Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Raja Luosan


__ADS_3

"jejakku dicincin itu sudah tak ada, kau bisa mengambil alih dan melihat isinya" ucap sosok itu. Namun juga meminta Rouyan berjaga saat Chuan berkultivasi.


Sesaat Chuan dan Rouyan saling pandang, lalu mengangguk bersamaan sambil tersenyum.


"bisakah kita berkultivasi didimensi ruang" ucap Chuan


"jika perbedaan waktunya besar, itu lebih baik" jawabnya


"jika ruangannya luas, kalian bisa membawa altar ini kedalam" lanjutnya


Chuan mengeluarkan giok dimensi ruang dan tersenyum. Sosok tersebut melayang mendekati keduanya. Rouyan segera memasukkan altar dicincinnya. Tiba tiba terlihat tiga siluet masuk ke giok dimensi, gua tersebut menjadi sunyi.


Diruang dalam gua hanya meninggalkan sebuah giok dimensi ruang diatas lantai. Cahaya dilangit langit masih cukup untuk beberapa waktu. Namun bisa menghilang saat cahaya yang tersimpan habis.


"ini,,, dia,,," guman sosok tetua terkejut.


"giok dimensi ini hadiah dari Kaisar Jing dan dia cucunya Paman Rouyan" ucap Chuan memberi penjelasan


Rubah putih yang sudah bangun terlihat takut saat melihat sosok tersebut. Rouyan yang datang menenangkannya.


"hahahaha" tawa sosok tetua terus menggema.


"aku Raja Luosan, mempunyai seorang penerus" ucapnya membuka identitasnya. Dia sebenarnya raja rubah es yang terkenal di negeri awan.


Beberapa dekade dia keluar dari negeri awan karena keserakahannya. Setelah membunuh raja naga yang sedang berkultivasi, dia memutuskan untuk menyerap energi dan mustika naga tersebut.


Karena unsur yang terkandung bertentangan menyebabkan Luosan mengalami kecelakaan. Perjalanan panjang dari negeri awan ke negeri daratan membuatnya kelelahan.


Untuk memulihkan kondisinya dan berkultivasi, dia menggunakan batu roh tingkat tinggi. Namun saat kritis dalam kultivasinya, batu roh yang digunakannya sudah habis.


Kuatnya energi yang saling bertentangan membuat tubuhnya meledak. Sisa energi spiritualnya digunakan untuk mempertahankan jiwanya agar tidak hancur. Berharap ada orang yang bisa dipercaya untuk menerima warisannya.


"salam yang mulia Raja Luosan" ucap Rouyan sambil bersujud dengan cucunya.


"kalian berdua bangunlah, dan siapa nama cucumu" tanya Luosan


"sebenarnya kami hendak kembali untuk menemui ayahnya agar memberi nama" jawab Rouyan setelah bangun dari sujudnya.


"tak perlu berharap untuk itu" ucap Luosan. Ambil namaku untuk cucumu, lagi pula seutas jiwaku bisa menghilang sewaktu waktu. Kalau mereka pergi kenegeri awan, cukup pertemukan dia dengan ayahnya. Jangan mengharap terlalu banyak, jika tak sesuai yang diangankan akan menciptakan racun dihatinya.


"terima kasih atas segala anugerah yang mulia" ucap Rouyan terlihat lebih bersemangat. Serta senyum yang terus terkembang diwajahnya, seakan lepas dari belenggu yang mengekangnya.


"biarkan cucumu menelan mustika itu saat aku memberi arahan pada Chuan" ucap Luoyan.


"baik" ucap Rouyan sambil mengeluarkan altar dicincinnya.


Chuan segera menelan mustika dan duduk bermeditasi diatas altar. Dia melakukannya setelah Raja Luo menyuruhnya untuk itu. Siluet dari energi dan seutas jiwa Raja Luo masuk diantara kedua alisnya.

__ADS_1


Tubuh Chuan bergetar saat energi dari mustika mulai beredar dalam tubuhnya. Chuan mengedarkan energi tersebut diseluruh tubuhnya. Energi yang sangat besar terus diputar didalam tubuhnya dengan hati hati.


"tenanglah dan kerjakan seperti arahanku" gema suara terdengar dalam pikiran Chuan. Energi ungu dari mustika terus diputarnya. Bersamaan dengan itu, energi spiritual diedarkan agar bisa menyatu. Sehingga memudahkan Chuan untuk mengontrol keganasan energi tersebut.


"mudah diuraikan dengan kata, namun sulit dalam penerapannya" ucap Raja Luo


"tahan dan tetaplah bersemangat" lanjutnya.


Chuan terus menahan sakit akibat ganas dan besarnya energi yang berputar dalam tubuhnya. Beberapa urat nadinya mengalami pembesaran dan menebal. Serta titik simpul diatas pusar dan dada kiri kanan mulai terbuka.


Bulatan kecil terbentuk dan mulai menyimpan sedikit energi didalamnya.


"tiga dentian sekunder" batin Chuan sambil terus mendengar arahan Raja Luo.


Chuan berpikir untuk mengedarkan secara keseluruhan. Tanpa disadari tubuh fisiknya melayang dan mulai berubah posisi berdiri. Kedua tangannya juga terlentang, membuat energi didalam tubuh beredar dengan leluasa.


Proses yang amat mendalam dan terus membutuhkan konsentrasi. Sehingga dalam focusnya, Chuan tak lagi sadar akan waktu.


Hari berganti hari, dan sang waktu terus berjalan. Lima dentian baru telah terbentuk. Didua pergelangan kaki, juga tangannya dan diantara kedua alisnya.


