
"terimakasih tuan putri, dan ingat kalau sumpahmu didengar oleh para dewa diatas sana" ucap Chuan tenang lalu duduk kembali. Keheningan dan kesunyian sesaat terjadi karena sikap tenang yang Chuan tunjukkan.
"semua tamu undangan dipersilahkan menuju ruang belakang, dan menikmati hidangan yang sudah disediakan" kata seorang penatua memecah suasana. Terdengar susana riuh tercipta lagi.
Tetua Zhao mendekati Chuan dan mengajak makan bersama. Walikota dan istri pertamanya menghampiri Chuan yang lagi bersama tetua zhao.
"terimakasih chuan" ucap walikota Liong.
"sama sama tuan Liong" balas Chuan.
"panggil saja paman, jangan tuan" lanjutnya.
"hehehe" Chuan tertawa kecil.
"bagaimana kalau sebagian anak anak itu tinggal disini" ucap Yosue menawarkan untuk mereka.
"terimakasih, tapi bibi kan lagi sibuk dengan mainannya" usil Chuan membuat wajah Yosue merah padam.
"mainan apa Chuan" ucap walikota penasaran.
"aduh" lanjutnya menjerit karena cubitan istrinya.
"whahaha" chuan dan tetua zhao tertawa.
"hahaha aku ngerti, maaf istriku" ucapnya sambil tertawa. Keempatnya terlihat santai dengan obrolannya.
Para undangan lain juga asyik menyantap hidangan yang disediakan. Ditempat itu juga disediakan panggung yang menampilkan pertunjukan silat oleh murid sekte utama.
"silahkan jika ada tamu undangan yang berkenan tanding persahabatan dengan murid sekte utama" terdengar seorang tetua menawarkan adu tanding.
"dia tetua tiga, Chuan" ucap Tetua Zhao.
__ADS_1
"ayo anak anak kalian juga boleh mencoba, nanti lawan kalian akan disesuaikan" lanjut tetua tiga memancing mereka.
"kak Chuan" ucap Lumonk setelah mendekati Chuan.
"biar Ninie dan yang lain dulu, kau atur yaa" ucap Chuan.
"baik kak" jawab Lumonk. Ninie terlihat mengambil pedang kayu yang disedikan untuk pertunjukan.
"silahkan adik kecil naik" ucap tetua tiga lalu dia menunjuk muridnya yang berusia 11th.
"siapa namamu" tanya tetua tiga.
"Ninie umur 7th" jawabnya.
Terdengar riuh rendah para undangan. Ada yang memuji dan kagum akan keberaniannya. Beberapa murid sekte terdengar merendahkannya. Juga ada yang kata kata yang cenderung menghina. Namun Ninie terlihat diam dan acuh mendengar itu semua. Tetua Zhao dan walikota memandang Chuan.
"kami sudah biasa dihina dan direndahkan" ucap chuan sambil tersenyum.
"santai saja paman, putri paman juga begitukan" canda chuan.
"maafkan putriku chuan" sesal walikota.
"tak masalah, aku cuma bercanda" ucap chuan.
"whahaha,,," tawanya pecah melihat raut wajah walikota.
"baiklah silahkan kalian mulai" ucap tetua tiga dari luar panggung. Ninie dengan santai memasang sikap waspada, sedang murid tetua tiga mulai memainkan kembangan jurusnya.
"hiattt" dia mulai bergerak menyerang Ninie. Jurus pedang yang dimainkannya belum ditingkat mahir, membuat ninie dengan mudah menangkisnya.
"ayo adik kecil, hajar saja dia"
__ADS_1
"iya hajar dia" terdengar dukungan dari para undangan.
Beberapa jurus berlalu, Ninie mulai melakukan serangan. Beberapa kali pedang kayunya mengenai tubuh lawan.
"aku menyerah" terdengar murid tetua tiga sambil mundur.
Terlihat wajahnya pucat, sedang ninie tetap santai turun dari panggung dbantu tetua gun.
"terimakasih adik Ninie, sekarang siapa yang mau berpatisipasi dengan jago kami" ucap tetua tiga disusul dengan naiknya muridnya yang berusia 18th. Terlihat berada ditahap menengah akhir.
Lumonk terlihat berjalan kepanggung, ternyata dia merasa adik adiknya tak mampu melawannya. Chuan hanya tersenyum mengetahui keputusan anak asuhnya. Sampai diatas panggung dia menghadap para undangan.
"Lumonk, usia 10th" ucapnya memperkenalkan diri.
"namaku Asing usia 18th, nanti kalau adik kalah jangan menangis yaa" ucapnya sombong.
"huuuu"
"sombong" terdengar ejekan para undangan.
"setelah pertandingan ini, kami mohon undur diri paman" ucap chuan pada walikota.
"kenapa terburu buru" tanya walikota.
"sepertinya, suasana hati tetua tiga sedang tidak baik" ucap Chuan.
"baiklah terimakasih, tapi kabari jika kalian pindah ketempat baru" tanya walikota.
"iya paman, kami masih perlu banyak persiapan untuk itu" jawab Chuan.
"lain hari aku dan murid muridku akan berkunjung, sekalian bisa latih tanding dengan kalian" ucap tetua Xhao.
__ADS_1
"silahkan, dengan senang hati kami menerimanya" ucap Chuan lalu membungkukkan badan kepada ketiganya. Dia kemudian menuju tempat rombongannya berkumpul.