Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tehnik Pedang Macan Suci


__ADS_3

Setelah cukup dalam perbincangan mereka, Chuan lalu menyuruh mereka yang ditahap langit tingkat sempurna untuk berkultivasi dipulau.


Terdapat tujuh orang yang mencapai tahap tersebut. Chuan juga berpesan saat mereka merasakan tiba waktu kesengsaraan petir datang, agar berkomunikasi dengan yang lain. Sehingga mereka semua bisa menerimanya bersama sama.


Saat ini, tiap orang akan menerima tiga petir dan seraplah, jangan dilawan.  Energi petir kesengsaraan sangat membantu untuk memurnikan qi yang masuk kedentian. Selesai Chuan memberi penjelasan maka ke tujuh orang tersebut mulai mengambil tempat untuk berkultivasi.


Setelah melihat mereka memiliki jarak yang aman satu dengan yang lain, Chuan mengajak sisanya untuk kembali kepantai.


Hari berganti, sudah lima belas hari berlalu. Awan hitam mulai berarak dilangit dan menuju satu titik.


"para tetua akan menerima kesengsaraan petir" guman Chuan yang saat ini menunggu mereka yang sedang berkultivasi dipantai.


"ajak mereka menyerap fluktuasi energi petir yang tersebar" terdengar Patriak Lion memberi saran.


"mereka masih ditahap 9" jawab Chuan.


"beri mereka apel emas dan dengan bantuan energi petir maka akan cepat untuk menembus kesempurnaan" lanjut Patriak Lion.


"baik guru" jawab Chuan.


Perubahan energi alam terasa ditempat tersebut. membuat kesembilan orang yang sedang diawasi Chuan menghentikan kultivasinya.


"kalian sudah bangun" ucap Chuan.


"apakah para tetua akan menerobos"


"iya, dan mari kita mendekati mereka" ucap Chuan.


"tapi"


"tak apa apa, asal dari jarak tertentu" jelas Chuan. Lalu dia membagikan apel emas dan meminta mereka menyerapnya saat petir turun.

__ADS_1


Ditambah dengan energi petir yang tersebar, akan membantu mereka menembus kesempurnaan. Nanti saat dentaian mau pecah, keluarkan qi kalian dan putar diseluruh tubuh. Lalu kembalikan kedentian dan berusaha untuk memurnikannya bersama khasiat dari apel emas dan efek energi petir.


"baik tetua" jawab mereka serempak, dan diraut wajah mereka terlihat rasa terima kasih yang tulus.


Setelah Chuan melesat, yang lain segera menyusul. Tak ada keraguan dalam hati mereka. Semua menerima dan melaksanakan pengarahan Chuan.


Sepuluh orang terlihat  melayang diatas lautan. Tempat mereka satu kilometer diluar pulau tempat para tetua menunggu ujian petir. Sambaran petir untuk tahap suci awal tidak terlalu lama jedanya. Juga kekuatan petir setengah dari tahap suci menengah.


"setelah mereka menerima masing masing tiga sambaran, kalian makan apelnya dan segera mendarat dibagian tepi pulau untuk kultivasi" jelas Chuan.


Awan hitam terlihat semakin tebal.


"jdeerrrr, jdeeerrrr, jderrrr" terdengar rentetan petir menyambar. Tubuh ketujuh orang yang menerimanya terlihat bergetar. Mereka semua tetap focus untuk meyerap energi petir yang menyelimuti tubuhnya. Saat petir kedua, beberapa orang terlihat seakan tersentak hebat. Bahkan yang ketiga datang menimpa mereka, terlihat Patriak Chen dan dua tetua menyemburkan darah dari mulutnya.


Kedelapan orang melesat ketepi pulau untuk berkultivasi. Sedangkan Chuan melesat kearah mereka yang terluka. Dia tidak segera membantu namun focus melihat perkembangannya.


Hari berganti, sepuluh hari telah berlalu. Kondisi ketiga orang yang terluka dalam belum pulih sepenuhnya. Namun empat lainnya saat ini sudah memantabkan tahap suci awal.


"adakah yang bawa pil penyembuh luka dalam" tanya Chuan pada yang lain dan mengabaikan pertanyaan Tetua Shusin.


"aku bawa" jawab Tetua Gun sambil mengeluarkan dua botol yang masing masing berisi sepuluh pil. Chuan mengeluarkan sembilan pil dan menyerahkan pada Tetua Shusin.


