Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Rencana Pindah


__ADS_3

Saat para undangan berdebat dengan pemikirannya masing masing. Tetua Satu lalu berjalan kedepan dan membuka totokan ketiga orang yang telah mendapat hukumannya. Dan kembali ketempat duduknya setelah itu. Begitupun Tetua Empat dan Lima.


Tetua Tian menyerahkan surat yang baru dibacanya kepada walikota. Tawaran duduk didepan bersama walikota ditolaknya karena dia menghormati Chuan.


Sedangkan ketiga orang terhukum masih meringis menahan sakit yang tiada terkira. Suara gaduh terdengar memasuki ruang aula tersebut.


Tiga wanita dan lima pemuda terlihat emosi saat berjalan kedepan.


"aku pasti membalas kalian" teriak anak tetua dua sambil menunjuk para tetua sekte utama. Seorang pemuda 25th berada ditahap mahir yang sangat sombong.


"keputusan rapat, karena kesalahan ketiganya adalah mencabut semua posisi dan fasilitas, silahkan bawa ayahmu" ucap tetua satu. Ketiga orang itu dibawa istri dan anak anaknya. Tangis para istri dan anak ketiganya terus terdengar, namun ada seraut wajah dendam dari anak tetua dua.


Setelah ketiga keluarga teesebut keluar, Chuan dan para tetua segera undur diri. Ucapan terimakasih dan sanjungan disampaikan oleh walikota. Bahkan dia menawarkan untuk mengantar kepindahan mereka ke hutan suci nanti, akan dikawal Tetua Zhao.


"terimakasih, namun kestabilan klan dan sekte utama lebih penting daripada perjalanan kami" ucap chuan lalu menghormat walikota dan berjalan keluar aula setelah itu.


Semua orang diaula memandang kepergiaannya. Pertemuan dilanjutkan dengan pembahasan tentang pembangunan masing desa. Dan juga mengingatkan agar dua desa yang berdekatan dengan hutan suci agar menjalin hubungan baik dengan kelompok Chuan.

__ADS_1


Pertemuan terus berlanjut dengan suasana yang lebih santai, bahkan setelah sembuh dari sakitnya sikap walikota sudah berubah. Sikap yang terbuka membuat para kepala desa mudah menyampaikan usulannya.


Ketika semuanya lagi asik dengan segala programnya, ditempat Chuan juga ada rapat kecil para orang tua. Chuan meminta kepastian tentang kedekatan Tetua Lifan dan Nenek Hong. Tak ketinggalan Tetua Tian dan Bibi Fei yang aebulan ini terlihat juga sering bersama saat waktu luang.


"whahaha,,, apa masih pingin pacaran dulu kayak muda mudi" usil Chuan. Berkali kali dia lontarkan keusilan semacam itu. Sampai tak sadar akan waktu, Chuan membubarkan pertemuan kala sore datang.


Saat sore telah datang, anak anak mulai membersihkan dirinya. Nenek Hong dan Bibi Fei sedang sibuk didapur. Tak terasa ritinitas yang cukup berat telah terbiasa bagi mereka.


Biarlah kalau mereka belum ada niat menikah, itu bisa dilakukan ditempat yang baru. Masalah hati ternyata lebih sulit daripada sekedar masalah perut. "hehehe" tawa kecil dipikiran Chuan sambil menerawang jauh kedepan.


Tak terasa senja berganti malam. Kini saat maka telah tiba. Dari sinilah rasa kabersamaan dan kekeluargaan tercipta. Rasa saling memiliki, ingin saling melindungi, dan rasa saling menghargai serta saling menghormati. Selesai beres beres semuanya berkumpul lagi.


"horee"


"asyikkk"


"iya kak" sorak anak anak bergembira.

__ADS_1


"kami ikut saja bagaimana baiknya" ucap Tetua Tian. "baiklah, tapi besok ada tugas yang harus kalian kerjakan" ucap Chuan pada anak anak.


"baik kak" sahut mereka. Chuan lalu membagi tugas pada anak anak. Empat anak disuruhnya ke serikat dagang untuk pesan seratus pedang tumpul dengan tajam diujungnya saja.


Sambil Chuan memberikan gambar detailnya. Dia juga pesan ke mereka diusahakan dalam 3hr dikirim serta pembayaran akan dilakukan dirumah. Beberapa anak juga dapat tugas untuk mengirimkan surat ke beberapa orang.


Sedang untuk yang lain hanya melakukan latiahan kecil, waktu sisa mereka akan menerima pengenalan jenis tanaman obat obatan dari Tetua Tian dan Lifan.


Untuk Tetua Gun dan yang lain menjemput istri istri mereka. Menurut Chuan, mereka harus beradaptasi dulu dengan semua anak. Tak lupa dia mengeluarkan cincin dimensi yang dia dapat, untuk dibagikan pada para tetua.


"satu untuk Bibi Fei, tetua yang belum punya silahkan ambil" ucapnya.


"sisa dua" kata Tetua Lifan.


"berikan pada nenek dan bibi, biar digunakan untuk menyimpan bahan makanan yang tak bisa disimpan lama ditempat terbuka" ucap Chuan.


"buat menyimpan sayur dan ikan, kalau begitu" ucap Bibi Fei sederhana, disambut senyum kecut para tetua.

__ADS_1


"yang milik nenek buat menyimpan tanaman obat juga bisa" lanjut Chuan. Sementara dia juga minta sisa pil yang mereka buat untuk dibagi rata.


Semuanya setuju dengan pengaturan Chuan, setelah itu dia pamit latihan ditepi sungai. Sedang anak anak disuruh istirahat setelah mereka selesai bercakap cakap dengan lainnya.


__ADS_2