Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tehnik Pedang Langit


__ADS_3

Chuan dan Rouyan yang melesat pergi, lalu menuju kekeramaian kota. 'Balai pedang langit' terlihat plakat yang menggantung dibangunan yang dikerumuni banyak orang.


"ada acara apa ini" guman Chuan


"kelihatannya balai pedang langit mengadakan pelelangan hari ini" ucap Rouyan pelan


"mari ikuti acara mereka" ucap Chuan


Berbaur dengan banyak orang keduanya ikut antri untuk memasuki balai tersebut. Setelah gilirannya, Chuan membayar sepuluh koin emas untuk mereka berdua.


Memasuki ruang lelang Chuan dan Rouyan dengan santai duduk sedikit dibelakang. Balai yang terisi hampir penuh, tetap terlihat tertib dan tenang. Saat ini pelelangan sudah dimulai, namun masih melelang hal hal biasa seperti aleksir dan bahan obat obatan.


Chuan tetap santai mengamati barang yang dilelang. Tapi tiba tiba dia tertegun saat melihat sebuah biji hitam sebesar ibu jari. Menurut pemandu acara bijj tersebut belum kering dan bergurat aneh. Ada dua sulur seperti akar namun lentur dan alot.


Pemilik dan pihak balai tidak bisa memastikan biji tersebut. Harga dimulai 10 koin emas.


"ambillah" ucap Rouyan membuyarkan konsentrasi Chuan yang sedang mengamati biji tersebut.


Terdengar penawaran yang cepst dan sudah di seratus lima puluh. Setelah hening sejenak,


"200" teriak Chuan membuat orang didepannya menoleh kebelakang.


"210" teriak sisi yang lain.


"300" teriak Chuan. Suasana menjadi hening dan menoleh asal suara tersebut. Setelah tenang tanpa penawaran lagi, biji tersebut akhirnya dimenangkan Chuan.


Waktu terus berjalan, item yang dilelang mulai meningkat. Tiba saat sebuah pedang yang unik ditampilkan, tongkat hitam dicincin naga bergerak seakan menyambutnya.


Pedang ini bernama pedang kosong. Ada rongga kosong ditengah pedang, meskipun kuat tapi tak ada aura yang bangun padanya. Selama ini pedang tersebut hanya sebagai koleksi unik dari seorang tetua disekte pedang langit. Namun tidak pernah digunakannya.


Harga mulai 500 koin emas. Chuan hanya mengamati sambil memegang cincin naganya. Saat 1500 penawarannya mulai melemah.


"2000" chuan mulai meneriakkan tawarannya.


"2100" pancing pihak lain.


"3000" teriak Chuan dengan tenang.


Raut wajah Chuan santai dan cenderung acuh tak acuh. Para penawar yang lain mulai menghilang. Mereka takut kalau Chuan hanya menggertak saja. Pedang tersebut akhirnya jatuh pada penawaran Chuan.


Pelelangan terus berlanjut namun Chuan masih terdiam. Bahkan saat item yang bernilai tinggi muncul, hal itu tidak menarik perhatiannya.


"kau tidak tertarik" tanya Rouyan


"bukan tidak tertarik, tapi menghindari kecurigaan yang ditujukan pada kita" jawab Chuan.


Saat malam mulai pekat, pelelangan itupun berakhir. Chuan yang menghampiri tempat pertukaran dikejutkan oleh sapaan seseorang.

__ADS_1


"tuan muda"


"hehehe, Paman Tian Sun ada disini juga" ucap Chuan.


"jadi pedang dan biji itu" tebak Tian Sun


"iya paman" ucap Chuan sambil tersenyum.


"masukkan semua tagihan tuan muda pada balai lelang mutiara" ucap Tian Sun saat melihat seseorang menyerahkan barang yang dimenangkan Chuan.


"baik tuan" jawab orang itu dengan hormat.


"paman, aku permisi dulu" ucap Chuan pada Tian Sun.


"tuan muda menginap dimana"


"penginapan teratai putih"


"baik nanti malam aku kesana"


"baik aku tunggu paman" ucap Chuan lalu beranjak pergi dari ruangan tersebut.


Chuan yang meninggalkan ruangan itu lalu menghampiri Rouyan dan segera mengajaknya pergi. Berbaur dengan pengunjung lain, Chuan segera menyelinap pergi untuk menghindari masalah. Kedua bayangannya lalu meluncur kearah tempat mereka menginap.


Sementara Tian Sun masih dibalai pedang langit.


"dialah pemilik balai lelang mutiara" jawab Tian Sun.


"hahhh" teriak kecilnya karena terkejut.


"kenapa Tuan Sun tidak memperkenalkan pada kami" ucapnya setelah sadar dari terkejutnya.


