
"gila,,, kau benar benar gila" teriak Erlong sambil menatap Chuan.
"whahaha,,, kenapa melotot seperti itu paman" tanya Chuan.
"masalah serius seperti ini kau bilang hanya sekedar jamuan minum arak" jawab Erlong.
"whahaha"
"hahahaha"
wkwkwkwk" gema tawa terdengar menggema.
"kita masih ada waktu" ucap Chuan. Kemungkinan mereka menerobos perbatasan setelah pergantian prajurit jaga.
"berarti kita punya waktu dua puluh hari" ucap Erlong.
"bisakah melihat identitas para prajurit pengganti" tanya Chuan.
"bisa, meskipun saat ini diurusi oleh bawahan Tang Han" jawab Erlong.
"baiklah kalau begitu, namun kondisikan semua prajurit pengganti berasal dari klan tang dan chao" ucap Chuan
"apa yang akan kau lakukan, ada lima ratus prajurit yang direncanakan berangkat" ucap Erlong.
"mengurangi sedikit kekuatan musuh akan berdampak besar bagi kita" ucap Chuan.
"dimana kita menyergap mereka" ucap Erlong.
"setelah melewati pinggiran kota, mereka akan melintasi bukit kecil untuk sampai dikota selanjutnya" jawab Chuan.
"hahaha, rencanamu menang gila" ucap Erlong.
"paman hanya perlu menugaskan Komandan Xhuan dan prajuritnya" ucap Chuan.
"untuk Paman Rouyan, penjarahan sebaiknya dilakukan saat itu juga" lanjut Chuan.
"baiklah, aku faham maksudmu" jawab Rouyan.
"sekiranya cukup untuk saat ini, dan kami semua pamit" ucap Chuan
"hati hati tuan muda" balas Erlong dan para tetua.
"terima kasih paman" ucap Chuan sambil mengajak berangkat kedua puluh prajurit khusus.
Malam yang sudah larut dan gelapnya suasana saat itu. Memudahkan Chuan dan yang lain melintasi kota tanpa kecurigaan. Ilmu bayangan naga yang mereka terapkan menambah kelancaran mereka.
Sampai dipingiran kota mereka berhenti sejenak. Chuan memberitahu Sin Wan dan yang lain untuk kembali ke lembah suci. Namun sebelumnya menitipkan surat untuk Komandan Xhuan. Lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat pertemuan yang sudah diberitahukan oleh prajurit telik sandi.
Malam berlalu dengan cepat, dan pagipun sudah beranjak siang. Dua puluhan satu orang berpakaian hitam dan memakai penutup muka, terus melesat menyusuri pinggiran hutan. Mereka menghindari desa atau kota kecil yang seharusnya dilewati.
Pil nutrisi dan pil pemulih energi dikonsumsi oleh mereka. Membuatnya tak memerlukan istirahat dalam perjalanannya. Senja telah tiba, begitupun tempat pertemuan sudah tak jauh lagi.
Diitengah perjalanan mereka, terlihat dua orang yang menghadang.
__ADS_1
"maaf mengganggu perjalanan kalian, kami para pemburu dan siapakah tuan tuan ini" ucapnya
"kami pemburu serigala" jawab seorang prajurit khusus.
"dimana buruan tuan tuan" lanjut orang tersebut.
"buruan kami ada di depan" balas prajurit itu.
"hahaha,,, pasti rombongan Tuan Muda Chuan" ucapnya setelah kata sandi mereka berbalas.
"aku Luang dan ini Zun, kami ditugaskan menjemput tuan muda dan yang lain" lanjutnya.
"iya, tunjukkan jalan untuk kami" ucap Chuan.
"baik, ikuti kami" ucap Luang, lalu dua orang tersebut melesat membelah hutan.
Tak begitu jauh mereka memasuki hutan, kini terlihat belasan rumah kayu yang teratur penataannya. Chuan dan lainnya diajak menuju sebuah rumah yang paling besar.
"salam tuan muda, aku Tian Dan" ucap Tian Dan menyambut mereka dihalaman rumah tersebut.
"salam" jawab Chuan, sambil melepas cadarnya dan diikuti semua prajurit khusus.
"mari kita bicara didalam" ajak Tian Dan, sambil mempersilahkan Chuan berjalan dulu.
Memasuki rumah tersebut, serasa masuk sebuah aula. Ruangan tengah dibiarkan kosong dan berlantai kayu. Terdapat masing masing lima kamar di sisi kiri dan kanan. Tian Dan dan Chuan duduk berhadapan dilantai beralas kain yang cukup tebal.
"sepertinya ada orang didalam kamar" ucap Chuan
"iya, dua prajurit sedang terluka' ucap Tian Dan.
Dua orang berdiri dan mengajak beberapa prajurit khusus untuk mengangkat keduanya. Seorang terluka karena tusukan tombak yang mengenai bahunya, sedang yang lain terkena sabetan pedang dipunggung. Keduanya ditidurkan dilantai kayu tanpa alas.
