Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tiga Tahun Lagi


__ADS_3

"apa kata orang nanti, seorang putri kaisar yang begitu sempurna berjalan dengan si muka jelek ini" ucap Chuan sambil tersenyum dan tidak mengucapkan menerima atau menolaknya.


"maksudnya" tanya Meilin sambil menatap Chuan


"maaf tuan putri perjalanan selanjutnya bukan hanya plesiran, namun ada tujuan yang tidak bisa kami ungkapkan" jelas Chuan sambil tetap tersenyum


"kau,," ucap Meilin tercekat.


"abaikan sumpahmu, lagi pula kaisar dan permaisuri pasti tidak ingin putrinya berjalan dengan orang yang hanya berkelana tanpa tahu kapan akan berhenti" ucap Chuan


Semua orang terdiam menatap Chuan dan Rouyan. Raut wajah mereka penuh tanya didalam hatinya.


"Chuan akan menemaniku ke negeri awan" kata Rouyan secara tiba tiba membuat semuanya tercengang.


Rouyan dan cucunya berasal dari negeri tersebut. Namun karena suatu hal yang mengancam cucunya, mereka melarikan diri. Nanti saatnya tiba, mereka akan pulang ketempat itu.


"negeri awan itu yang jauh dan sulit untuk ditemukan" ucap Kaisar Jing. Dahulu leluhurnya juga pernah menceritakannya. Selain itu ada negeri kepulauan yang sangat luas, atau disebut negeri lautan.


"tapi,,," penjelasan Kaisar Jing terhenti.


"ada apa yang mulia" tanya Chuan penasaran.


"ada sekte tua dibagian utara benua tengah, menurut cerita sekte tersebut ada hubungannya dengan negeri awan" jelas Kaisar Jing


Dahulu ada benua utara di negeri daratan ini. Saat terjadi pergolakan besar karena infasi dari negeri lautan, benua itu hancur dan para penguasa merapat kebenua tengah. Meskipun empat benua yang lain ikut membantu, namun kehancuran benua itu meninggalkan trauma besar.


Seorang ditahap Kaisar suci yang memimpin benua itu meninggal beserta keluarganya. Para patriak klan dan penguasa didaerah yang masuk dalam wilayah benua utara mencari perlindungan dibenua tengah.


Menurut kabar yang beredar, saat ini bekas benua utara menjadi daerah liar. Hutan lebat dan wilayah pegunungannya terus menjadi daerah pertikaian dari kelompok kelompok yang ingin berkuasa.


"dimana sekte tua itu berada" tanya Chuan


"reruntuhannya ada diatas sebuah gunung yang luas dan berbatasan dengan benua timur" jawab Khaisar Jing.


"terima kasih atas informasinya" ucap Chuan


"hehehe, semoga kalian berdua berhasil menemukan tempat itu" jawab Khaisar Jing


"bertiga bukan berdua" kata Meilin menyela.


"kau,," ucap permaisuri


"aku sudah bersumpah, seperti apapun aku akan ikut dengannya" ucap Meilin sambil memandang Chuan


"adik" kata pangeran lalu terdiam


"aku tak mau menarik sumpahku" ucap Meilin tegas

__ADS_1


"untuk saat ini aku belum bisa mengajak tuan putri" ucap Chuan lalu menjelaskan. Dari kecil Chuan terbiasa berkelana sendirian. Banyak hal tak terduga dalam perjalanan.


Chuan meminta Meilin untuk giat berlatih dan menembus tahap bumi. Sehingga bisa menjaga diri saat Chuan dan Rouyan dalam kesulitan. Seharusnya dalam dua atau tiga tahun lagi Meilin akan kokoh ditahap itu.


"seandainya belum ada yang dapat meluruhkan hatimu, tiga tahun lagi aku akan datang lagi" ucap Chuan dengan tenang


"janji" kata Meilin


"aku janji, semoga dewa terus melindungiku, dan giatlah berlatih, serta tolong bantu mengawasi Lin Dong" ucap Chuan.


"iya" jawab Meilin sambil berbinar.


Sebenarnya hati Chuan sudah tertarik pada Putri Meilin. Namun sikap acuh tak acuhnya dia dapat menutupi semua itu. Juga perasaan tertarik pada wanita baru sekali dialaminya.


Tapi diapun belum tahu dengan hatinya. Makanya memberikan waktu untuk menggugah perasaannya sendiri serta menguji kesungguhan Putri Meilin.


Kaisar dan permaisuri terlihat dengan senang akan cara Chuan menenangkan putrinya. Keputusan yang bijak meskipun keadaan tidak memberi kesempatan Chuan untuk memikirkan secara mendalam.


