
Saat tiba ditempat latihan Chuan lalu membersihkan tongkat langit dan membakar pakaiannya. Kemudian dia mulai tenggelam dalam meditasi. Dan mulailah memasuki ruang jiwanya dan mendengarkan bimbingan Patriak Lion.
Saat pagi masih buta dia tetap terlihat sedang berkultivasi. Para tetua dan semua yang tinggal bersamanya telah menuju tempat latihan. Mereka ingin melihat apa Chuan benar benar ditempat latihan, seperti pamitnya tadi malam.
Mengetahui semua orang mendekat, Chuan lalu bangun dari meditasinya.
"ada apa" tanya Chuan.
"ini anak anak tidak percaya kalau kau sedang berkultivasi disini" jawab Tetua Tian.
"whahaha, anak anak apa tetua" tanya Chuan sambil tertawa.
"sebenarnya kami berdua, hehehe" ucap Tetua Lifan "whahaha" tawa Chuan semakin keras.
Keduanya semakin malu melihat sikap santai Chuan yang terus tertawa.
"sudahlah, sekarang anak anak pulang bantu nenek dan bibi didapur" ucap chuan.
"setelah makan pagi, segera bersih diri dan bersiap akan tugas masing masing" lanjutnya.
"siap kak" jawab anak anak serempak. Kemudian berhamburan kembali kerumah.
"sebenarnya ada apa" tanya Chuan saat tinggal dia dan para tetua ditempat itu.
"apa rencanmu setelah sekte hutan suci berdiri" tanya Tetua Tian.
"banyak impianku" ucap Chuan menjelaskan. Selain perkampungan sekte, nanti dia ingin membangun kota yang damai buat semua warganya. Juga ada kelompok warga yang berdiri dibatas wilayah kita. Sebab dengan wilayah seluas itu kita tidak bisa memantau semuanya.
Namun mereka semua harus patuh dengan segala peraturan. Untuk kedepannya, para tetua yang merumuskan peraturannya.
__ADS_1
Juga sarana prasaranya akan dibuat secara bertahap. Namun yang utama adanya balai pill dan balai pengobatan yang jadi pendapatan utama sekte. "siapa nantinya yang mengatur, itu pasti tugas para tetua" jelas Chuan membuat kedua tetua bengong.
"whahaha" tawa Chuan membuat kedua tetua saling pandang.
"sudahlah tetua, yang penting kita jalani dulu" lanjut Chuan.
"baiklah kalau begitu, biar kami yang membuat pil" ucap Tetua Lifan.
Tetua Lifan dan Nenek Hong yang akan mengelola balai pengobatan. Tetua Gun bertanggung jawab melatih murid sekte. Lima tetua yang akan membuat pil, selain itu juga memilih dan melatih murid yang kompeten dalam pembuatan pil. Sedangkan untuk kelancaran semua itu adalah tanggung jawab Tetua Tian dan juga menyampaikan pembagian tugas pada Tetua Gun dan lima tetua yang lain. Jelas Chuan membagi plot tugas pada para tetua.
"untuk biayanya bagaimana" tanya Tetua Lifan.
"aku akan sering keluar untuk mengusahakannya, sampai sekte bisa mandiri" jawab Chuan.
"ada juga impian Patriak Lion, semoga Tetua Tian berkenan mewujudkannya" lanjut Chuan.
"apa itu" tanya heran Tetua Tian.
"pasti aku kerjakan, biar nanti dibantu para tetua yang lain" ucap Tetua Tian.
"terima kasih tetua" ucap Chuan.
"sebenarnya satu lagi ganjalan kami, yaitu tahap kultivasimu" ucap Tetua Tian.
"wushh" atas arahan Patriak Lion, Chuan melepas tahap kultivasinya. Kedua tetua juga melepas tahapnya, untuk mengurangi tekanan dari Chuan.
Terlihat keringat mulai membasahi wajah keduanya. Sambil tersenyum, Chuan menyembunyikan lagi sampai ketahap menengah.
"diatas tahap langit" ucap Tetua Tian terkejut. Terlihat Tetua Lifan juga bengong.
__ADS_1
"memang diatas tahap langit masih ada suci, surga/nirwana dan dewa" ucap Chuan sambil menjelaskan seperti yang diketahuinya.
"tetaplah kita untuk selalu rendah hati, sebab diatas langit masih ada langit. Ingatlah, diluar sana kita tidak tahu apa tahapan orang yang kadang kita anggap lemah.
"terimakasih Chuan" ucap Tetua Tian. Rasa penasaran ini terjawablah sudah.
"saatnya kita kembali tetua" ucap Chuan.
"baik" balas keduanya.
Mereka berjalan pulang dengan santai. Sambil bercakap santai, beberapa pertanyaan dijawab Chuan dengan jelas. Terang berganti gelap, saat malampun datang. Setelah makan malam, anak anak melaporkan tugas yang telah mereka kerjakan. Tak ada kendala apapun, karena keberadaan mereka yang sudah familiar. Sedang para tetua yang menjemput istri mereka, saat ini belum kembali.
Seperti biasa Chuan undurdiri lebih dahulu. Tinggal Tetua Tian, Lifan, nenek dan bibi yang membimbing anak anak untuk mengenal dan menghapal jenis tanaman obat. Chuan yang keluar sendiri melesat kearah rumah yang semalam diintipnya.
Bersembunyi diatas atap, dia tak menemukan yang dicarinya. Hanya beberapa pelayan dan penjaga yang ada. Menunggu sesaat, dia tak menemukan informasi tentang mereka. Diapun melesat menuju tempat didalam hutan. Hanya bekas roda kereta yang dijumpainya. Dari pohon kepohon yang lain, Chuan menyusuri jalan kecil dihutan tersebut.
"sialan, para penghianat itu ternyata tak pernah berhenti dengan ambisinya" batin Chuan saat tengah malam, dia menemukan mereka didesa siagon. Dua kereta kuda terlihat dirumah yang dijadikan markas mereka. Rumah yang ada sedikit jarak dengan rumah warga lainnya.
Sedikit menahan emosinya, dia tetap mengintip dari atas atap.
"kemana para tetua pergi"
"mereka sedang bersenang senang dikedai, bersama wanita wanita itu" terdengar pula beberapa percakapan yang lain.
Setelah meneliti dengan seksama, chuan menemukan tanda khusus dipergelangan lengan mereka.
"sial ini tak bisa dibiarkan, mereka ingin memusnahkanku dan yang lain" batin Chuan.
"apa yang akan kau lakukan" tegur Patriak Lion.
__ADS_1
"sebelum mereka beraksi, aku akan melakukannya lebih dulu" ucap Chuan.
"lakukan dengan cepat lalu bakar rumahnya" lanjut Patriak Lion.