Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Kabut Es


__ADS_3

Pagi yang cerah menghiasi alam. Chuan yang telah meninggalkan penginapan kini melesat keluar kota. Dengan panduan dari sketsa yang dibuatnya, dia melesat kearah yang dimaksud.


Memasuki wilayah pegunungan yang masih lebat hutannya Chuan terlihat memperhatikan wilayah tersebut. Sebuah gua yang dilihat kecil dari luar dimasukinya. Sampai didalam ternyata panjang juga gua tersebut.


Suasana temaram mulai semakin gelap dan dingin. Dengan energi spiritualnya, Chuan belum mendeteksi bahaya disekitarnya. Lalu dia duduk disebongkah batu yang cukup besar dan memasuki giok dimensinya.


"apa yang paman lakukan" ucap Chuan terkejut. Sebuah kebun obat yang terkotak kotak tertata perjenis tanamannya. Sebuah kolam yang muat jika dimasuki lima orang dewasa, terlihat ditengahnya. Ditepi kolam, sebuah pohon mulai tumbuh setinggi setengah meter.


Seekor rubah putih, meringkuk tertidur disamping pohon tersebut. Juga batu roh tingkat menengah tertata melingkar dengan keduanya ada ditengah. Chuan merasakan pancaran energi batu roh menuju kepohon dan rubah tersebut.


"memanfaatkan apa yang sudah kau berikan" ucap Rouyan menjelaskan sambil tersenyum. Seratus batu roh dijadikan dasar dari kolam. Mustika dalam kotak giok ditanam ditengah kolam. Seratus lima puluh ditata dilingkar luar kebun. Dari semua itu, energi kehidupan mulai kehidupan mulai terpancar.


Benih tanaman obat juga mulai dapat ditebar. Beberapa biji bijian dan tanaman obat juga tumbuh. Lima galon air yang sempat hampir habis kini mulai pulih.


Yang paling membuat Rouyan bergembira adalah biji dari balai sekte langit. Ternyata benih dari pohon dewa yang langka. Pohon dewa hanya menghasilkan satu buah dalam seratus tahun sekali.


Cucunya dikeluarkan untuk berkultivasi sambil menemaninya. Namun karena itu, konsentrasi air energi dalam kolam mulai surut.


"karena hal itu, aku menaruh seratus batu roh disekelilingnya" jelas Rouyan sambil menunjuk rubah putih yang tertidur.


Tidur panjang adalah caranya untuk berkultivasi. Begitu mudah dan begitu tahapannya meningkat maka bakat bawaannya juga terbangun.


"tidak seperti manusia yang harus berkultivasi dan berlatih tehnik" kata Chuan mengungkap apa yang dipikirkannya.


"hahaha" tawa Rouyan sebelum menjelaskan pada Chuan. Mudah karena dia dalam pengawasan Rouyan. Padahal didunia luar untuk kaum seperti mereka lebih ganas persaingannya.


Disebabkan oleh longgarnya pertahanan diri saat berkultivasi, membuat kaumnya banyak yang terbunuh karena gangguan dari yang lain. Atau gangguan dari ras lainnya.


Cukup lama percakapan keduanya, dan Rouyan mengajak Chuan keluar. Mereka memberi ketenangan pada rubah putih dalam kultivasinya.


Suasana yang cenderung gelap dan dingin membuat Rouyan terdiam saat keluar dari giok dimensi. Chuan lalu menjelaskan situasi dan dimana mereka saat ini.


"tempat yang terlihat bahaya kadang menyimpan kejutan" ucap Rouyan bersemangat sambil mengajak Chuan menelusuri kedalam gua.


"Chuan" ucap Rouyan sambil berhenti.

__ADS_1


"ada apa" tanya Chuan


"energi disini terasa aneh dan sepertinya" ucap Rouyan sambil berpikir tapi tidak melanjutkan ucapannya.


"iya, saat api ungu yang dikeluarkannya menembus kedepan serasa ada yang ditembusnya" ucap Chuan yang sebelumnya terus merahasiakan fenomena yang ada.


"coba perbesar apimu" pinta Rouyan dan dituruti dengan menambah energi qi yang dirubah menjadi api ungu.


"wuss, wuss,,, sess, sess" terdengar suara pelan sesuatu yang terbakar.


"kabut es ditempat seperti ini" ucap Rouyan


"apa penyebabnya" tanya Chuan


"kalau tidak karena mustika berunsur es, mungkin seorang pendekar yang mengasingkan diri untuk menembus tahapannya" jawab Rouyan


"tapi energi ini sedikit keruh" lanjut Rouyan


Kabut yang membuat suasana gelap perlahan menghilang. Meskipun masih didepan masih gelap, namun cakupan cahaya api ungu sedikit meluas.


