Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Aku Juga


__ADS_3

Dengan tongkat hitam ditangan, Chuan melesat dengan cepat ketengah tengah mereka.


"siapa kau" bentak seseorang


"pendekar hitam" jawab Chuan


"pendekar hitam"


"pendekar hitam"


"serang bersama sambil menunggu para tetua" teriak panik mereka.


"hiaatttt" teriakan penyerangan mereka.


"hiattt" teriak Chuan mulai menyerang lebih ganas dan kejam. Berbagai luka tusuk terlihat pada para penjaga yang hanya ditahap mahir. Satu persatu mulai bergelimpangan dan tak bangun lagi.


Tak banyak perlawanan yang dapat mereka lakukan. Meskipun menang jumlahnya, namun beda tahapan yang jauh. Ada beberapa yang melarikan diri, sambil berteriak "pendekar hitam"


"pendekar hitam"


Chuan semakin cepat menyerang mereka. Tak lama, habislah perlawanan mereka. Setelah mengumpulkan mereka yang tak bangin lagi, Chuan menyiram dengan arak.


Banyak alas tidur dan kain yang chuan tumpuk disekitarnya. Apa biru yang sedikit besar ditembakkan oleh Chuan dan langsung melesat pergi. Segera api membesar dan melahap bagian tengah rumah tersebut.


Chuan terus memperhatikan dari kejauhan. Para warga hanya bisa menyaksikan kejadian tersebut. Cukup terlambat rombongan orang keluar dari kedai. Lima belas orang berlari dengan menuju rumah yang terbakar.


Saat mereka tiba, tak ada sudut rumah yang tak tersentuh api.


"bajin*** kau, pendekar hitam"


"keluar kau bangs**"

__ADS_1


"sekali ketahuan siapa kau, hutang ini mesti terbalas" teriak kemarahan mereka terdengar.


Ditempat yang cukup jauh, Chuan hanya tersenyum mendengar teriakan mereka.


"tinggalkan mereka dan cepatlah kembali" ucap Patriak Lion, yang khawatir melihat ada sedikit rasa puas diwajah Chuan. Saat Chuan melesat menuju tempat latihan,


Patriak Lion memberikan banyak pengarahan padanya. Jangan pembunuhan yang kau lakukan membuat hatimu puas. Kalau memungkinkan setiap bertemu golongan seperti itu lagi, hancurkan saja kultivasinya. Siapa tahu ada perubahan pada hatinya untuk lebih baik.


"maaf guru" ucapnya saat telah tiba ditempat latihan. "sudahlah bersihkan tubuhmu dan ganti baju, setelah itu kultivasi" lanjut Patriak Lion.


Saat pagi telah datang, rombongan anak anak yang sedang latihan melintas. Tetua Tian menberitahukan pada mereka untuk tidak mengusik Chuan yang masih tenggelam dalam kultivasinya.


Beberapa putaran telah mereka lakukan, saat Chuan bangun dari kultivasinya.


"pagi kak" sapa mereka yang melintas.


"lebih bersemangat lagi" teriak Chuan sambil tersenyum.


"Tetua Tian, bisakah mengundang Tetua Zhao kesini sekarang, ada masalah yang cukup penting" ucap Chuan. "baiklah" jawab Tetua Tian lalu melesat pergi.


Satu persatu anak anak sudah selesai dengan latihan fisik mereka. Chuan membagikan anggur darah pada mereka. Tetua Lifan dan Nenek Hong membimbing mereka tentang manfaat dan cara memaksimalkan manfaatnya.


Sedang Chuan melesat mencari pohon sebesar lengan dan memotongnya, kemudian menancapkan disungai dua meter dari bibir sungai. Terdapat lima belas batang pohon telah tertancap dengan kuat. Matahari dengan gagah menunjukan teriknya.


"kog badanku bau"


"aku juga bau"


"aku juga" terdengar anak anak sedang ribut.


"semua ditepi sungai" ucap Chuan dikuti mereka. Satu tongkat yang tertancap untuk dua orang. Dia menyuruh mereka untuk melompat keair dan berpegangan. Sambil membersihkan tubuh, mereka akan adu nafas didalam air. Chuan, Tetua Lifan dan Nenek Hong akan mengawasi keselamatan mereka.

__ADS_1


Tak satupun yang ragu akan arahan Chuan. Satu persatu mereka melompat dan berpegangan pada batang pohon. Semuanya bermain sebentar sambil satu tangan tetap berpegangan. Tak ada rasa takut diwajah mereka.


"sudah bermainnya" teriak Tetua Lifan.


"baik tetua" jawab mereka.


"keluarkan tenaga dalam kalian, lalu ambil nafas dan mulai menyelam" lanjutnya.


"satu, dua, tiga" aba aba dari Tetua Lifan. Dengan tetap berpegangan, mereka semua menyelam.


Chuan melompat keair untuk memantau mereka semua. Dari dalam air dia melihat mereka semua memejamkan mata.


"ternyata kuat juga mereka menahan nafas" batin Chuan. Satu persatu mereka muncul.


Setelah mengatur nafas sebentar mereka tertawa riang. "mana kak Chuan" teriak seorang anak pada Nenek Hong. Dan dijawab dengan menunjuk bagian tengah sungai. Tak berselang lama, Chuan muncul dan berenang mendekati mereka.


"ajari aku kak"


"aku juga"


"aku iya" celoteh anak anak.


"sekarang keluar dari sungai dulu, berpijak pada  batang pohon dan melompatlah" ucap Chuan. Merekapun menurut dan berlompatan.


"ternyata keseimbangan mereka sudah bagus" batinnya. Chuan lalu mencabut batang pohon dan ditancapkan melintang kedinding sungai. Dua tiang jauh sekarang terdapat batang kayu melintang.


"mulai besok kalian bisa berlatih berenang, jangan keluar dari batas itu" ucap Chuan setelah berkumpul dengan mereka.


"siapa yang bisa berenang" lanjut Chuan. Ada enam anak laki laki mengangkat tangan mereka.


"mulai besok, latihan fisik diganti dengan renang, kalian berenam yang mengajari dan mengawasi" "ucap Chuan.

__ADS_1


__ADS_2