
"bagaimana keadaannya" lanjutnya,
"sementara aman" jawabku,
"ini komandan syiun, pemimpin prajurit dikota tiran" ucap paman gion,
"salam pendekar" sapa komandan syiun,
"salam tuan" balasku.
Kemudian kami bertiga duduk dibawah pohon, lalu menjelaskan kejadian hari ini. Orang orang yang tertotok berdaya aku serahkan keputusan pada keduanya. Kian serius percakapan kami.
Berbagai rencana saling terucap. Demi keamanan warga, maka malam ini para prajurit menunggu kedatangan anggota sekte yang akan datang lagi. Setelah meringkus mereka kemudian membantuku membebaskan desa dari cengkraman mereka.
"tuan pendekar, terimalah" ucap komandan syiun sambil menyerahkan belati yang gagangnya tertanam tiga bintang terbuat dari emas.
"untukku tuan" tanyaku,
"sebagai kenangan dan tuan bisa mencariku dikota ti dengan menunjukkannya pada prajurit jaga".
Kesepakatan sudah bulat, aku lalu meninggalkan mereka. Secepatnya mencari tempat untuk memulihkan tenaga. Ditempat yang sepi tak jauh dari batas desa, mulai meditasi menyerap energi alam.
Angin dingin mulai terasa, malam pun menjelang. Melesat menembus malam, menuju rumah penyimpanan kebutuhan sekte.
Sebuah bangunan yang cukup besar dijaga selusin anggota sekte. Hawa keberadaanku tersamar oleh ilmu bayangan naga. Dengan menerobos atap mulailah menyusup bangunan yang dijadikan gudang.
Suasana dalam bangunan begitu sepi, suara canda tawa para penjaga terdengar di teras depan. Ditambah suara persiapan anggota sekte untuk bala bantuan dalam penyergapan besok terdengar riuh.
Terdapat dua ruangan dan dua kamar yang terbuka. Satu kamar yang tertutup rapat, setelah melompat keatas tetlihat papan kayu yang tertata rapi.
Dengan hati hati mulailah mencongkel papan kayu dengan belati. Terlihat peti kayu tertata rapi didalam. Setelah melompat turun lalu membuka peti peti tersebut. Diamond, koin, barang barang berharga didalamnya.
Terdapat pula benda pusaka serta buku kuno yang tersimpan. "ahhh, dicek nanti saja deh" batinku sambil memasukkan semua peti dalam cincin dimensi.
Setelah aku keluar dari kamar tersebut, lansung menguras semua bahan makanan yang ada di dua ruangan lainnya, satu kamar yang berisi arak tak luput dari penjarahanku.
Sebagian arak dikamar lain aku buka tutupnya dan meletakkannya dibeberapa titik. Terlebih puluhan arak juga aku siramkan dipapan kayu diatas kamar yang tertutup.
Dengan santai duduk diatas atap menunggu saat yang tepat untuk aksi selanjutnya. Kesibukan dimarkas sekte seakan mulai reda. Puluhan anggota siap untuk berangkat, seakan dikomando semua melesat dengan ilmu meringankan tubuh.
Keramaian sebelumnya seakan reda, yang tersisa gelak tawa para penjaga yang mulai mabuk. Telah lama mengawasi situasi yang ada, "duor, duor, duor" terdengar suara letupan dan terlihat tiga kembang api berpijar dari arah hutan.
Energi qi yang teralirkan ditangan lalu mengubahnya menjadi api dan melemparkan ke beberapa titik dimana arak aku tumpahkan. "duorrr, wuusssss" api langsung menyebar didalam bangunan tersebut.
Saat melompat kebangunan besar satunya terlihat banyak pemuda dengan kain putih dilengannya.
"siapa kamu" teriak seorang pemuda dengan wajah curiganya.
"aku pendekar hitam" jawabku
"ohh maaf, mari masuk pendekar dulu" seru pemuda lain yang lari dari teras rumah menyambutku
"dia yang dibicarakan kepala desa" lanjutnya menjelaskan kepada temannya.
__ADS_1
"namaku mue, anak kepala desa" ucapnya sambil mengajakku segera masuk dalam rumah.
Sampai didalam terlihat ruang depan penuh para ibu ibu dan anak anak yang tiduran dilantai dengan alas seadanya. Ruang dalam terdapat para gadis yang bersandar didinding sambil berbisik satu dengan yang lain.
"pendekar hitam" seru seorang gadis saat melihatku masuk.
"kamu kenal sin" tanya mue,
"dia yang disungai kemarin kak" jawabnya.
"dia adikku pendekar" ucap mue,
"salam kenal nona" ucapku
"panggil sin saja" ucapnya sambil tersenyum
"adakah air bersih, sin" tanyaku
"ada dibelakang" jawabnya
"tolong minta temanmu mengambilkan sebanyak banyaknya"
"baik" ucapnya lalu meminta yang lain untuk mengambil air yang diletakkan dibelakang.
"mue dan sin, larutkan pil diair lalu minumkan pada semua orang" ucapku sambil menyerahkan puluhan pil nutrisi.
