Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kepompong Es


__ADS_3

Suara suara pelan keluar dari semua orang ditempat tersebut. Mereka menyebut, pemimpin dan para penjaga.


"ada apa" tanya Chuan.


"ada wabah yang menimpa suku kami" jelas pria tua.


Dia bernama Sin Wan, sesepuh suku orang gunung. Pemimpin suku dan banyak pemuda yang sakit secara tiba tiba. Namun mereka tak mampu mengundang seorang tabib karena biayanya.


"bisakah mereka dibawa keluar dan berkumpul ditanah lapang ini" tanya Chuan


"laporkan pada pemimpin suku" teriak Sin Wan pada orang kekar itu. Kemudian orang tersebut berlari memasuki sebuah rumah kayu.


Seorang pria paruh baya terguncang dipunggungnya, saat dia keluar. Didepan Chuan, pria tersebut diturunkan. Tatapan putus asa terlihat dari mata sayunya.


"bawakan apa yang kalian makan dan minum" ucap Chuan setelah memeriksa dan mengetahui kalau dia sedang keracunan. Tak berapa lama, beberapa orang membawa apa yang diminta Chuan.


Terdapat tiga ubi ubian, ketika salah penanganannya malah meracuni tubuh secara perlahan. Dalam jangka panjang akan berakibat fatal.


"kupas dan rendam selama tiga hari, lebih baik kalau di air yang mengalir lalu jemur sampai kering sebelum memasaknya" ucap Chuan pelan namun menggema ditempat itu.


Tak ada yang menyangka dengan penjelasan Chuan.


"untuk buah ini seharusnya jangan dipetik, biarkan dia masak dan jatuh dari pohonnya" lanjut Chuan sambil memegang satu buah yang ranum, tapi getahnya tidak bagus buat pencernaan manusia.


Tak ada suara yang terdengar ditempat tersebut. Semua orang menunggu dengan serius, apa lagi yang akan disampaikan oleh Chuan.


"bawa semua orang yang sakit dan air minum yang banyak" ucap Chuan.


Semburat orang orang berlarian membawa keluarga mereka. Sepuluh galon air juga dibawa para pemuda kedepan Chuan.


Dari cincinnya, Chuan mengeluarkan pil emas, pil nutrisi dan pil anti racun. Kemudian melarutkan didalam galon galon air tersebut. Tak lupa sedikit energi spiritualnya dialirkan untuk mempercepat pemulihan mereka.


"tiap orang minumlah segelas dan meditasilah" ucap Chuan yakin mereka dapat melakukannya. Karena hampir semua orang berada ditahap awal dan menengah.


"biar aku yang mencoba" teriak pemimpin suku sedikit memaksakan suaranya.


Setelah minum dan meditasi, terlihat raut wajahnya sudah mulai membaik.


"ambilkan segelas lagi" ucap Chuan. Dan ditindak lanjuti oleh seorang pemuda.


Setelah meminum yang kedua, keringat yang bau keluar dari tubuhnya. Sampai efek obat tersebut habis, pemimpin suku lalu berjongkok menghadap Chuan.


"terima kasih, aku tak tahu bagaimana membalasnya" ucap pemimpin suku.

__ADS_1


"tak perlu, minumkan setiap yang sakit dua gelas dan yang sehat satu gelas saja" ucap Chuan


"terima kasih" balas pemimpin suku


"juga mandilah dulu, baunya membuat suasana tidak nyaman" ucap Chuan sambil tersenyum.


"hahaha"


"hihihi"


"hehehe" terdengar tawa pelan dari semua orang


"selain itu aku hanya mengambil kembali batu giokku dan harap tidak ada keberatan dari kalian" lanjut Chuan


"tidak, kami tidak berani" ucap pria kekar tersebut sambil menjatuhkan lututnya.


"diatas langit langit gua itu, ada batu kristal yang bisa menyimpan cahaya" ucap Chuan. Mereka disuruh mengambil dan menjadikan penerangan saat gelap datang.


Kalau mereka mau, Chuan juga menyarankan untuk membuat jalur kekota. Sambil menulis sesuatu pada secarik kertas.


"jual tanaman obat yang kalian temukan, namun budidayakan yang masih muda" ucap Chuan.


"kami bisa membudidayakannya dan tahu jalan sampai pinggiran kota, namun kami sering mendapat perlakuan yang buruk" ucap Sin Wan


Chuan dan Rouyan saling pandang, kemudian melesat cepat seakan hilang dari pandangan semua orang.


"bangun wilayah kalian dan giatlah berkultivasi dengan tehnik yang aku tinggalkan diatas meja" suara Rouyan terdengar menggema disetiap sudut ditempat itu.


Semua orang menatap meja yang diatasnya terdapat kitab tehnik. Suasana yang hening tercipta dan terdengar suara lutut yang menyentuh tanah.


"terima kasih, nama tuan berdua akan abadi sampai anak keturunan kami" teriak Sin Wan terdengar dengan lantang.


