Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Datanglah


__ADS_3

"jangan gegabah dalam memutuskan untuk bergabung dengan kami" ucap Chuan. Sekte hutan suci bukan sekte yang kuat. Bahkan sekte kami baru setahunan berdiri. Disini hanya menekankan rasa persaudaraan, bukan tentang kekuatan.


Pelatihan untuk murid sekte hanya bertujuan untuk kesehatan tubuh mereka. Selain itu tiap murid diwajibkan belajar tentang pengobatan dan pembuatan pil. Kami akan memilih murid berbakat dalam pembuatan pil untuk dilatih lebih intensif. Jelas Chuan pada para tamunya.


Tak perlu memutuskan suatu hal sebelum berpikir secara matang. Namun Chuan akan membantu meningkatkan kemampuan kedua tetua dan murid sekte rawa angin. Mereka harus segera menembus kemacetannya. Beberapa penjelasan lain juga disampaikan Chuan.


Kemudian dia memberi masing masing dua pil, apel emas dan tiga anggur darah.


"Tetua Tian yang akan membantu mengarahkan kalian" ucap Chuan menyudahi penjelasannya.


"ohh, benarkah" teriak dua tetua itu terkejut.


Melihat apa yang diberikan Chuan membuat mereka mematung tanpa kata. Jangankan mendapatkan barang tersebut, membayangkan apel emas dan anggur darah mereka tak berani karena nilainya.


"mulailah makan semuanya dan berkultivasi, kalian tidak mempunyai banyak waktu" ucap Chuan. Mereka semua lalu memakan apa yang Chuan berikan. Tetua Tian dan Lifan memberi arahan pada mereka yang mulai berkutivasi. Sedang Chuan pergi melihat anak anak yang sedang berkultivasi ditempat latihan mereka.


Malam berganti pagi, para tamu belum selesai mengolah energi didalam tubuh mereka. Semuanya masih tenggelam dalam kultivasinya. Teysan, Teikong dan semua keamanan sekte menjaga agar kultivasi mereka tidak terganggu.


Saat hari berganti malam, riak energi memancar dari tubuh mereka. Kedua tetua berhasil menerobos tahap langit. Sedang murid muridnya kokoh dipuncak tahap mahir.


Chuan segera menghampiri mereka.


"selamat untuk kalian semua" ucap Chuan. 


"terimakasih tetua" jawab tetua sekte rawa angin.

__ADS_1


"sebaiknya kalian mandi dulu, kasihan yang lain mulai tak tahan baunya" ucap Chuan.


"hah" terdengar guman mereka, lalu melesat menuju sungai. Tak lama menunggu, semuanya sudah kembali. Raut wajah mereka menunjukkan kebahagiaan yang tak terkira.


"terima kasih, kalau boleh kami tahu tahap Tetua Chuan" ucap seorang tetua mewakili temannya.


"para tetua dan yang lain, lepaskan" ucap Chuan. Tiga pendekar langit dan yang lainnya pada tahap bumi, terlihat cukup membuat para tamunya tercengang.


"cukup" ucap Chuan. Tekanan yang diterima para tamu hilang saat mereka menekan tahap kultivasinya.


"cukup para tetua dan keamanan sekte yang kalian ketahui" ucap Chuan.


"tak ada keraguan kami bergabung dengan sekte ini, dan kami juga berhutang budi pada tetua" ucapnya.


"tak perlu dipikirkan, dan cukup panggil Chuan saja" ucap Chuan.


"seandainya sudah tekad kalian mau bergabung maka datanglah setelah itu, namun kami akan melihat dan memilih siapa yang kami ijinkan tinggal disini" jelas Chuan.


"terimakasih, kami kembali dulu dan apapun nanti keputusannya akan kami terima" ucap tetua sambil membungkukkan badan, dan diikuti yang lain.


Sepeninggalan para tamunya, Chuan, Tetua Tian dan Teikong berangkat menuju kedua desa yang dijanjikan akan dikunjunginya. Tiga kuda terlihat dipacu menyusuri jalan dihutan suci. Setelah keluar perbatasan ketiganya tetap berpacu cepat.


Tak lama sampailah mereka disebuah desa. Terlihat pemandangan yang cukup menyentuh Chuan. Deretan rumah sederhana yang tak terawat. Bahkan beberapa rumah tak layak huni.


Namun terlihat kontras dengan sekitarnya, berdiri dua bangunan yang cukup beaar.

__ADS_1


"aku kira rumah kepala desa" batin Chuan saat Teikong melewatinya, dan terus memacu pelan kudanya. Hampir diujung desa ketiganya berhenti dirumah sederhana, yang ternyata milik kepala desa.


"silahkan masuk" ucap kepala desa yang menyambut kedatangannya. Empat orang tua yang sedang berada dirumah tersebut berdiri membungkuk hormat pada Chuan dan yang lain.


Diantara mereka ada seorang pemuda yang memandang sinis pada Chuan. Dengan santai mereka bertiga duduk diantara orang orang itu.


"paman berempat sudah kami kenal, sedang pemuda ini siapa" tanya Chuan memulai pembicaraannya.


"dia anak tuan tanah didesa ini" jawab kepala desa. "hahaha, memang ada apa mau tahu tentangku" ucap pemuda itu sombong.


"tidak apa apa, cuma belum pernah ketemu saja" ucap Chuan yang melihat Teikong mulai menunjukkan raut emosi.


"tak ada untungnya berkenalan denganmu" lanjutnya. "memang kami bukan siapa siapa, cuma berkunjung saja ketempat ini" ucap Chuan tetap merendah.


"pemuda jelek dan miskin, tak ada untungnya aku disini" ucap pemuda tersebut lalu beranjak pergi.


Teikong yang terlihat emosi hanya diam. Chuan memberinya isyarat dengan menggelengkan kepalanya. "maaf Chuan" ucap kepala desa. Dia kemudian menjelaskan kalau hampir semua tanah warga dibeli ayah pemuda itu dengan curang.


Awalnya mereka berhutang padanya saat gagal panen. Bunga yang dibebabkan cukup tinggi, sehingga banyak warga yang melepaskan sawah mereka untuk melunasi hutangnya. Saat ini hampir semua warga bekerja menggarap lahan tuan tanah tersebut. Namun upah yang diterima sangatlah sedikit. Bahkan untuk makan saja tidak mencukupi.


"lalu bagaimana dengan pemuda desa ini" tanya Chuan. "mereka bekerja dirumah yang satunya" jawab kepala desa sambil termenung.


"ada apa" tanya Chuan.


Kepala desa menjelaakan, banyak pemuda yang dipindahkan kekota. Para pemuda memang ijin orang tuanya untuk pindah kerja. Hanya tatapan mata saat mereka berpamitan seakan berbeda. Dan aampai saat ini tak ada yang kembali pulang.

__ADS_1


Para warga yang mendatangi rumah itu untuk menanyakan kabar anak mereka, dan pulang dengan tangan hampa. Menurut mereka, saat para pemuda pindah


__ADS_2