Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Saudagar


__ADS_3

Dua penjaga mempersilahkanku masuk walau dengan tatapan curiga dan meremehkan.


Didalam terlihat berbagai senjata dipajang, beberapa orang memandangku sinis. Cuek saja dengan situasi yang ada, sampai didepan meja pelayan


"ada yang bisa kami bantu" ucap pelayan wanita


"apakah disini menerima mustika seperti ini" ucapku sambil menunjukkan tiga batu mustika yang berbeda,


"besar atau kecil yang dapat menilai hanya pimpinan disini, bisakah menunggu sebentar" "baiklah" ucapku.


Tak lama menunggu seorang paruh baya datang bersama wanita tadi


"tuan yang hendak menjual batu mustika"


"iya tuan" "mari masuk keruanganku" ajaknya, kamipun melangkah masuk kedalam ruangan kerjanya.


"silahkan duduk" ucapnya, lalu menyodorkan segelas teh setelah aku duduk.


"minumlah tuan"


"iya, terima kasih" ucapku lalu minum seteguk.


"namaku chu guan, tuan kelihatannya bukan warga kota ini"


"namaku chuan, asalku dari ujung timur, aku cuma berkelana dan tujuanku ke benua selatan"


"kantor pusat kami juga di benua selatan, setiap tiga bulan ada pengiriman kami datang, anda bisa ikut masuk keselatan" "terima kasih tawarannya, saat ini mau menjual mustika dulu" ucapku


"disini batu mustika termasuk barang mahal walau sebesar ibu jari, harga beli kami seratus koin emas perbiji, kalau ikut pelelangan bisa dua atau tiga kali lipat"


"kalau pil seperti ini apa juga menerima" ucapku sambil mengeluarkan tiga botol pil berisi masing masing duapuluh pil.


Pil nutrisi putih dan hijau serta pil penguat tubuh dan beberapa penjelasan yang aku berikan.


"kami bisa membeli semuanya, dan apakah tuan peracik pil" ucapnya dengan rasa penasaran


"masih belajar dan belum mahir untuk meracik pil"


"tiap pil kami beli duapuluh koin emas, meskipun pil nutrisi putih lebih murah bagaimana tuan"


"baiklah, aku terima saja"


"bisa kami bayar dengan diamond, nilai tukar satu diamond adalah seratus koin emas"


"bisa saja tuan" jawabku setelah dengan ilmu menembus dasar samudra apa yang terucap sama dengan batinnya.


Terlintas keresahanan untuk mendapat penawar racun dibatinnya.


"limabelas diamond, dan plakat perak ini selain tanda pengenal untuk anggota kami juga tiap belanja dicabang kami manapun akan mendapat discount duapuluh persen" jelasnya


"plakat ini apa bisa untuk masuk dibenua selatan" tanyaku sambil memegang plakat perak tersebut.


"bisa, serikat kami yang terbesar diselatan" "terima kasih, dan maaf kelihatannya tuan lagi resah, adakah yang bisa saya bantu" ucapku sambil memasukkan diamond dan plakat tersebut,


"kami memerlukan pil penawar racun, salah satu pelanggan utama kami sedang terkena racun"


"ini apa bisa membantu" sambil aku keluarkan pil penawar racun milik para perampok


"ini sudah kami coba tapi sekedar menahan penyebaran racun saja" ucapnya


"bolehkan aku melihat kondisi orang tersebut"


"baiklah nanti malam kami jemput, tuan tinggal dimana"


"penginapan angsa putih, kalau begitu aku permisi tuan"

__ADS_1


"marilah kami antar" diapit pimpinan serikat dan seorang wanita saat berjalan diruang luar membuat bisik bisik yang sedikit gaduh.


Dua penjaga membukakan pintu tertunduk melihatku.


"nanti kami jemput tuan" "iya, aku permisi dulu" ucapku lalu melangkah kembali ke penginapan.


Memasuki penginapan terlihat lantai satu ramai sekali, sisa dua tempat kosong belum terisi. Menuju satu tempat kosong diiringi tatapan merendahkan dari hampir semua pengunjung.


Hidangan dan seguci kecil arak lansung menyambutku dibawa pelayan wanita,


"aku belum pesan" "termasuk layanan kamar tuan"


"sudah jelek miskin, cari makan gratis disini" "whahaha"


"hahaha"


"pelayan wanitanya sial tuh nanti bisa bisa dipotong gaji" beberapa celoteh dan cibiran terdengar disela sela tawa ejekan mereka.


"jangan hiraukan mereka" ucapku saat melihat wajah wanita itu memerah menahan amarah


"baik tuan, saya permisi"


"silahkan" kataku, lalu asyik menyantap hidangan yang ada. Tak lama berselang empat pemuda memasuki tempat ini, lalu mendekat kearahku.


