Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kultivasi Tertutup


__ADS_3

Di benua selatan jarang ditemukan binatang buas yang sudah menembus tahap iblis tingkat tinggi. Dikarenakan rendahnya garis keturunan mereka, sehingga berhenti ditahap iblis awal. Dan juga hampir semua binatang iblis bersembunyi karena selalu diburu manusia karena mustika mereka. Sehingga keberadaa Rouyan dan putrinya aman. Jelas Rouyan pada Chuan.


"ditingkat berapa mereka berubah manusia" tanya Chuan


"selain dibenua awan, mereka harus ditahap iblis suci, atau setara dengan manusia ditahap suci" jawab Rouyan


"untuk meningkatkan tahap kalian apa ada sarana lain" ucap Chuan


"ada pil emas dari balai lelang, namun harganya cukup mahal jadi kami tidak mampu untuk itu" ucap Rouyan.


Biasanya saat malam hari Rouyan akan pergi kedalam hutan diperbatasan untuk menyerap energi alam. Selanjutnya saat fajar pulang dan sampai dirumah akan disalurkan kecucunya. Semua dilakukannya agar cucunya cepat menembus tahapan yang mana dia bisa berubah menjadi manusia. Karena memiliki garis keturunan yang murni seperti ayahnya, maka pada tahap sembilan sang cucu akan bisa berubah menjadi manusia. Namun masih seperti anak usia lima belas tahun.


"dan saat itu tiba maukah kau menjadi tuan dari cucuku" tanya Rouyan.


"maksud paman" tanya Chuan


"bawalah dia berkelana, anggap seperti apa saja tak masalah buatku" jelas Rouyan.


Karena Rouyan akan berkultivasi dan setelah itu membalas dendam pada patriak klan rubah suci. Dia meninggalkan cucunya dinegeri daratan agar tidak ikut terancam keselamatannya.


"terima saja, lagi pula tak selamanya kau akan tinggal dihutan suci" terdengar Patriak Lion dipikiran Chuan.


"tak perlu menjadi tuan, biarlah nanti menjadi saudaraku saja" ucap Chuan.


"terima kasih, Chuan" ucapnya sambil mengeluarkan dua batu hitam berukir indah diatasnya.


"nanti salurkan energi spiritualmu, maka teknik dalam batu tersebut akan mengalir dipikiranmu"


"dibenua ini energi spiritual disebut energi jiwa"


"setelah kau menguasai keduanya dengan sempurna simpanlah dan tolong biarkan cucuku mempelajarinya" ucap Rouyan tanpa henti.


"keduanya berisi teknik pedang kilat tingkat dewa dan teknik pedang jiwa yang dapat menyatu dengan mata elang ilahi yang tertanam dimatamu" lanjutnya.


"paman menyadari itu yaa" ucap Chuan terkejut.

__ADS_1


"awalnya aku tak percaya dan setelah menyalurkan energi spiritual dimataku, baru aku menyadarinya" ucapnya


"dimana cucu paman sekarang"


"dia masih dalam kultivasi tertutup sampai menembus tahap sembilan"


"berapa lama waktu yang diperlukan"


"saat ini sudah tahap tujuh, mungkin lima sampai tujuh tahun lagi"


"baiklah paman, lima tahun lagi aku akan datang" ucap Chuan sambil mengeluarkan dua puluh lebih botol yang berisi masing masing sepuluh pil emas.


"pil ini" ucap Rouyan terkejut setelah melihat isi salah satu botol tersebut.


"terimalah paman, itu tak sebanding dengan dua teknik yang paman berikan" ucap Chuan.


"dengan pil ini paling lama cucuku butuh setahun untuk menembus tahap sembilan"


"tak perlu terburu buru paman, sebab ada yang mau aku selesaikan dulu di sekte hutan suci"


"nanti kalau kau belum datang, kami yang akan kesana"


"hati hati Chuan"


"terima kasih paman" ucap Chuan lalu keluar dan meninggalkan rumah tersebut.


Dia lalu melangkahkan kakinya menuju penginapan yang cukup mewah. Sesampainya ditujuan, Chuan langsung memesan kamar. Hanya ada kamar VIP yang tersisa.


