
Chuan, Tetua Shusin dan Patriak Chen sedang asyik berbincang. Untuk menghilangkan rasa penasaran, akhirnya Chuan mengakui kalau Pendekar Hitam itu dirinya.
Dan saat Tetua Shusin berkunjung ke Klan Chu, juga pernah kena usil Chuan.
"kapan itu" tanya Tetua Shusin
"peti mati berisi batu" ucap Chuan sambil tersenyum
"jadi, harta karun itu kamu yang dapatkan" teriak Tetua Shusin
"whahahaha, kenapa tetua kaget" ucap Chuan
"gila, saat mereka saling mencurigai, malah kau santai disitu dan bukannya pergi" kata Tetua Shusin
"hehehe"
Obrolan ringan membuat wajah para murid mejadi segar. Bahkan Chuan bercerita perjalanan hidupnya, pada wakil tetua dan para murid.
Dimulai dari gua terpencil dibenua timur sampai saat ini dibenua selatan, diceritakannya sekilas. Namun karena pembawaanya dan tak ada kesan senang dan bahagia. kesepian dalam kesendirian adalah kisah pilu yang membuatnya lupa apa itu sepi.
Semua telihat antusias mendengar kisah yang Chuan sampaikan. Perjalanan pilu Chuan tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh orang orang yang hadir diruangan tersebut. Mereka berpikir bahwa semua kesuksesan besar yang dicapainya karena ada orang besar dibelakangnya.
"itulah sekilas kisahku selama ini" ucap Chuan.
"sekarang aku bertanya pada kalian" lanjut Chuan
"apa tujuanmu menjadi murid sekte ini" tanya Chuan
Semua murid hanya terdiam mendengar pertanyaan Chuan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing masing.
__ADS_1
"kog diam, ayo apa tujuanmu" tanya Tetua Shusin sambil menunjuk seorang murid
"menjadi pendekar hebat"
"biar orang tua kami bangga"
Beragam jawaban terdengar dari tiap murid Tetua Shusin. Semuanya hanya berujung pada harapan ketenaran dan kejayaan.
"kenapa semua selalu memikirkan ketenaran untuk diri sendiri" terdengar ucapan Chuan setelah para murid menyampaikan tujuan dalam pikirannya. Tidakkah ada terbersit dihati kalian untuk melindungi orang lain.
Adakah keinginan untuk melindungi orang yang kita sayangi. Diantara mereka ada saudara, teman dan orang yang lemah.
Kenapa hanya mengejar ketenaran dalam nama. Sedang saat kita berjuang untuk melindungi orang yang kita sayangi, secara tak langsung mengukir nama kita dihati mereka.
Rasa kepedulian kepada sesama akan membuka hati kita untuk tanggap dengan situasi disekitar kita. Hati juga terasah untuk tidak mudah terhasut oleh perpecahan dan adu domba.
Yakinlah saat kita berjuang untuk mereka yang kita sayangi, maka kebahagiaan yang hadir tak tergantikan didunia ini.
"Chuan" sapa Patriak Chen
"ada apa patriak"
"bolehkah kami tahu tahapanmu" lanjutnya.
"tunjukkan saja" terdengar Patriak Lion dalam pikiran Chuan
Perlahan Chuan melepaskan tahap kultivasinya. Patriak Chen dan Tetua Shusin akhirnya berkeringat dingin menahan tekanan dari tahapan Chuan.
"pendekat suci" ucap Tetua Shusin terkejut
__ADS_1
"masih tingkat tiga, tetua" ucap Chuan sambil menyembunyikan lagi sampai tahap mahir.
Tak ada sedikitpun suara yang terucap. Semua masih terpana dengan kenyataan yang ada didepan mata mereka.
"kenapa kayak melihat hantu saja" celetuk Chuan.
"hahh gimana gak bingung, dengan usiamu yang masih muda tapi sudah ditahap suci" ucap Tetua Shusin
"rasanya tak ada yang bisa dibanggakan dari yang tua ini" sambung Patriak Chen.
"hehehe para tetua bisa aja, ini hanya berkah dari yang tua dahulu" ucap Chuan
"gurumu pasti bangga denganmu saat ini" ucap Patriak Chen.
"semoga" ucap Chuan pelan. Kemudian dia minta ijin untuk istirahat dulu.
Sepeninggalan Chuan, Tetua Shusin menyuruh murid muridnya membersihkan tempat tersebut. Empat murid yang mengumpulkan abu jenazah menemukan cincin penyimpanan dan menyerahkannya pada Tetua Shusin.
"serahkan Chuan saja" ucap Patriak Chen setelah Tetua Shusin menerima cincin tersebut.
"iya, lagian dengan terbongkarnya sebagian kecil dari rencana pihak lain, nilai hutang kita pada anak itu begitu besar" ucap Tetua Shusin
Kedua orang berpengaruh disekte macan putih berunding keras untuk menangani masalah mereka. Banyak kebuntuan kalau mereka hanya berdua. Namun mau melibatkan banyak orang masih sulit siapa yang dapat mereka percaya.
"sebaiknya menunggu saran Chuan dulu" ucap Tetua Shusin
"saat ini membimbing para murid agar berkultivasi diruangan ini" kata Patriak Chen
"untuk tiga mata mata tetua dua bagaimana" lanjut Tetua Shusin
__ADS_1
"kelihatannya ketiganya tak akan berkhianat mulai saat ini" ucap Patriak Chen
Keduanya lalu mengumpulkan para murid dan menyuruhnya meditasi sampai malam. Dan meminta siap siaga saat nanti dibangunkan dari meditasinya.