Energi yang mulai stabil terus diedarkan. Chuan perlahan lahan, juga menggabungkan energi qi nya. Energi ungu yang sudah melebur dengan energi spiritualnya sedikit demi sedikit masuk kedentian aslinya.


Hampir semua energi tersebut melebur jadi satu. Tiba tiba terbentuk energi ungu keemasan yang lebih padat dalam dentiannya.


Masih dalam arahan dan bimbingan Raja Luo. Chuan melanjutkan kultivasinya dengan mengedarkan energi qi didentiannya. Energi tersebut terus diputar melewati delapan dentian sekunder yang baru.


"energi qi spiritual" ucap Raja Luo. Berbaurnya dua energi tersebut, memudahkan Chuan dalam meningkatkan tahapannya. Kedepan sumberdaya dan keberuntungan apapun akan meningkatkan keduanya secara bersamaan.


Dari ketiga energi yang ada, energi spiritual Chuan lebih mendominasi karena tingkat spiritualnya lebih tinggi dari tahap kultivasinya. Maka saat Chuan mengeluarkan energinya, banyak orang akan mengira itu energi spiritual.


Saat ini Chuan telah masuk ditahap suci menengah tingkat tiga. Di negeri daratan dan lautan menyebut tahap tersebut sebagai tahap kaisar tingkat tiga.


Raja Luo hampir kehabisan energinya. Dia meninggalkan sebagian pengalaman dan kenangannya, didalam pikiran Chuan. Dia meminta Chuan untuk mencernanya, berharap hal tersebut bisa membantu dikemudian hari.


"bangunlah dulu" ucap Raja Luo kemudian keberadaan seutas jiwanya menghilang dari pikiran Chuan. Siluet keluar dari kening Chuan. Bersamaan dengan itu, perlahan mata Chuan terbuka. Mendapati posisinya yang melayang dia sempat terkejut lalu perlahan turun.


"selamat Chuan" ucap Rouyan sambil tersenyum.


"terima kasih paman" balas Chuan senang.


"waktuku tak lama lagi" ucap Raja Luo membuat keduanya terdiam.


"didalam cincin aku titip token dan tongkat identitas dari raja rubah es" pesan Raja Luo. Jika Chuan dan Rouyan pergi ke benua awan datanglah ke kerajaan rubah es.


Siapapun yang duduk sebagai raja di kerajaan itu, serahkan kedua barang tersebut. Jangan ceritakan keadaan yang terjadi. Sehingga mereka mengira Raja Luo masih hidup dan keamanan Chuan serta Rouyan akan terjamin.


"senang bertemu dengan kalianl" ucap Raja Luo sambil tersenyum. Sosok Raja Luo menjadi titik cahaya kecil dan kemudian menghilang.

__ADS_1


"selamat tinggal" gema suara terdengar bersamaan hilangnya titik cahaya itu.


"terima kasih, Raja Luosan" ucap Chuan sambil membungkuk dalam. Bahkan Rouyan bersujud tiga kali untuk mengungkapkan syukurnya.


"berapa lama aku berkultivasi" tanya Chuan setelah perasaan larut keduanya berangsur pulih.


"satu tahun" ucap Rouyan


"haahhhhh" guman Chuan sambil memelototi Rouyan.


"di dunia luar kurang dari sehari, tidak perlu panik seperti itu,,, whahahahaha" ucap Rouyan sambil tertawa ngakak.


"ternyata kau tampan juga, tapi sangat bau" goda Rouyan karena cairan hitam lengket ditibuh Chuan memang berbau busuk.


"sial, aku mandi dulu" ucap Chuan sambil berlari kearah kolam buatan.


Kotoran yang menempel ditubuh dan pakaiannya segera luruh saat bersentuhan dengan air kolam. Aliran energi yang memasuki tubuh Chuan membuatnya menjadi segar kembali. Tak mau banyak energi yang terserap dalam tubuhnya, Chuan segera keluar dari kolam.


Chuan dan Rouyan duduk santai bersandarkan altar. Keduanya bercakap santai dan lebih bersemangat. Disela percakapan keduanya, Rouyan hanya tersenyum saat melihat Chuan meneteskan cairan hitam kepipinya.


"beberapa waktu yang lalu, ada guncangan disini" ucap Rouyan.


"aku tidak merasakan perubahan dengan giok dimensi ini" ucap Chuan mrnanggapinya.


"sebaiknya kita keluar dulu" kata Rouyan.


"baiklah, seharusnya diluar masih sore" balas Chuan lalu mengajak Rouyan keluar.


Keduanya terkejut, karena tiba tiba dikelilingi banyak orang. Serta banyak bangunan dari kayu sederhana. Terlihat juga oleh Chuan, giok dimensinya tergeletak diatas meja. Dengan lambaian tangan giok tersebut menghilang dicincin naganya.


"siapa kalian" teriak seorang yang bertubuh kekar didepan Chuan.


"seharusnya aku yang bertanya, siapa kailan ini dan kenapa mengganggu istirahatku" balas Chuan


"kau,,,," geram orang itu terdengar.


Namun saat hendak melanjutkan ucapannya, seorang pria tua meju kedepan Chuan dan Rouyan.


"kami, salah satu suku yang mendiami pegunungan ini, mohon kalian memperkenalkan diri" ucapnya


"aku Chuan dan ini pamanku, kami sedang berkelana sambil mencari tanaman obat" ucap Chuan memperkenalkan diri.


Kegaduhan tiba tiba terjadi ditempat tersebut. Chuan dan Rouyan hanya bisa saling pandang.


"kau seorang tabib" tanya pria tua


"iya" jawab Chuan tenang.

__ADS_1


__ADS_2