Setelah masuk kekamarnya, Chuan lalu mulai meditasi. Batu hitam berpola yang berisi tehnik pedang jiwa digenggam ditangan kanannya. Dibimbing oleh Patriak Lion, Chuan mengalirkan energi spiritual kebatu tersebut.


Chuan merasakan ada aliran energi lain yang berbalik memasuki kepalanya. Didalam pikirannya, energi tersebut mengalir menjadi untaian kata berisi uraian tentang teknik pedang jiwa.


Energi yang masuk dikepalanya, emakin lama semakin kuat. Aliran pengetahuan teknik mengalir semua dan tersimpan dipikirannya. Karena tingkat spiritua atau jiwa Chuan sudah ditingkat nirwana sempurna, maka mudah dia untuk menghapal dengan cepat.


Tehnik yang serupa tapi beda dengan ilmu ilusi yang dikuasainya. Kalau ilmu ilusi, kekuatan spiritualnya dialirkan kealam dengan jangkauan tertentu untuk menjebak musuh agar terkurung dialam ilusi.

__ADS_1


Sementara teknik pedang jiwa, memadatkan kekuatan spritual diantara dua matanya. Selanjutnya melalui mata, akan ditembakkan kekening musuh. Bagi yang berada ditingkat spiritual dewa, akan dapat menghancurkan jiwa lawan dari kejauhan.


Tanpa kenal lelah Chuan mempelajarinya dengan serius. Dia terus berusaha memahami seluruh untaian kata tentang tehnik tersebut. Sesekali Patriak Lion memberi masukan padanya.


Tak terasa hampir sebulan Chuan belum keluar dari kamarnya. Para pelayan dipenginapan sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Memang sering ada tamu yang menyewa kamar sebulan atau lebih, hanya untuk kultivasi tertutup seperti yang Chuan lakukan.


Chuan merasa cukup dalam memahami teknik pedang jiwa meskipun belum sempurna. Dia lalu keluar dari kamarnya dan langsung menemui para yang sedang bersantai. Dia tidak menghabiskan sisa hari seperti kesepakatannya. Bahkan saat pelayan mengembalikan setengah sewa untuk hari yang tersisa, dia menolaknya. "ambil saja buat kalian" kata Chuan lalu melangkah keluar penginapan.


Chuan kembali mrnyusuri jalan menuju kearah sekte macan putih. Saat senja Chuan sampai digerbang sekte macan putih. Banyak murid sekte yang sudah mengenalnya dan mereka membiarkan Chuan masuk. Seorang murid terlihat melesat untuk melapor pada Tetua Shusin.


"salam tetua"


"apa gak bisa panggil saudara yaa"


"hehehe"


"mari masuk"


Sambil memasuki rumah Tetua Shusin, Chuan menganggukkan kepala mendengar sapa ramah para wakil tetua.


Setelah duduk Tetua Shusin, Chuan dan tiga wakil tetua mulai hanyut dalam perbincangannya. Malam semakin larut, terasa tak ada puasnya mereka berbincang bincang. Saat pagi mulai datang, Chuan menanyakan adakah tempat untuk kultivasi tertutup dirumah Tetua Shusin.


Dengan senang hati Tetua Shusin mengantarkan Chuan keruang kultivasi pribadinya.


"gunakan ruang ini sesukamu" ucap Tetua Shusin saat masuk diruang kultivasinya.


"maaf merepotkan" ucap Chuan.


"tak perlu sungkan dan aku tinggal dulu"


"terimakasih".


Sebuah batu giok persagi yang besar terlihat ditengah ruangan. Chuan segera duduk meditasi diatas batu giok. Batu hitam berisi tehnik pedang kilat tergenggam ditangan kanannya. Proses yang sama juga terjadi seperti saat dipenginapan. Aliran energi saat ini terasa lebih mendalam karena tingkatan tehniknya diatas tehnik pedang jiwa.


"perlahan lahan pahami dulu uraian tehnik tersebut" ucap Patriak Lion, saat merasakan ketenangan Chuan yang pulih karena untaian energi yang masuk telah berhenti.

__ADS_1


"baik" ucap Chuan


Chuan semakin tenggelam dalam meditasinya. Uraian dan gambar yang dipelajarinya memerlukan keseriusan untuk memahaminya.


__ADS_2