"isi tiap pil dengan qi murnimu, lalu tiap orang beri tiga pil untuk dikonsumsi" ucap Chuan. Tetua Shusin menerima pil tersebut sambil tersenyum. Kemudian dia melakukan apa yang dikatakan oleh Chuan.


Seminggu berlalu dengan cepat. Wajah pucat dari ketiga orang yang terluka sudah terlihat cerah. Chuan lalu mengajak ketijuh orang tersebut meninggalkan pulau. Mereka memberi kesempatan pada yang lain.


Saat ini kesembilan orang mulai memantapkan kesempurnaan mereka. Chuan dan tujuh pendekar suci melesat kebukit diatas pantai tempat mereka kultivasi. Mareka berencana untuk latih tanding ditempat tersebut.


Menggunakan pedang, dua tetua memainkan tehnik pedangnya. Tingkat pemahaman para tetua berbeda karena basik awal tehnik mereka.


Pariak Chen yang awalnya hanya melihat sambil mencoba untuk mempelajari tehnik tersebut. Tiba tiba mengajak Tetua Tian untuk berlatih bersama.

__ADS_1


Tingkat pemahaman tehnik pedang yang berbeda. Patriak Chen lebih sempurna dengan tehnik pedang andalan sekte macan putih. Namun Tetua Tian masih dapat mengimbanginya. Karena tehnik pedang suci yang dimainkan Tetua Tian mempunyai tingkat yang lebih tinggi. Tehnik gabungan dari beberapa tehnik pedang yang TetuaTian gunakan, memiliki banyak variasi yang membingungkan lawannya.


Chuan yang menyaksikan latih tanding dari awal, semakin serius. Dia semakin focus mengamati tehnik pedang Patriak Chen. Saat keduanya berhenti bertanding, Chuan langsung mengambil posisi meditasi.


Kecerdasan dan kuatnya hapalan Chuan, membuatnya mampu menguraikan tehnik yang Patriak Chen peragakan. Didalam ruang jiwanya, Chuan berlatih tehnik tersebut dan menutup kelemahannya dengan memasukkan tehnik pedang suci didalamnya.


Sementara Chuan tenggelam dalam meditasinya, yang lain juga mencerna hasil latih tanding mereka. Bahkan tanpa rasa sungkan, mereka terkadang minta bimbingan satu dengan yang lain.


Hari begitu cepat berlalu, Chuan terbangun dari meditasinya. Sudah sepuluh hari dia begitu hanyut dalam pemahamannya. Dengan bantuan Patriak Lion, yang memberinya bimbingan dan arahan. Tercipta tehnik baru yang setengahnya adalah tehnik yang diperagakan Patriak Chen.


"Tetua Chuan sudah bangun" kata Tetua Shusin saat melihat Chuan beranjak dari tempatnya.


"selamat atas pemahamannya, tetua" ucap Tetua Lifan.


"hehehe, pemahamanku tidak seberapa dibanding kalian" ucap Chuan sambil tersenyum.


"kalau boleh kami tahu, pemahaman yang baru kau dapatkan" sambung Patriak Chen penasaran.


"terima kasih patriak pemahamanku ada, karena tehnik yang kau gunakan" ucap Chuan.


Setelah meminjam pedang tumpul Tetua Gun, Chuan mulai memperagakan gerakan tehnik pedang yang baru dipahaminya. Satu gerakan kegerakan yang lain diperagakan dengan sempurna. Begitu indah seperti sedang menari. Namun mengandung tipuan dan keganasan didalamnya.


Puluhan gerakan yang diperagakan membuat yang lain terpana. Setelah semua gerakan selesai dilakukan, Chuan mengulang dari awal lagi. Saat pengulangan ketiga selesai dilakukan, Chuan melihat satu persatu yang ada ditempat tersebut mulai masuk dalam meditasi.


Sambil menunggu mereka bangun dari meditasinya, Chuan asyik berbincang tentang ilmu jiwa dan beberapa tehnik formasi. Patriak Lion memberinya bimbingan dengan santai seakan berbincang bincang biasa.


"mereka sudah bangun" ucap Patriak Lion.


Chuan dengan santai melihat mereka bangun dan menghampirinya.


"apa nama tehnik yang kau ajarkan pada kami" tanya Tetua Shusin.

__ADS_1


"tehnik pedang macan suci" ucap Chuan, karena setengahnya adalah tehnik pedang andalan sekte macan putih.


__ADS_2