Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Penguatan Tulang


__ADS_3

Beberapa belut petir sebesar lengan dan panjang satu meter terasa melintas dibelakangnya.


"guru, anak belut sebesar ini" ucap chuan.


"itu belut dewasa chuan, sepertinya mereka habis bertelur" jelas patriak lion. Jawaban patriak lion membuat suasana senyap.


"sengatannya membawa energi petir yang cukup besar, nanti alirkan keseluruh tubuhmu, agar terbiasa dengan energi petir, kemudian gunakan dulu untuk menempa tulang nagamu agar lebih padat dan kuat" lanjut patriak lion.


"tarsss" terdengar letupan kecil saat sengatan belut petir mengenai kaki chuan. Energi yang sedikit liar menari nari memasuki tubuh chuan. Tak mau ada kesalahan maka dengan serius dia mengalirkan energi petir ditubuhnya.


Lama proses berlangsung, dengan tenang dan focus chuan mengalirkan energi disetiap ruas dari tulangnya. Belum sampai sepertiga tulangnya dialiri energi, ternyata energi petir mulai melemah karena terikat ditulangnya untuk mengisi kekosongan energi.


Butuh energi yang cukup besar untuk proses menempa tulangnya. Beberapa belut petir masih berkeliaran disekitar chuan, dan belum menyengatnya.


"tarsss, tarrsss" dua sengatan hampir bersamaan menyapa tubuhnya. energi petir yang lebih besar membuat tubuhnya sedikit bergetar. Dengan extra hati hati mengalirkan energi untuk proses penempaan tulangnya.


Tiada berhenti chuan mengalirkan kesetiap ruas tulangnya. Sengatan datang lagi dan lagi. Tulangnya semakin padat dan kuat. Energi petir terus mengalir kedalam tubuhnya.


Selesai semua tulangnya, chuan mulai bingung.

__ADS_1


"guru" panggil chuan


"tetap masukkan kedalam tulangmu, untuk memurnikan sumsummu, walaupun sangat sakit prosesnya" jelas patriak lion.


Proses yang terus berlanjut, teriakan kecil terdengar saat chuan mengigitkan giginya menahan rasa sakit yang datang.


Pagi menyapa geliat belut petir mulai menghilang.


"huek, huek" chuan memuntahkan cairan hitam kental. "sumsummu sudah bersih chuan, alirkan sisa energi petir untuk menguatkan saraf dan otakmu" bimbing patriak lion.


Tanpa menjawab chuan mangalirkan kesetiap jaringan saraf yang menuju keotaknya. Energi yang tersisa ternyata masih cukup besar.


Tak mau ada resiko, chuan melakukannya dengan pelan dan extra hati hati. Pagi pun merayap menjadi siang. Saat siang hendak menghilang berganti sore, chuan mengakhiri meditasinya.


"kembali dulu kepondok, chuan" terdengar suara patriak lion.


"baik guru" ucap chuan lalu melesat melompati lereng berbatu.


Tak berapa lama sampailah dipondok. Siluet cahaya keluar dari tubuh chuan. Patriak lion muncul kembali dihadapannya.

__ADS_1


"tanda hitam diwajahmu kemana?" tanya patriak lion. "maaf guru, tanda itu hilang kalau aku mengalirkan qi saat wajahku terkena air laut" jawab chuan.


"jadi tidak asli dari lahir"


"tidak guru, ini ada cairan hitam yang nanti bisa dibuat lagi"


"seperti tanda lahir saja"


"karena cairan ini masuk kekulit wajah dengan energi qi" lalu chuan menjelaskan alasan kepada gurunya. Dia berpenampilan seperti sebelumnya agar terhindar dari sifat sombong.


Hitam diwajahnya akan dia hilangkan nanti kalau sudah berkeluarga. Berbagai petuah yang dulu dipesan oleh tabib hitam dan tuan yu san, dia sampaikan kegurunya. Bahkan beberapa pengalaman dari tabib hitam tak ketinggalan ikut tersampaikan.


"begitulah alasannya, guru" ucap chuan mengakhiri ceritanya.


"syukurlah chuan, kedua gurumu berharap kesalahan beliau tidak terjadi padamu" ucap patriak lion.


"hancurkan batu hitam itu dengan tongkat bintang langitmu" lanjutnya memberi perintah pada chuan.


"baik guru" ucap chuan lalu mengeluarkan tongkat bintang dari cincin dimensinya.

__ADS_1


Setelah mempersiapkan ilmu pedang naga api dan mengalirkan energinya ketongkat chuan mulai mengayunkannya kebatu hitam tersebut.


"hiaatttt". "brakkkk" terdengar batu hitam pecah. Muncul lubang dibawah batu tersebut. Terlihat peti kayu tertata rapi dan beberapa kitab terselip dalam keadaan tertata juga disebelahnya.


__ADS_2