"jika Nona Ninie ingin bertemu, malam ini aku akan ketempatnya menginap" ucap Tian Sun.


"baiklah" ucap Ninie.


***


Sementara Chuan yang tiba dipenginapan segera memasuki kamar. Rouyan hanya diam melihat sikap Chuan yang tiba tiba berubah.


Didalam kamar Chuan meminta Rouyan untuk mengunci pintunya. Setelah menenangkan diri, Chuan lalu mengeluarkan pedang yang didapatnya. Dia kemudian melukai ujung jari dan meneteskan darahnya pada pedang tersebut.


"cess" terdengar suara kecil, namun darahnya seakan menguap.


"salurkan energi spiritualmu dipedang itu" ucap Rouyan


Chuan lalu duduk bermeditasi dengan pedang ditangannya. Setelah merasakan penolakan, Chuan menarik energi spiritual yang ditinggalkan pemilik pedang sebelumnya.

__ADS_1


Dengan tehnik yang diajarkan Patriak Lion, Chuan menarik paksa energi spiritual itu. Lalu muncul siluet tetua berbaju ungu.


"jika kau menjualnya kenapa tidak melepaskan pedang ini" ucap Chuan


"ternyata kau boleh juga" bukan jawaban, tapi ungkapan kesal yang didengar Chuan


Chuan lalu menjentikkan api dari ubahan energi qi nya. Api ungu muda membungkus siluet tersebut. Gabungan ilmu menembus dasar samudra dan tehnik penghancur jiwa, membuat siluet itu bergetar.


"hentikan" gema suara terdengar dikamar itu. Namun Chuan tetap tak menghiraukannya. siluet yang dikurung api ungu mulai mengecil. Dan akhirnya sebesar kepalan tangan.


Chuan merubah segel tangannya dan tiba tiba siluet itu, meledak dan hilang. Setelah membereskan masalah tersebut, Chuan mulai meneteskan ulang darah dari jarinya.


"wuss" terdengar suara pelan saat darah Chuan terserap oleh pedang tersebut. Chuan lalu mengeluarkan tongkat hitamnya. Getaran getaran samar keluar dari dua senjata Chuan.


Dengan hati hati Chuan mengangkat kedua senjatanya menggunakan energi qi. Setelah yakin Chuan memasukkan tongkat hitam melalui gagang pedang tersebut.


"klik,,, wesss ,,, ng ng ng" terdengar suara dan dengungan saat pedang dan tongkat menyatu.


"wusss" tiba tiba seberkas sinar melesat cepat kedahi Chuan.


"awas" teriak Rouyan juga terlambat. Saat sinar memasuki dahi Chuan, dia merasakan seperti ada jarum yang menusuknya. Energi spiritual dialirkan membuat rasa sakitnya menghilang. Dalam pikirannya tiba tiba muncul untaian penjelasan dan ilustrasi seseorang memperagakan tehnik pedang.


"tehnik pedang langit" guman Chuan dalam hatinya saat membaca untaian penjelasan itu. Selanjutnya dengan serius dia memperhatikan peragaan tehnik pedang tersebut.


Rouyan terus memperhatikan Chuan semakin tenggelam dalam meditasinya. Dia berharap namun juga cemas melihatnya.


"pedang hanyalah sarana"


"tubuh juga pedang"


"hati juga pedang"


"jiwa juga pedang"


Dalam ruang jiwa Chuan terus mendalami tehnik pedang langit. Bahkan saat diruang jiwa dia bisa menggunakan spiritualnya sebagai pedang.


Rouyan yang memperhatikan perubahan Chuan semakin bingung dan takjub. Tubuh Chuan yang dalam posisi meditasi terangkat. Dan pedang yang melayang juga mendekati tubuhnya. Lalu menyatu dengan tubuh Chuan.


Pedang energi tiba tiba muncul disekelilingnya, dengan ujung menantang langit. Tak lama dibawah juga terlihat untaian pedang yang membentuk bunga lotus. Semua pedang energi itu berputar dan menimbulkan dengungan.


"Chuan" guman Rouyan cemas.Sedang Chuan yang diruang jiwanya mendengar suara Rouyan. Pemahaman yang sempurna diruang jiwanya, tinggal mencari tempat untuk memperagakannya. Dengan menguasai ilmu semesta, Chuan cepat dalam menyerap dan menyempurnakan tehnik pedang langit.


"maaf" ucap Chuan saat matanya terbuka dan melihat Rouyan yang cemas.


"dimana pedangnya" lanjut Chuan


"huhhh" guman Rouyan

__ADS_1


"pedang itu menyatu ditubuhmu" ucapnya sambil menceritakan kejadian saat Chuan bermeditasi.


__ADS_2