Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Pesta Kecil


__ADS_3

Segera Chuan melesat kembali kerumah. Sampai dihalaman dia duduk ditumpukan kayu bakar.


"ada apa Chuan" ucap Tetua Tian.


"saat ditempat latihan, aku melihat ada yang terbakar disana" ucap Chuan sambil menunjuk dua larik sinar merah memecah kegelapan malam.


"apa perlu kita melihat kesana tetua" ucap Tetua Gun.


"saat ini kita sedang diawasi, demi kebaikan anak anak, aku rasa tidak perlu" ucap Tetua Tian.


"bagaimana tahap para murid tetua" tanya Chuan. "maafkan kami, chuan" ucap Tetua Tian membuat Chuan terkejut.


Tetua Lifan, Gun dan lima lainnya menundukkan kepalanya. Tetua Tian menjelaskan, sebagian besar pil hasil olahan dua keranjang tanaman obat telah mereka gunakan.


Kelimanya dan Nenek Hong telah menembus ditahap bumi. Sedangkan dalam memahami kitab pedang naga telah mereka kuasai dengan sempurna, namun tinggal memantabkan dengan pelatihan. Jelas Tetua Tian pada Chuan.


"whahahaha selamat untuk semuanya, sedang pil yang telah digunakan bukan suatu masalah" tawa Chuan pecah dengan santainya


"achhh sial, padahal kami bingung mau menceritakan padamu" ucap Tetua Lifan.


"hahaha, apapun yang aku punya untuk kita semua, yang penting tidak memecah persaudaraan kita, aku tidak akan mempermasalahkannya" ucap Chuan.


"terimakasih Chuan, memang tak salah kami memilihmu menjadi tetua satu" ucap tetua tian.


"hehehe tapi besok siap siap buat pil lagi sebagai gantinya" ucap Chuan

__ADS_1


"sebenarnya kami lebih senang kalau bermain dengan tungku" ucap Tetua Gun


"baiklah, karena kelimanya sudah ditahap bumi, maka mulai malam ini menjadi tetua lima dan seterusnya" ucap Chuan.


"terimakasih Chuan, kalau boleh kami akan ikut ujian pil" ucap kelimanya sambil membungkukkan badan.


"tak perlu seperti itu, nanti setelah mengatur tempat yang baru kalian bebas melakukan apa saja" ucap chuan.


"mereka hanya ingin diakui statusnya sebagai pembuat pil, setelah itu mereka kembali ke sekte kita" jelas Tetua Tian


"ooo baiklah, dan apakah ada yang sudah berkeluarga" lanjut Chuan.


Tetua tian lalu menjelaskan, hanya Tetua Tan dan Lifan yang tidak punya keluarga. Sedang yang lain masih punya istri yang saat ini tinggal didesa Saesan. Kalau mereka menuju hutan suci maka akan melewati desa tersebut.


"itupun kalau Chuan tidak keberatan" ucap Tetua Tian. "malah lebih baik kalau begitu, sedang anak anak mereka bagaimana" tanya Chuan.


"kami belum punya anak" ucap Tetua Gun sedikit sedih.


"sudahlah jangan bersedih begitu, nanti tiap tetua bisa mengambil anak anak itu, dan anggaplah sebagai bagian dari keluarga kalian" ucap Chuan.


"Tetua Tian dan Lifan sebelum berangkat sebaiknya menikah dulu" lanjut Chuan.


"maksudnya" tanya Tetua Lifan.


"tak usah pura pura, kalau suka sama nenek Hong ya menikah saja, masa perlu mak comblang" jawab Chuan disambut tawa kecil semua orang

__ADS_1


"Chuann" guman Tetua Lifan merah padam.


"whahaha, masa masih kayak pemuda yang kasmaran" tawa dan usil Chuan keluar.


Semakin renyah canda tawa diantara mereka.


"untuk merayakan pengukuhan para tetua malam ini kita adakan pesta kecil" ucap Chuan sambil mengeluarkan dua guci besar berisi arak.


"aku ambil gelas dulu" ucap Tetua Gun sambil berlalu.


Dengan adanya arak yang chuan berikan, suasana semakin lepas namun tetap menjaga suara agar tidak menggangu tidur yang lain.


Tak terasa pagi menjelang. Kedua guci sudah chuan simpan kembali. Semuanya yang sudah bangun mulai melakukan aktifitasnya masing masing.


Ditempat lain, rumah tetua dua dan tiga yang habis terbakar hanya menyisakan asap yang masih mengepul. Para warga menjadikan keduanya sebagai tontonan.


Sementara itu, di aula sekte utama klan chu sedang diadakan pertemuan. Tetua dua, tiga dan seorang penatua, tidak hadir ditempat itu.


Walikota duduk berjajar dengan para penatua dan beberapa pengawal dibelakangnya. Tiga tetua yang duduk berjajar disebelah kanannya terlihat tegang dengan alat tulis didepan masing masing.


para pengawal pribadi penatua yang pernah dipermalukan chuan telah diintetogasi oleh ketiganya. Hasil yang diterima terlalu mengejutkan bagi mereka semua.


Masih menunggu giliran, ada 30 murid inti tetua dua dan tiga. Diantara murid itu, ada dua orang yang ditolong tetua satu, saat menemukan keduanya tertotok tak berdaya diatas kudanya.


Satu persatu mereka diinterogasi, bahkan terdengar tetua satu mengeluarkan ancam untuk mereka yang dirasa berbohong. Ketegangan didalam aula terjadi setelah mengetahui kesaksian mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2