"buat api ungu melayang kedepan" ucap Rouyan


Saat kabutnya mulai menghilang, tiba tiba sinar dari api ungu dipantulkan oleh langit langit ruangan tersebut. Suasana menjadi terang, dan apa yang ada diruang tersebut terlihat.


Sebuah batu altar dan tengkorak diatasnya terlihat. Dari tengkorak tersebut keluar kabut abu abu.


"apa itu" tanya Chuan


"sepertinya, seseorang gagal dalam menyatukan dua unsur yang berlawanan" ucap Rouyan


"api dan es" guman Chuan


"jika keduanya bergabung maka akan menjadi api yang sangat panas, tapi dingin dipermukaannya" jelas Rouyan


"sebaiknya kita tidak menggangunya" ucap Chuan

__ADS_1


"iya meskipun dingin, tengkorak tersebut bisa membakar pendekar nirwana" ucap Rouyan


"maafkan kami yang mengganggu istirahat tetua" ucap Chuan sambil membungkuk kearah altar tersebut. Rouyan juga melakukan hal yang sama. Lalu keduanya berdiri tegak dan berniat untuk keluar.


"wuussss" terdengar hembusan udara yang keras dan tengkorak tersebut tiba tiba menjadi debu tanpa ada letusan. Sesosok orang tua muncul diatas altar. Sosok samar yang sedang duduk, melihat kearah keduanya berdiri.


"dua orang yang tidak serakah dan mau menghormati orang lain" ucap sosok tersebut terdengar seperti gema. Chuan dan Rouyan saling pandang sebelum kembali menatap sosok itu. Bagi keduanya, energi yang keluar dari sosok itu terasa mengintimidasi.


"aku hanya seutas jiwa yang tersisa, dari seseorang yang gagal" ucap sosok tersebut tanpa menyebut identitasnya.


"aku tahu kalian, mencari keberuntungan saat memasuki gua ini" lanjutnya.


Sikap yang telah diperlihatkan keduanya, membuat sosok tersebut senang. Dia menanyakan identitas dari Chuan dan Rouyan, meskipun tetap merahasiakan identitasnya sendiri.


Tanpa basa basi, Chuan dan Rouyan menjelaskan identitas mereka. Sosok tersebut terlihat tersenyum mendengarnya.


"manusia dan ras rubah suci tanpa ikatan darah namun saling menghargai, hahaha" ucap sosok tersebut disusul dengan tawanya.


Dua untaian cahaya melesat dan masing masing berubah menjadi dua mustika ungu dan putih. Sosok itu, minya Chuan menyimpan yang ungu, sedang Rouyan yang putih.


Rouyan disuruh menelan mustika tersebut untuk memurnikan garis darahnya. Namun karena usia dan tahap sucinya membuat manfaat dari mustika tersebut kurang sempurna.


Sedangkan Chuan, selain menelan mustika tersebut. Dia memberikan tehnik kultivasi sembilan nadi dewa. Dengan tehnik tersebut akan terbentuk sembilan titik dentian tempat menyimpan energi qi.


Tehnik tersebut sangat sulit untuk dipelajari, karena harus menggabungkan energi spiritual dan qi yang ada didentiannya. Namun karena dentian Chuan berasal dari mustika samudra, maka memudahkannya melakukan hal itu.


Sosok tersebut juga akan membantu Chuan, sebelum sisa kesadarannya lenyap.


"terima kasih tetua" ucap Chuan sambil membungkuk hormat.


"bisakah mustika ini untuk keturunanku" tanya Rouyan karena teringat pada cucunya.


"hahaha, memberi manfaat orang lain akan memberi kebagiaan untuk diri kita" jawab sosok itu penuh arti sambil tertawa puas.


"ambil ini sebagai gantinya" lanjut sosok tersebut dan sebuah cincin terbang kearah Rouyan. Dia mengijinkan Rouyan memberikan mustika pada keturunannya. Dan cincin itu sebagai hadiah karena Rouyan tidak serakah akan apa yang didapatnya.

__ADS_1


Didalamnya ada banyak benda berharga. Namun yang paling berharga, terdapat tehnik khusus bagi binatang suci. Bagi yang menguasai tehnik tersebut akan mudah dalam meningkatkan tahap kultivasinya. Meskipun garis darahnya biasa saja.


"terima kasih tetua" ucap Rouyan sambil membungkuk dalam didepan sosok tersebut.


__ADS_2