
Selain chuan, mereka semua tak menyangka rumah mereka menjadi baru.
"ini bukan lagi renovasi" ucap nenek yang melihat rumah barunya berukuran dua kali lipat dari semula.
Chuan segera membuka pintu rumah. Anak anak terlihat masih penasaran dengan yang dilihatnya. Bibi fei lalu menjelaskan kepada mereka, sekaligus menentukan kamarnya.
"sekarang masukkan barang kalian kekamar masing masing, dan berkumpul lagi disini" ucap chuan.
"baik kak" jawab mereka lalu semburat lari kekamar masing masing.
"ini surat rumahnya" ucap chuan sambil menyerahkan selembar kertas bercap serikat pekerja dan klan chu. "chuan" ucap bibi fei terkejut.
"bibi, bisa tinggal disini selamanya tanpa ada yang menggangu" jelas chuan.
"apakah chuan akan meninggalkan rumah ini" tanya bibi fei.
"paling lama satu tahun lagi" jawab chuan.
"saat itu tiba, apakah kami boleh ikut bersama kalian" tanyanya lagi sambil menoleh kenenek hong.
"kalau tempat yang baru lebih layak kami pasti mengajak kalian semua" jawab chuan disambut linangan air mata bibi fei.
"hemm jangan menangis, nanti kalau jelek tak laku lagi lho" goda chuan.
"wah mulai kumat lagi" guman nenek hong menimpalinya. Suara keceriaan anak anak kembali terdengar.
__ADS_1
Semuanya berkumpul lagi didepan chuan.
"mulai hari ini kalian berlatih sendiri, kami hanya memberikan sesekali bimbingan" ucap chuan lalu menjelaskan.
Mereka akan dibekali kitab untuk berlatih. Chuan dan nenek hong cuma melatih fisik mereka. Untuk keempat anak yang berusia sembilan tahun akan diberi tambahan untuk menguatkan tulang mereka.
Sementara nenek dan bibi fei menyiapkan minum, chuan mengajak mereka menuju tempat latihan. Antusias mereka yang tinggi membuat chuan semakin semangat melatih anak anak tersebut. Dia juga teringat masa masa kecil dulu. Terkadang airmatanya tak sengaja terjatuh saat mengingat ayah dan yang lain.
Sampai ditempat latihan chuan mengajak mereka duduk ditanah.
"saat kecil aku juga semangat berlatih seperti kalian" ucap chuan memulai cerita untuk membakar semangat mereka.
Awalnya hampir tiap hari dia pingsan. Karena terus bersemangat lama lama terbiasa dengan latihan yang berat. Raut wajah anak anak tidak sedikitpun menunjukkan rasa takut. Semangat mereka semakin tergugah dengan cerita chuan.
Sementara yang lain berlari dengan ritme yang stabil.
"lari sampai batas kemampuan kalian, apa kalian siap" teriak chuan.
"siap" jawab mereka serentak.
"monk disini, sedang yang lain berdiri didekat pohon yang diikat kain hitam" ucap chuan.
"siap kak" ucap mereka lalu tiga orang berlari menuju pohon yang disebutkan.
"semuanya, mulai" teriak chuan dan segeralah dua puluh lima anak berlari.
__ADS_1
"monk, aku ditepi sungai, tetap tunggu disini sampai adik kalian aku pesan untuk mengajakmu berkumpul" ucap chuan.
"siap kak" jawab lumonk.
Chuan kemudian melesat menuju tepi sungai.
"guru" panggil chuan pada gurunya.
"mengganggu saja" ucap patriak lion.
"apa yang guru kerjakan" tanya chuan.
"bermain dikotak ruang dimensi" ucap patriak lion.
Dia memasukkan satu mustika lagit diruang dimensi. Meskipun sebatas roh, namun patriak lion ternyata dapat menyerap energi dari mustika langit. Didalam ruang dimensi dia seakan hidup dialam nyata.
Ruang didalamnya sangat luas, ada 10 km2. Dan ada unsur tanah yang terkandung diruang tersebut. Juga banyak tanaman langka yang sudah punah tumbuh didalamnya.
Saat ini patriak lion sudah merapikan separuh dari kebun obat itu. Ada sepuluh pohon apel emas yang sudah berbuah. Dua pohon anggur darah yang berguna untuk menambah dan memurnikan darah kotor juga terdapat didalamnya. Tiga pohon persik abadi dan tanaman langka yang lain juga tumbuh. Chuan tidak usah bingung karena patriak lion lebih senang diruang dimensi.
Nanti kalau ada kesempatan patriak lion akan mengajak chuan kekebun obat dibukit itu. Dia hendak memindahkan semua tanaman obat kedalam ruang dimensi.
"sekarang keluarkan kotak ruang dimensinya" ucap patriak lion dan menutup giok penyimpan mustika langit diruang tersebut.
"teteskan darahmu dikotak itu" lanjutnya.
__ADS_1