Pejamuan yang terasa santai dan semakin akrab diantara mereka semua akhirnya berakhir. Chuan dan Rouyan yang meninggalkan istana pergi kerumah Komandan Xhuan. Suami istri itu terlihat senang dengan kedatangannya.


"mana Lin Dong" ucap Chuan saat mereka berempat dusuk santai didalam rumah.


"Tetua Tian membawanya kesekte hutan suci" ucap Lin Xhuan.


"Lin Dong juga menitip salam untukmu" lanjut istrinya


"syukurlah, semoga dia tak terburu buru dalam mempelajari tehnik yang aku berikan" ucap Chuan


"ada apa" tanya Chuan


"dua gulungan yang kau berikan tidak boleh aku buka" jelas Lin Xhuan. Menurut Lin Dong, jika belum benar benar menguasai yang pertama belum boleh buka gulungan selanjutnya.


"anak yang patuh, semoga dengan kedua orang tuanya juga seperti itu" ucap Chuan


"terima kasih" kata Lin Xhuan dan istrinya terdengar tulus.


Lin Xhuan juga menceritakan tentang lima puluh prajuritnya yang pergi bersama para tetua. Juga hadiah yang diterimanya dari kaisar.


Dia juga sempat bertanya pada Tetua Tian, kenapa tidak menunggu Tetua Chuan. Tetua Tian hanya menjawab dengan diplomatis. Saat tiba waktunya Tetua Chuan pulang, dia pasti pulang. Kalau tidak berarti nelum waktunya untuk kembali.


Chuan dan Rouyan hanya tersenyum menanggapi cerita Lin Xhuan. Dan obrolan mereka terus berlanjut, sampai waktunya Chuan berpamitan.


Raut wajah sedih terlihat saat keduanya melihat Chuan hendak pergi.


"sempatkan mengunjungi Lin Dong disekte, jangan menunggu anak itu pulang" ucap Chuan


"itu pasti" balas Lkm Xhuan

__ADS_1


"baiklah, sampai ketemu lagi" ucap Chuan lalu mengajak Rouyan pergi.


"terima kasih" ucap Lin Xhuan dan istrinya sambil membungkuk dalam.


Chuan dan Rouyan melesat meninggalkan komplek istana. Keduanya terlihat santai berbaur dengan keramaian kota doucan. Cukup lama keduanya keluar masuk beberapa toko, namun kini berjalan menuju sebuah bangunan yang cukup megah. Balai pedang langit, terpampang papan nama yang mencolok.


Chuan dam Rouyan memasuki bangunan tersebut. Seseorang pelayan menghampiri keduanya.


"ada yang bisa dibantu" tanya pelayan bersikap ramah


"apa bisa bertemu Nona Ninie" tanya Chuan


"bolehkan tahu nama tuan berdua" ucap pelayan


"bilang saja Chuan" balas Chuan


"baik, coba tak tanyakan dulu" ucap pelayan dan terus berlalu meninggalkan mereka berdua


Sambil menunggu, keduanya berjalan melihat lihat berbagai barang yang dipajang diruang tersebut. Berbagai jenis senjata, bahan obat bahkan beberapa barang yang terlihat kuno.


Bilik misi artifak dan bilik misi alkemis, terlihat dua pintu yang atasnya ada tulisan itu.


"silahkan jika tuan muda hendak mencoba" terdengar suara seorang wanita menyapanya dari belakang.


"ohh,, Nona Ninie" kata Chuan setelah melihat siapa uang menyapanya


"itu misi dari pavilliun pil" ucap Ninie menunjuk pintu dimana Chuan sedang berhenti.


"hehehe, aku hanya melihat lihat" ucap Chuan sambil tertawa pelan


"ada apa mencariku" tanya Ninie


"aku membutuhkan peta benua tengah, bisakah membantu" ucap Chuan.


"hemmm,, apakah kau hendak kesana" tanya Ninie penasaran


"iya" balas Chuan


"aku bisa membantu menunjukkan, tapi tidak dijual" ucap Ninie


"tapi kalau menyalin ada syaratnya" lanjutnya


"apa syaratnya" tanya Chuan


"bantu jawab satu misi untukku" ucap Ninie


"baiklah, akan aku coba" kata Chuan

__ADS_1


Chuan dan Ninie masuk keruang misi alkemis, sedang Rouyan terus berkeliling melihat lihat semua pajangan yang ada. Chuan berdiri depan dinding yang ditempeli lembaran lembaran pertanyaan.


Berbagai macam pertanyaan dalam aspek pengobatan dan pembuatan pil tertulis diatasnya.


__ADS_2