"bisa tinggalkan tempat ini, wajah hitam jelekmu membuat selera makanku hilang" ucap salah satu pemuda


"masih ada tempat lain, kenapa harus mengusirku" ucapku cuek


"tidak usah banyak ngomong, yang lain sepertinya sudah menahan dari tadi" balasnya sedikit keras


"hahaha"


"whahaha" terdengar tawa temannya


Seorang pria paruh baya menghampiri kami "tolong jangan ribut disini, itu masih ada tempat yang kosong tuan muda"


"siapa dia paman" tanyaku acuhkan pemuda arogan tersebut


"putra walikota, nakmas"


"pantas sombong andai anak desa"


"kalau anak desa kamu mau apa?" tanya anak walikota dengan emosi


"pasti sudah ditendang paman pemilik penginapan ini, hahaha" jawabku sambil tertawa


"jaga mulutmu" bentaknya


"aku sudah selesai makan, permisi mau istirahat dulu paman" ucapku pada pemilik penginapan


"silahkan nakmas" jawabnya dan segera aku berlalu menuju kamarku


"hai jangan pergi kamu" teriaknya, sambil dihalang halangi beberapa pelayan untuk tidak mengejarku.


"maaf tuan muda jangan ganggu tamu kami" "anak jelek miskin itu tamu disini, hahaha lucu, lucu" walau sambil duduk ditempatku, terlihat wajah kesalnya


Tak lama aku tiduran dikamar "tok, tok, tok" "masuk saja" "maaf aden ditunggu orang orang dari bintang perak"


"baiklah paman turun dulu, aku mandi dulu lalu menyusul"


"siap den"


Setalah ganti pakaian walaupun tetap pakaian hitam kasar, lalu turun dilantai satu. Terlihat diujung tangga seorang pelayan


"bisa tolong cucikan baju"

__ADS_1


"bisa tuan"


"ada dikamar masuk saja tidak dikunci"


"baik" lalu beranjak menuju ronbongan bintang perak.


Dari jauh keempat orang itu senyum padaku "salam tuan muda"


"salam semuanya, bisa kita berangkat sekarang"


"mari, silahkan"


Kami bertiga masuk kereta kuda yang sudah menunggu, sedangkan dua orang lainnya naik kuda masing masing.


Tak lama rombongan kami memasuki halaman yang luas,  sebuah rumah cukup mewah. Beberapa penjaga dan pelayan sedang mengobrol, tapi rauh cemas tersirat diwajah mereka.


"tuan tuan dan nona dari bintang perak silahkan masuk" sapanya ramah, lalu mengantarkan kesebuah kamar besar tempat tuannya berbaring sakit.


"salam tuan tuan dan nona" sambut istri saudagar dengan senyum dipaksakan


"salam nyonya, boleh saya lihat kondisi tuan" "silahkan"


"kog semakin parah, apa yang terjadi nyonya" "tadi ada murid sekte mutiara putih ingin membantu, dan mereka menyerah tidak mampu" jelas nyonya saudagar


" bisakah hanya tuan dan nyonya saja yang didalam, aku akan coba membantu"


"tidak mau, dia ayahku" protes anak saudagar itu


"dengan kondisi seperti ini mungkin hanya bisa bertahan beberapa hari, keputusan terserah nyonya dan nona muda"


"sebaiknya kalian menurut saja" ucap tuan ghuan, dengan raut kesal nona muda keluar bersama yang lain.


Tinggal kami bertiga didalam ruangan, "bolehkah semua pakaian suamimu dilepaskan" ucapku dijawab anggukan.


Kami bertiga melepas semua pakainnya, ada beberapa tanda biru gelap ditubuh, tangan dan paha.


"siapkan lima handuk kering atau lebih" ucapku lalu mulai duduk dilantai untuk meditasi.


Semakin dalam meditasiku, membuka setiap penjelasan dari kitab pengobatan lagit dan bumi.


Terasa cukup memahami dan mengerti cara mengobati, aku selesaikan meditasiku.


"kog tidak ditutup dulu, apa nyonya kangen tubuhnya" celetukku usil, sambil mengeluarkan jarum perak lalu menghampiri tubuh telanjang yang sedang kritis.


Nyonya tersipu saat aku meliriknya. Qi murni yang aku ubah menjadi energi cahaya aku salurkan pada jarum yang ku pegang, lalu menusukkan dititik akupunturnya.


Jarum jarum perak menancap dari kaki sampai wajahnya.


"ketika jarum aku cabut, tolong bersihkan cairan yang keluar"


"masing masing telan dulu pil penawar racun ini" lanjutku sambil memberikan dua pil penawar racun.


Selesai mereka menelan pil, aku melanjutkan proses pengobatannya. Energi cahaya aku salurkan pada tubuhnya.


Selanjutnya ganti tenaga dalam yang tersalur ditangan untuk menyedot racunnya, tiap jarum yang aku cabut dengan sedotan tenaga dalam terlihat cairan biru gelap keluar. setelah ganti darah yang keluar aku lanjutkan kejarum yang lain.


Saat jarum yang menancap diatas alat vitalnya dicabut selain terlihat cairan keluar juga terlihat adik kecilnya bangun dan mengeluarkan air seni juga biru gelap.


Sedikit geli tapi tetap focus melanjutkan sampai semua jarum tercabut semua. Wajah putih pucat sebelumnya mulai terlihat rona kehidupan.


"Tolong didudukan" ucapku, setelah diposisi duduk akupun duduk dibelakangnya. Tangan menempel dipunggungnya lalu aku aku alirkan qi kedalam tubuh.


Proses yang lama membuat keringat mengalir diwajahku, tiba tiba tubuhnya bergetar,


"hoek, hoek, hoek" tiga kali cairan kental dimuntahkan.

__ADS_1


"Selesai sudah"


__ADS_2