"siapkan dua nampan kosong, arak dan kain bersih" ucap Chuan.
"baik" jawab Zun lalu pergi keruang belakang. Tak lama dia kembali dengan pesanan Chuan sudah ditangannya.
Spontan Chuan mrngambil pil dan eleksir dari cincin penyimpanannya.
"masing masing minumkan dua pil yang berbeda, dan teteskan eleksir dilukanya" ucap Chuan sambil memberikan tiga botol obat pada Tian Dan.
Tian Dan dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan Chuan dibantu Luang dan Zun.
"achhhhh" terdengar teriakan saat setetes eleksir jatuh diluka mereka.
"biarkan efeknya reda lalu bersihkan luka dengan sedikit arak" ucap Chuan.
Dari luka keduanya, terlihat membiru agak gelap. Luang dan Zun membersihkan cairan biru gelap dengan kain bersih yang sudah dirobek kecil. Setelah disiram dengan arak dan dibersihkan lagi, luka tersebut ditetesi lagi dengan eleksir.
Beberapa kali hal tersebut diulang oleh keduanya. Sampai yang keluar dari luka mereka adalah darah segar.
"cukup, racunnya sudah hilang" ucap Chuan. Lalu menyodorkan lagi botol berisi bubuk putih.
"taburkan dilukanya agar cepat kering, dan biarkan mereka beristirahat" lanjut Chuan.
__ADS_1
"terima kasih tuan muda" ucap keduanya.
"tak perlu berterima kasih, beristirahatlah agar cepat pulih" ucap Chuan.
"baik" jawab mereka tegas.
Setelah luka dibalut, keduanya diantar kembali kekamarnya.
"apa yang terjadi dengan mereka' tanya Chuan.
"keduanya melapor ada pergerakan yang mencurigakan dari luar perbatasan" jelas Tian Dan.
Saat melapor pada komandan penjaga perbatasan, tak ada hal hal yang mencurigakan. Namun setelah jauh dari markas prajurit, keduanya dihadang oleh puluhan orang. Meskipun mereka dapat lolos, tapi luka parahnya membuat mereka putus asa.
Setelah lolosnya mereka berdua, penjagaan dikota terdekat menjadi lebih ketat. Kios obat dan balai lelang diawasi oleh beberapa prajurit. Membuat mereka kesulitan mendapatkan obat buat keduanya.
"kalian tahu siapa yang dibalik kejadian tersebut" tanya Chuan
"wakil komandan Chao Fe" jawab Luang.
"baiklah selanjutnya, beri tahu gambaran situasi diluar perbatasan" ucap Chuan.
Saat ini ada lima titik berkumpul dan perbekalan mereka berada ditempat tersebut. Ditiap tempat itu mereka mendirikan lima tenda yang tak terlalu besar. Sedang perbekalan mereka tetap berada didalam kereta barang yang mereka bawa.
Kalau menyerang dari sisi mereka berada maka akan terdapat penjagaan yang berlapis. Namun jika dari belakang, mereka sedikit lengah. Untuk jumlahnya seperti yang dilaporkan sebelumnya.
"berapa telik sandi yang ada ditempat ini" ucap Chuan.
"ada sepuluh orang" ucap Tian Dan.
"lima orang sedang mengawasi mereka, dan kembali nanti malam" tambah Zun.
"lalu tempat ini" tanya Chuan.
"kampung pemburu" jelas Tian Dan. Kalau siang mereka berburu binatang atau tanaman obat. Nanti kembali saat senja. Para istri dan anak anak bersembunyi saat Chuan dan yang lain datang.
"bisakah berbicara dengan mereka" tanya Chuan.
"bisa, tapi lebih baik menunggu para suami mereka pulang" ucap Luang. Mereka pasti ketakutan, karena awal kedatangan sepuluh orang tersebut mengaku sebagai buronan.
Para pemburu memperbolehkan mereka tinggal asal tidak mengganggu keluarganya. Kehadiran mereka diterima, namun pendatang lain tetap dicurigai.
"apa kalian tidak membantu melatih orang orang itu" tanya Chuan.
"tidak, para laki laki ditempat ini sudah ditahap mahir" jawab Luang.
"kalian tahap langit tapi tak berbagi pengetahuan, apa takut diusir dari tempat ini, whahahaha" ucap Chuan sambil tertawa.
"mungkin takut dikebiri tuan" sahut seorang prajurit khusus.
"whahahaha"
"hahahaha" terdengar tawa keras yang mengusir ketegangan mereka.
__ADS_1
Sedang Tian Dan serta dua lainnya hanya tersenyum kecut mendengar ledekan tersebut. Percakapan santai terjadi setelahnya. Luang dan Zun juga mengambilkan arak buat mereka semua.