Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Dua Tikus


__ADS_3

Setelah keduanya pergi, Chuan meningkatkan energinya. Batu yang sudah goyah secepatnya dimasukkan kegiok dimensi. Terdengar gemuruh tanah dan bebatuan yang runtuh dibekas inti batu roh tertanam.


Getaran didalam gua membuat sebagian dinding gua mulai runtuh. Chuan yang melesat tidak menghiraukan kejadian didalam gua. Setelah keluar gua, dia langsung menemui Rouyan dan Luosan.


Diluar gua panas mentari terasa menyengat. Hari masih siang, saat ketiganya keluar gua. Gemuruh gua yang runtuh terdengar pelan dari tempat ketiganya berdiri.


Setelah suasana tenang ketiganya melesat lagi melanjutkan perjalanannya. Senja mulai beranjak malam, mereka tiba disebuah desa yang terlihat lengang.


Sebuah kedai arak yang kecil tetap buka meskipun tanpa pengunjung. Melihat kedatangan ketiga orang tersebut, raut wajahnya menunjukkan perubahan.


"sepertinya ada yang tidak beres dengan desa ini" bisik Chuan sebelum masuk kedalam kedai


"kita lihat dulu" balas Rouyan.


Chuan memesan dua guci arak, sedang Luosan melanjutkan kebiasaan mencoba menu yang ada. Ketiganya dengan santai menikmati pesanan yang telah dihidangkan.


"adakah penginapan atau kamar yang bisa kami sewa" tanya Chuan pada pemilik kedai.


"rupanya tuan bukan dari daerah ini" ucap pemilik kedai. Didesa ini tak ada penginapan, namun dibelakang kedai ini adalah rumah pemilik kedai. Kalau untuk semalam ketiganya bisa menginap dirumah tersebut. Dia juga memperkenalkan diri bernama Butian


"berapa jauh letak kota terdekat" tanya Chuan lagi.


"setelah melewati desa sebelah, tuan akan sampai dikota kecil" jelas Butian dengan suara agak pelan.


Tapi sebaiknya mereka tidak singgah dikota itu. Pemimpin kota yang sekarang selalu bertindak semena mena. Bahkan beberapa kali menunjukkan kesadisannya didepan umum, saat ada warga yang membangkang.


Para penjaga dirumah kepala desa adalah mata mata dari pemimpin kota. Hal yang sama terjadi juga dengan desa sebelah.


"silahkan tuan masuk kerumahku" ajak Butian


"nanti saja biar kami minum dulu" balas Rouyan


Mendengar jawaban Rouyan, terlihat kegelisahan diraut wajah Butian. Melihat hal tersebut ketiganya saling memandang dan tersenyum. Bahkan Luosan yang biasanya sibuk dengan makanannya, kini belajar membaca keadaan.


"hahaha, besok kita kembali kekota"


"rasanya belum puas dengan si bunga desa"


"memang kamu puas dengan si gendut itu"


"whahaha" terdengar canda tawa diluar.

__ADS_1


Suasananya begitu kontras dengan keadaan desa yang sepi sunyi. Wajah Butian juga terlihat semakin gelisah saat mendengar suara tersebut.


"wah malam ini ada tamu besar dikedaimu" ucap seseorang berwajah bopeng saat masuk kedalam kedai. Bersama lima orang yang mengikuti dibelakangnya.


"mereka baru datang" ucap Butian ketakutan, sambil menunjuk minuman Chuan yang belum habis.


"setiap yang masuk desa ini harus melapor pada kami" lanjut wajah bopeng sambil menatap Chuan dan dua lainnya.


"maaf tuan ini siapa" tanya Chuan dengan tenang.


"whahaha, selain pendatang seperti kalian, pasti akan mengenal bopeng" ucap pria berwajah bopeng.


"nama kok pencoleng" ucap Luosan sambil tersenyum memandang Chuan.


"bukan pencoleng tapi koreng, hehehe" sahut Chuan.


Butian semakin gemetaran karena takut. Sedang pria bopeng dan kelima temannya, telihat wajahnya memerah karena marah.


"bunuh ketiga anjing sialan itu" teriak pria bopeng.


"brakkk, bukkk, bukk, bukk" suara dinding bambu dan orang jatuh terdengar. Tanpa mereka sadari, Rouyan sudah bergerak dan empat orang terlihat jatuh. Keempatnya mengerang sambil memegang perut bagian bawahnya.


Dua lainnya terlihat ketakutan, tapi mengetahui seorang anak muda yang maju. Keduanya menghunus pedangnya, sama seperti Luosan yang sudah memegang pedang.


"mereka diapakan" tanya Luosan


"dijadikan makanan anjing saja, hahaha" ucap Chuan


"bangs**,,,,"


"hiaatttt,,," dengan marah keduanya mulai menyerang Luosan. Jurus demi jurus diperagakan dengan cepat. Luosan tetlihat santai dan tenang menghadapi keduanya.


