Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Suiittt


__ADS_3

"kenapa kuda itu" tanya Chuan pada penjaga.


"masih terlalu liar" jawabnya.


Dengan santai Chuan mendekatinya.


"huss, husss" sambil mendengus seakan kesal, sambil menatap Chuan yang didepannya.


Seperti yang dijelaskan Patriak Lion. Chuan mulai menyentuh kepala kuda, dan qi murni dialirkannya. Seakan kuda itu merasakan aman dan nyaman, sentuhan Chuan membuatnya tenang.


Kedua penjaga tertegun melihatnya.


"ambilkan tali pendek" ucap chuan sambil melepas dua tali yang mengikat kuda tersebut. Seorang penjaga sedikit takut memberikan tali kekang dari kulit kepada Chuan.


Chuan memasang tali kekang dibantu dua penjaga. Tangan chuan lalu mengulurkan buah kemulut kuda. Merasa energi dari buah, kuda itu dengan tenang memakannya.


"suiittt" terdengar siulan Chuan keras. Kudanya menggoyang kepala seakan mengerti.  "pergilah" ucap Chuan sambil menepuk tubuh kudanya.


Melihat kuda tersebut berlari disekitar tempat latihan, kedua penjaga hanya melotot bingung.


"biarkan kudanya diluar, aku pamit dulu" ucap Chuan menyadarkan lamunan dua penjaga itu.


"hati hati Chuan" ucap mereka.

__ADS_1


**


Sore itu dipinggir kota kingsan, didalam rumah yang sudah direnovasi atas perintah Chuan. Tetua Lifan berkunjung untuk memeriksa Nenek Hong.


Petama kali memasuki rumah tersebut dia dikejutkan oleh banyaknya anak anak. Setelah memeriksa Nenek Hong, Tetua Lifan memberi bimbingan pada anak anak. Karena desakan anak anak pula akhirnya dia bermalam disitu.


Nenek Hong juga menjelaskan kalau kamar depan disiapkan oleh Chuan untuk ketiga tetua.


***


Dikota tiangkun, Chuan sedang menikmati malam terakhirnya dikota ini. Semua orang dari balai lelang berkumpul dirumah makan tempat Chuan menginap.


Tak ada percakapan serius diantara mereka. Hanya canda tawa dan saling usil untuk menambah keakraban. Rasa penasaran tentang identitas Chuan yang tak mereka ketahui seakan diabaikan malam ini. Saat tengah malam, acara mereka berakhir.


"maaf, tuan bisa pindah dimeja bersih itu" ucap kepala pelayan padanya. Posisi Chuan duduk membuat para pelayan kikuk, karena segan padanya.


"baik, dan bawa tagihannya kesana" ucap Chuan lalu pindah dimeja yang telah disediakan.


Tak lama rincian tagihan telah ditangannya. Semua terhitung dengan nilai koin perak yang setara dengan tujuh koin emas. Para pelayan telah selesai dengan tugasnya malam ini. Terlihat enam pelayan duduk sambil berbincang untuk melepaskan lelah.


"lebih baik kalian duduk disini, menemaniku minum arak" teriak Chuan pada mereka. Kepala pelayan mengajak temannya duduk bersama chuan.


"ambil arak buat kalian, aku yang bayar" ucap Chuan, diikuti dua pelayan pergi mengambil arak untuk mereka.

__ADS_1


"apa kalian tidak pulang" tanya Chuan.


"kami kena jatah malam, jadi tidur disini" jawab seorang pelayan. Meskipun ada sedikit canggung, lama lama mereka tenggelam dengan canda guraunnya bersama Chuan. Tanpa mereka sadari semalaman mereka terbawa dengan obrolan Chuan.


"saatnya kalian persiapan pulang, dan ini buat bayar yang semalam" ucap Chuan sambil memberikan sepuluh koin emas.


"ini terlalu banyak" ucap kepala pelayan.


"sisanya bagi kalian semua" ucap Chuan sambil beranjak menuju kamarnya.


"terimakasih" ucap para pelayan pelan, sambil sedikit membungkuk dibelakang Chuan yang telah meninggalkan mereka.


Setelah membersihkan diri, Chuan langsung keluar penginapan.


"suiittt" siulan panjang Chuan terdengar, dan seekor kuda jantan berlari kearahnya. Langsung Chuan melompat kepunggungnya, dan memacu pelan.


Dengan santai dia melintasi jalur para pedagang yang diberitahukan oleh Tian Sun. Butuh waktu seminggu jika Chuan berkuda dengan santai.


Beberapa desa yang dia lewati tidak mengusik keingintahuannya. Bahkan Patriak Lion juga membiarkan dirinya melihat lihat penataan dari desa desa itu..


***


Hari berganti hari, hampir sebulan Chuan meninggalkan anak anak diklan chu. Semangat anak anak berlatih semakin besar. Walaupun Chuan tidak ada, mereka tetap berlatih dengan giat.

__ADS_1


Gerakan silat dasar sudah sempurna mereka kuasai. Tetua Lifan yang mendapat ijin dari tetua tian, akhirnya tinggal bersama mereka. Nenek Hong dan Tetua Lifan dengan serius membimbing anak anak. Bahkan Chu Fei tak segan berlatih bersama dengan anak anak asuhnya. Dua minggu lebih mereka berlatih dengan keras.


__ADS_2