalian sudah musnah pergilah, kalau bertemu lagi tak ada ampun buat kalian" ucapku sambil mendekati mayat tetua busan dan mengambil cincinku yang ternyata dia kenakan.
Tanpa membuang waktu lagi, aku melesat ke lokasi penyergapan. "hiaatttt" langsung menyerang mereka untuk sekedar melumpuhkan dengan totokan yang aku dalami ketika belajar teknik akupuntur.
Karena kelengahan dan sebagian dalam pengaruh arak, tak perlu waktu lama untuk melumpuhkan mereka. Mereka aku biarkan berserakan dalam keadaan tertotok, hanya mata mereka yang menyiratkan ketakutan.
Kemudian melesat ketepi hutan dan kejadian serupa aku lakukan.
"mana paman gion, katanya siang bantuan sudah datang" batinku sambil bersandar didahan pohon.
Hari menjelang senja, "drap, drap" terdengar derap kuda dikejauhan dan kepulan debu terlihat. Barisan prajurit semakin mendekati hutan.
"berhenti" teriak komandan prajurit yang disampingnya telihat paman gion. Seratusan prajurit rapi berjajar diatas kudanya.
"selamat datang paman gion" teriakku sambil melompat didepan mereka.
"tahan" teriak paman gion
__ADS_1