
Sesekali tetua shusin memancing chuan dan kedua penjaga tentang kejadian disekte utama. Dengan wajah polosnya mereka bertiga bengong tak tahu apa yang terjadi. Chuan malah menunjukkan wajah bodohnya pada tetua shusin.
Mereka berempat sedang melakukan perjalanan untuk perekrutan murid sekte diklan chu. Dan ini adalah tempat terakhir yang akan mereka kunjungi. Tetua shusin memberikan penjelasan dan juga menawarkan pada chuan agar ikut seleksi.
Dengan halus chuan menolak tawaran tersebut.
"kamu menolak tawaran guru kami" ucap seorang murid tetua shusin heran.
"tawaran tetua shusin terlalu besar buatku, namun disini ada yang lebih berharga yang harus kami jaga" jawab chuan.
"maksudnya" tanya murid yang lain.
"ada dua puluh sembilan anak usia enam sampai sembilan tahun yang bersamanya" kata caocao
Dia kemudian menjelaskan keadaan chuan, tentang anak anak yang tanpa keluarga sedang bersamanya, seperti yang didengarnya dari bibi fei dan nenek hong.
Tetua shusin dan ketiga muridnya menatap chuan dengan penuh rasa penasaran.
"kami dari golongan putih, tapi banyak anak anak seperti itu yang kami abaikan" ucap tetua shusin
"maaf, kami terlalu bangga dengan kebesaran sekte, jadi merasa tersinggung kalau ada yang menolak tawaran guru kami" ucap murid yang tadi sedikit emosi.
"tak apa apa, setiap orang pasti punya pilihan, alangkah bijak jika kita bisa menghormati pilihan yang lainnya" ucap chuan, membuat tetua shusin semakin penasaran.
Chuan lalu asyik menikmati araknya. Enam orang yang lain tenggelam dengan obrolannya. Saat malam mulai beranjak pagi, chuan pamit untuk kekamar. Tetua shusin juga menuju kamar tamu. Tinggal mereka berlima tetap dalam obrolannya.
__ADS_1
Pagi menjelang, penginapan yang biasanya sepi kini ramai oleh anak anak. Tetua shusin dan ketiga muridnya yang belum lama beristirahat terbangun oleh suara anak anak.
Keempatnya lalu duduk santai dilobi seperti tadi malam. Chuan merasa kalau anak anak sedang bermain depan kamarnya. Dia lalu keluar dari kamarnya.
"pagi kak chuan"
"pagi kak"
"horee sudah bangun" teriak anak anak bersahutan.
"huhhh, kalian sudah mengganggu mereka, ayo minta maaf" ucap chuan menunjuk tetua shusin dan murid muridnya.
"maafkan mereka tetua" ucap chuan setelah mendatangi keempatnya.
"maafkan kami paman" ucap anak anak hampir bersamaan. Tetua shusin mengangguk dan tersenyum melihatnya.
"baik kak" jawab mereka lalu berhamburan kebelakang penginapan.
"chuan" panggil tetua shusin.
"ada apa tetua" balas chuan.
"dari mana anak anak itu" tanya tetua shusin.
"mereka dari beberapa desa diklan chu, sedang keluarga mereka meninggal karena perampokan yang meraja lela beberapa saat lalu" ucap chuan mengingat ingat apa yang pernah dijelaskan bibi fei.
__ADS_1
Tetua shusin dan ketiga muridnya terdiam.
"maaf, aku menemani mereka dulu" ucap chuan.
"iya silahkan" jawab tetua shusin. Namun dia tetap termangu melihat kejadian pagi ini.
Chuan berlalu dari hadapan keempat orang itu. Saat melewati meja dilihatnya para pelayan sedang menata hidangan untuk makan pagi.
"tambahkan buat empat orang biar aku yang membayar" ucap chuan.
"baik" jawab pelayan itu.
"dimana saudara yanyan dan cao" tanya chuan.
"mereka sedang tidur diruang belakang" jawabnya.
"oh iya,,, saudara teysan sedang menunggu ditaman" lanjutnya.
"terimakasih" jawab chuan dan bergegas ketaman.
"selamat pagi tuan teysan" sapa chuan pada teysan yang sedang berbincang dengan nenek dan bibi. "wah, saudara chuan jangan panggil tuan, tidak nyaman mendengarnya" ucap teysan.
"hehehe" disambut tawa kecil oleh chuan.
Teysan lalu menjelaskan kondisi sekte pasir putih yang sekarang tidak bisa lepas dari serikat bintang perak. Juga berita tentang kejadian semalam tak lupa disampaikan. Bahkan yang lebih mengejutkan, kedekatan kepala cabang dengan beberapa tetua sekte golongan hitam. Teysan lalu menyodorkan surat karena ada sesuatu yang tidak bisa disampaikan secara terbuka.
__ADS_1
Chuan juga memberitahu kalau ada tetua dua sekte macan putih dan muridnya yang ikut menginap.
Dia juga menjelaskan tujuannya menerima mereka. Serta semua biaya akan ditanggung chuan. "baiklah, ternyata kamu lebih bijak dari pada aku" ucap teysan.