Sementara Chuan dan Rouyan telah jauh dan berhenti diatas puncak gunung. Kedua berencana bermalam dipuncak tersebut. Karena keduanya tidak mau merepotkan orang orang itu.


***


Sementara disekte hutan suci, para tetua dan keluarga besar sekte mempunyai kesibukan yang melelahkan juga menyenangkan. Pembuatan kebun obat yang Tetua Gun rencanakan mulai dikerjakan.


Para warga yang meminta bantuan terus bertambah. Pengobatan murah bahkan cenderung gratis saat itu, kini mereka berusaha untuk membawa sesuatu yang berharga.


Para wakil tetua melatih prajurit yang telah datang. Sedangkan semangat murid baru bernama Lin Dong memicu murid lain menjadi semakin giat.


Pembangunan pagar luar sekte akhirnya semakin cepat dalam pengerjaannya. Karena kabar adanya prajurit kekaisaran yang berlatih disekte hutan suci tersebar luas. Membuat para patriak klan dan beberapa sekte memberikan bantuannya.

__ADS_1


***


Lou Sin yang akhirnya mengetahui identitas Chuan hanya bisa bersyukur bersama istri dan kedua karyawannya. Mereka melakukan sedikit perbaikan agar penginapannya lebih menarik. Selain itu, ada harapan dalam hatinya.


Mereka berharap Chuan atau anggota sekte hutan suci berkunjung kepenginapannya. Sehingga mereka dapat menjamu untuk membalas kebaikan yang telah diberikan Chuan.


***


Chuan dan Rouyan terus melakukan perjalanan saat pagi datang. Namun saat malam keduanya menginap dipenginapan saat menemukan kota. Tapi lebih sering menginap di alam terbuka.


Hari berganti minggu, bahkan sudah lebih sebulan kedua orang itu melakukan perjalanan. Tiba tiba awan gelap tergantung diatas mereka.


"petir kesengsaraan untuk ras binatang" ucap Rouyan terlihat gelisah.


Chuan menoleh pada Rouyan lalu tersenyum dan terus menuju kearah hutan lebat. Sampai didalam hutan, Chuan memperhatikan sekitarnya. Awan gelap dilangit, membuat para binatang melarikan dan bersembunyi.


Chuan masuk kedalam giok dimensi dan segera keluar dengan membawa rubah putih yang sedang terbungkus energi es. Seperti sebuah kepompong dari es, yang diletakkan Chuan disela pohon tinggi.


"kita memantau dari jauh" ucap Chuan. Sedang Rouyan yang masih terlihat cemas hanya mengangguk. Awan yang semakin pekat, membuat keduanya mulai cemas.


Untaian doa untuk keselamatan cucunya terdengar dari bibir Rouyan. Chuan juga terlihat tegang diraut wajahnya.


"ssjdeerrr, jdeerrr" terdengar letupan yang mengarah pada kepompong es. Sudah dua kali letusan terdengar.


Pepohonan yang tinggi membantu mengurangi efek petir tersebut. Saat petir ketiga datang dan disusul yang keempat, tempat tersebut mulai terbuka. Pepohonan ditempat tersebut gosong dan hancur.


"ssjdeerrrrr, jderrrrr" dua petir yang hampir bersamaan membuat kepompong es hancur. Sosok anak laki laki telanjang terlihat ditempat itu. Terlihat kilat menyelimuti tubuhnya


"Chuan" ucap Rouyan pelan dan terdengar cemas.


"kalau kita membantu, kesengsaraannya akan semakin kuat" balas Chuan, sambil terus melihat perkembangannya.


Saat kecemasan terus.meliputi keduanya, tiba tiba rentetan dua petir menerjang. Tubuh anak tersebut terlihat sudah dalam kondisi yang parah. Energi petir yang terus menyelimutinya. Serta luka luka dihampir seluruh tubuhnya.


Setelah dalam posisi berdiri pada enam petir sebelumnya. Kini dia duduk bermeditasi untuk berusaha menstabilkan kondisinya. Sedang Chuan dan Rouyan masih berdiri mematung.


Awan yang masih terlihat hitam pekat, seakan marah melihat perjuangan anak itu. Tubuh yang penuh luka itu, tiba tiba bangun dari meditasinya.


Awan hitam terus bergolak seakan ingin menghentikan perjuangan anak tersebut. Didalam gumpalan awan terlihat siluet berbentuk naga yang hendak menyerang.


"glerrr, glerrr,,, jdeeerrrrr" gema gemuruh yang terdengar, disusul suara ledakan petir yang menggelegar. Tubuh yang tersambar terpental hingga seratus meter. Bahkan kondisinya menjadi sangat parah.


"aku akan merawatnya didalam dan bawa gioknya pergi dari tempat ini" teriak Chuan sambil melesat dan menyambar sosok yang terbaring menyesal. Rouyan juga melesat, lalu mengambil giok dimensi yang telah dimasuki Chuan dan anak itu.

__ADS_1


__ADS_2