Keributan yang terjadi, membuat para warga keluar rumahnya. Mereka melihat kejadian tersebut dari jarak yang jauh. Ada harapan terpancar dari wajah mereka semua.


Dua pendekar bumi menghadapi seorang anak muda, namun tak bisa menekannya. Jangan salah pemuda yang terlihat biasa tersebut sudah ditahap suci awal.


"carikan tali untuk menggantung keempat orang itu" ucap Chuan pada Butian


"paman aku pergi dulu, gantung mereka dipohon dan biarkan warga yang melampiaskan kemarahannya" ucap Chuan pada Rouyan, setelah Butian pergi


Chuan melesat meninggalkan desa tersebut. Tinggallah Rouyan yang terus menikmati araknya. Butian datang lagi dengan beberapa utas tali ditangannya. Dan dengan cekatan Rouyan membawa empat orang yang pingsan karena kesakitan diikat melingkar pada sebuah pohon.

__ADS_1


Sedang pertarungan dua lawan satu semakin terlihat serius. Bopeng dan temannya mulai mendapatkan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Tapi pertarungan terus berlanjut.


Para warga yang melihat mulai nampak senang. Biarlah kejadian apa yang akan terjadi besok. Tapi saat ini mereka ingin melampiaskan dendamnya pada orang orang itu. Bahkan melihat empat orang yang diikat, karena emosi mereka masuk rumah dan keluar dengan senjata ditangannya.


Parang, linggis, tongkat dan alat seadanya dibawa para warga. Kemarahan terlihat diraut wajah mereka, tapi hendak melampiaskan hal tersebut, ada rasa takut pada Rouyan.


Luosan terus mempermainkan kedua orang tersebut. Luka yang mereka terima semakin parah.


"jlebbb,,,, achhhh" teriak keduanya terdengar hampir bersamaan. Luka didada terlihat, membuat keduanya roboh untuk selamanya.


Para warga melihat kematian dua orang itu, mulai mendekat. Ucapan terima kasih terdengar dari para warga. Setelah menanggapi warga, Rouyan meminta semua orang untuk menguburkan keduanya.


Walau merasa keberatan, mereka akhirnya sadar jika dibiarkan akan menimbulkan bau busuk dan penyakit buat mereka. Selain itu Rouyan meminta juga menguburkan mayat tanpa kepala yang dikeluarkan dari cincinnya.


Cincin dijari mayat tersebut diambil oleh Rouyan, sedang pada dua mayat lain tidak. Dia juga minta pada warga untuk memeriksa adakah barang berharga bagi mereka. Begitupun pada keempat pria yang terikat dipohon. Beberapa warga menggeledahnya.


Tiga kantong penyimpanan ditemukan pada keenam orang tersebut. Rouyan meminta warga untuk membagikan isinya, pada mereka semua. Lalu menyerahkan, keempat orang tersebut. Terserah bagaimana mereka mau menghukumnya.


Setelah melampiaskan kemarahannya pada keempat orang tersebut. Empat orang yang terikat akhirnya juga tewas, karena beberapa wanita yang mereka lecehkan menikamnya dengan pisau. Para warga akhirnya menguburkan semua mayat dibawah pohon tersebut.


Malam semakin pekat, para warga kembali kerumah masing masing dengan kepuasannya. Sedang Rouyan dan Luosan terus santai didalam kedai arak. Namun kini ada beberapa warga yang menemani keduanya.


Mereka bercakap cakap dengan santai, dan ada juga yang menanyakan Chuan. Rouyan mengatakan Chuan pergi karena masih ada urusan yang harus ditanganinya. Rupanya para warga tahu kalau Rouyan datang bertiga.


Malam hampir berganti pagi, namun suasana masih gelap.


"kebakaran,,,, lihat disana ada api yang naik" teriak salah satu warga sambil menunjuk arah desa sebelah.


Dikejauhan terlihat dua titik api yang membumbung keangkasa. Didua tempat yang jauh terjadi kebakaran. Rouyan meminta semua warga untuk tidak pergi ketempat tersebut.


"biarlah kita menunggu kabar dari warga desa sebelah" ucap Rouyan.


Dijalan desa itu, terlihat Chuan yang berjalan santai menuju kedai arak.


"itu kak Chuan sudah kembali" ucap Luosan yang melihatnya tiba didepan kedai


"hehehe, bagaimana hasilnya" ucap Chuan saat masuk kedalam kedai.


"keduanya tewas, dan empat lainnya tewas ditangan warga" ucap Luosan


"hahaha, ternyata warga sini, kejam juga" ucap Chuan sambil tertawa. Sebagian warga dikedai tersebut hanya saling pandang dan salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2