
Setelah membuat keributan dengan membakar bagian belakang rumah tersebut, Chuan segera melesat pergi. Dengan cepat dia menuju rumah penatua yang satunya.
Saat tiba diatap rumah tersebut, Chuan menyembunyikan perubahan energi yang digunakannya. Lama dia hanya diam menyembunyikan kehadirannya ditempat itu. Chuan merasakan ada seorang pendekar langit dan tiga pendekar bumi, masih terjaga didalam rumah. Cukup lama mereka diam.
"siapa yang baru lewat diatas rumah ini, sepertinya fluktuasi energinya diatas tingkatanku" ucap seseorang dari dalam rumah. Percakapan mereka terus berlanjut. Namun karena mengira hanya lewat dan takut menyinggung, mereka tidak keluar untuk melihat situasi.
Sampai terdengar keributan dari para penjaga.
"rumah Penatua Sin terbakar" teriak penjaga sambil melihat arah munculnya titik api. Keempat orang didalam rumah segera berlari keluar rumah dan melesat menuju rumah penatua yang terbakar.
Tanpa menunggu lama dan mengambil kesempatan dengan keluarnya empat orang tadi, Chuan melesat kebagian belakang rumah. Energi qi yang dirubah menjadi api biru yang cukup besar dilemparkannya, dan cepat melahap bagian belakang rumah tersebut.
Setelah melakukan hal tersebut, Chuan segera menjauh. Dengan arah yang sedikit berputar dia segera kembali kepenginapan. Serta menyelinap memasuki kamarnya.
Malam berganti pagi, geliat aktifitas berganti dengan kerumunan orang yang sedang membicarakan gudang dari dua penatua habis dilahap api.
Terdengar keramaian didepan penginapan tempat Chuan dan yang lain menginap. Semua pendatang yang sedang menginap diminta untuk berkumpul dibalai pertemuan klan gu.
Para pelayan dengan terpaksa membangunkan orang orang yang menginap ditempatnya. Sambil meminta maaf, mereka menjelaskan situasi yang sedang terjadi. Chuan dan yang lain mengikuti arus situasinya.
Sampai dibalai pertemuan terdapat puluhan orang yang telah dikumpulkan. Rombongan para pedagang dibiarkan kembali kepenginapan. Tinggal rombongan Chuan dan tiga orang paruh baya yang masih ditempat tersebut.
Sepuluh orang tersebut duduk dengan tenang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dari dalam muncul pria paruh baya diikuti beberapa orang dibelakangnya. Mereka kemudian duduk didepan dan menghadap Chuan dan yang lainnya.
"namaku Tanlie, pemimpin klan gu" ucapnya memperkenalkan diri.
"harap para tuan tuan memperkenalkan diri dan apa tujuan singgah diklan gu" lanjutnya.
"Teikong, tetua 13 sekte hutan suci" ucap Teikong lantang. Giliran Chuan yang berdiri, dia lalu mengeluarkan lencananya.
__ADS_1
"identitasku tertera disitu" ucap Chuan sambil melemparkan lencananya.
"lancang kau"
"tak punya aturan" cemoohan beberapa orang terdengar. Namun disisi lain, dengan cekatan Tanlie menangkap lencana tersebut dan memeriksanya.
Penatua kehormatan klan chu tertera tulisan dalam lencana tersebut.
"kau, Tuan Muda Chuan" ucap Tanlie terkejut.
Informasi tentang Chuan sebagai penatua kehormatan dan mendapat hadiah wilayah hutan suci, sudah diterima pemimpin klan gu beberapa tahun yang lalu.
"Tetua Chuan" sapa salah satu tiga paruh baya yang ikut dikumpulkan.
"maaf, apa paman mengenalku" ucap Chuan sambil menoleh pada orang itu
"aku Xhuan, komandan pengawal putra mahkota kekaisaran tang" ucapnya memperkenalkan diri. Chuan tetap santai mendengarnya, namun yang lain terlihat terkejut dan salah tingkah mendengar hal tersebut.
"beberapa hari lalu, dua penatua klan gu dan beberapa orang mengancam sekte hutan suci" ucap Chuan menjelaskan maksud kunjungannya.
Selain sebagai penatua kehormatan, dia juga tetua satu disekte tersebut. Chuan hanya menanyakan pihak klan gu mau mendisiplinkan penatua yang dimaksudnya. Ataukah sektenya yang akan melakukan hal itu.
Selain itu dia minta ijin untuk mengunjungi sekte teratai merah. Karena sekte tersebut ada diwilayah otonomi klan gu. Dia juga minta maaf kalau nanti ada keributan disekte tersebut. Jelas Chuan dengan tegas dan terbuka.
"ada seorang pendekar suci disekte tersebut" ucap Tanlie
"untuk kebaikan sekte hutan suci, seharusnya tuan tuan tidak melakukannya" lanjutnya
"apapun yang terjadi dengan kami, sudah menjadi resiko atas perjalanan ini" jawab Chuan.
__ADS_1
"tak pantas kau menjawab pemimpin kami seperti itu" sahut seorang penatua.
"siapa kau, dari tadi mengambil sikap bermusuhan denganku" tanya Chuan
"aku Penatua Sin dan juga salah satu penatua yang berkunjung ke hutan suci" jawabnya.
"pernahkah sekte kami menyinggungmu" tanya Chuan.
"tidak, namun keberadaan sekte hutan suci membuat rencana kami berantakan" ucap Penatua Sin lalu menjelaskan.
Sudah lama sekte teratai merah ingin memindahkan basisnya dibukit sebelah hutan suci. Pihak klan gu sudah memberi ijin untuk hal tersebut. Namun munculnya pendekar hitam membuat rencana kami berantakan.
Saat berencana untuk merebut hak atas hutan suci, pendekar hitam merusak semua rencana itu.
"apa yang kami lakukan kemarin untuk memancing dia keluar" ucap Penatua Sin mengakhiri penjelasannya.
"rupanya kau juga bagian dari sekte teratai merah" ucap Chuan.
"iya, aku juga seorang tetua disekte itu" jawab Penatua Sin.
"beritahu patriak sektemu, kalau kelima wakil tetuaku saja bisa menghancurkan sekte" ancam Chuan.
"tak perlu pendekar hitam muncul untuk mengatasi sekte kalian" lanjut Chuan.
"hahaha jangan terlalu keras kau menggonggong" ucap Penatua Sin.
"anjing sepertimu berani berkata seperti itu pada tetua kami" teriak seorang wakil tetua dengan nada marah.
Raut emosi juga terlihat pada wajah Teikong dan wakil yang lain. Namun disisi Penatua juga terlihat wajahnya memerah mendengar sahutan tersebut.
__ADS_1
"sebenarnya aku tak mau melibatkan klan gu, namun terserah bagai pemimpin klan untuk memutuskan masalah ini" ucap Chuan masih terlihat sabar.