Tak lupa mengeluarkan bahan makanan hasil jarahanku, beberapa arak serta dua peti berisi koin perak dan perunggu. "bruakkk" gentong air yang dibawa seorang gadis terjatuh.
"maaf tuan" ucapnya ketakutan,
"brukkk" para ibu yang datang langsung jongkok "terimakasih tuan" ucapnya bersamaan.
"tolong jangan berisik dan besok kalau keadaan sudah teekendali, bagikan pada warga yang lain" ucapku sambil melihat semua yang tetap diam dalam terkejutnya.
"aku permisi masih ada yang harus dikerjakan dan mue tetap jaga disini dengan yang lain, jangan ikut panik akan situasi yang ada" ucapku
"baik,,," ucapnya terdengar samar karena aku sudah melompat menembus atap rumah.
Secepatnya menuju rumah yang digunakan menahanku. Terlihat kepanikan anggota sekte, dan tetua gunyan yang marah besar pada para penjaga.
"bisakan kalian keluar" ucapku saat membuka atap ruang tahanan.
"hiat, hiat, hiat" terdengar teriakan kecil mereka menggenjot tubuhnya.
"sembunyi dulu dipohon rindang yang agak jauh itu" ucapku, tanpa jawaban mereka cepat berlalu.
Puluhan arak yang aku lemparkan dan segeralah untuk membakarnya. Melesat lagi setelahnya dan membakar bangunan tempat berkumpulnya anggota sekte.
Lagi dan lagi. Sudah tujuh rumah yang aku bakar, menciptakan kepanikan yang parah.
"bergabunglah dengan yang lain" ucapku sambil menunjuk tempat para pemuda.
"baik dan nakmas mau kemana" ucap sesepuh busan "aku tetap disini melihat situasinya" ucapku ringan,
__ADS_1
ketiganya melesat pergi.
"kami bersamamu tuan" ucap seorang prajurit.
"atas nama komandan cun, lindungilah sesepuh dan kepala desa" ucapku sambil menunjuk lencana perak.
"siap tuan" jawab mereka, lalu menyusul sesepuh dan kepala desa.
Keributan masih terjadi, kemarahan tetua gunyan dan para istri tetua membuat suasana semakin kacau. Puluhan obor terlihat berlari diiringi suara derap kuda.
Semakin dekat jelaslah rombongan prajurit memasuki desa.
"menyerahlah kalian" teriak komandan syiun melompat kearah tetua gunyan dan anggotanya.
"sialll, hiatttt" teriak tetua menyerang komandan gion.
Para anggota yang ketakutan karena amarah tetuanya diam mematung.
"sring, sring, sring" suara pedang beradu, semakin ganas serangan keduanya. Sepuluh jurus berlalu, kemampuan dan tahapan tetua gunyan masih kalah.
Kenekatan tetua yang tidak mau ditangkap membuat banyak celah untuknya.
"jleebbbb" "acchhhh" teriak tetua saat pedang komandan menancap didadanya.
Suasana hening tercipta sesaat, raungan sesaat para istri tetua sekte yang bunuh diri terdengar memecah kesunyian.
"kumpulkan semua anggota sekte serta warga tanpa kecuali dan pisahkan tempat mereka" teriak komandan syiun.
"siap" teriak para prajurit.
Serentak para prajurit menggiring anggota sekte yang menyerah. Ditempat lain komandan gion dibantu puluhan prajurit mengumpulkan warga.
"selesai sudah" batinku, lalu beranjak melesat melanjutkan perjalanan. Semakin dalam memasuki hutan kesunyian kian mencekam.
Berhenti tak jauh dari sebuah pohon besar. Bau amis tercium, energi yang tersalur dimata membuat pandangan semakin jelas. Seekor ular yang besar sedang menelan buruannya. Panjang lima puluh meter dengan lingkar tubuh satu meter.
Setelah menelan buruannya ular itu lalu menyembunyikan kepalanya dirimbunnya dedaunan.
"srink, srink, srink" beberapa ranting aku lemparkan dengan tenaga dalam.
"srak, srakk, srakkk" suara berisik dari tempat ular bersembunyi. Daun daun bergoyang semakin keras, beberapa ranting berjatuhan.
"oohhh" batinku, saat sebuah kepala ular dengan dua tanduk kecil terlihat. Kepalanya menghadap tempat persembunyianku. Terdapat titik keemasan menyala diantara tanduknya.
"ular apa ini" batinku sambil mengeluarkan tongkat bintang langit.
"wuussshhhh" angin kuat yang panas disemburkan kearahku.
"hiatt" teriakku sambil melesat turun sedikit menjauh dari tempat ular tersebut.
"hush, hush" napas terdengar, setelah seluruh tubuhnya turun ke tanah, terlihat hanya satu ranting yang menancap diperut ular.
"wuusshhh" semburan disertai terjangan kepalanya menyerang.
__ADS_1
"pedang naga api, hiiaatttt" teriakku menghadang serangan