
"maaf, karena kesibukan masing masing dalam setahun ini, kita hampir tidak pernah berkumpul" ucap Chuan. "bagaimana keadaan serikat" tanya Ceiyun.
"semakin bagus dibenua timur, untuk hasilnya cukuplah buat mereka" ucap Chuan sambil menunjuk anak anak.
"bagaimana keadaanmu" lanjut Chuan bertanya pada istri Sukai.
"terimakasih, sudah sehat" ucapnya sambil tersipu dan memerah.
"lho, kog pucat lagi" usil Chuan.
"sialan kau, dia malu" ucap Nenek Hong.
"lha emang kenapa" tanya Chuan seenaknya.
"karena, kau sudah melihatnya tanpa pakaian" jelas Ceiyun.
"aku gak begitu memperhatikan kog" elak Chuan.
"meskipun begitu, sama saja" ucap nenek Hong tegas.
"whahaha" tawa Chuan pecah.
"malah tertawa" kata Nenek Hong.
"aku cuma bayangin saja nek" ucap Chuan menjelaskan.
Kalau aku gak pakai pakaian pasti adik kecilku bingung bersembunyi. Tapi kalau nenek yang gak berpakaian, apa yang disembunyikan. Lha sudah sembunyi kog tempatnya. "coba dibuka nek kalau gak percaya" usil Chuan dengan wajah songongnya.
"anak sialaannnn" ucap nenek Hong sambil memukul Chuan. Beruntung Chuan segera melesat pergi.
"hahaha"
"benar juga dia"
"hehehe" terdengar tawa diantara mereka.
Bahkan istri Sukai ikut tertawa juga.
__ADS_1
"sudahlah dia memang keterlaluan kalau bercanda" ucap nenek Hong.
"kau akan lebih malu kalau pengobatan terakhir dia yang lakukan" ucap Chufei.
"hahh" istri Sukai terkejut.
"sebenarnya" Chufei menjelaskan. Alasan saja dia menyuruhku ambil minum. Kejadian itu dijelaskan Chufei dengan gamblang.
"hehehe, memang usil yaa" tawa istri Sukai namun terlihat wajahnya merona.
"kadang memang gila tuh anak" ucap Nenek Hong. Tawa canda terdengar diantara mereka.
Sementara anak anak yang sedang berkultivasi, satu persatu sudah membuka mata. Malam berganti pagi, semua mulai beraktifitas. Sedang Chuan masih asyik tidur dikamarnya.
"kalian semua keluar" teriakan dengan tenaga dalam terdengar. Tiga pendekar bumi dan 15 pendekar mahir berdiri ditengah jalan, antara rumah Chuan dan dojo. Para tetua dan yang lain mendekati mereka.
"orang tua gak sopan" teriak Lumonk.
"hei anak kecil, kau ingin mamp**" ucap pendekar bumi. "ada apa tuan sekalian berkunjung kesekte kami" ucap Tetua Tian.
"sebenarnya kami mencari pendekar hitam, namun karena tempat ini bagus tak ada salahnya kami pinjam" lanjutnya. "enak saja"
"tak sudi punya tamu seperti dia" celoteh anak anak terdengar.
Tetua Tian dan yang lain hanya tersenyum mendengarnya. "bangs**, anak anak gak pernah dihajar" ucap pemdekar bumi satunya dengan geram.
"tuan sekalian sebaiknya meninggalkan sekte kami" terdengar suara Chuan sambil keluar rumahnya.
"bajing**, jelek apa maksudmu" hardik orang itu.
"aku tak mau terjadi apa apa dengan kalian" ucap Chuan. "whahaha" tawa mereka semua pecah.
"sekumpulan tikus menggertak kami" kata kasar terdengar.
"anak anak ini bukan latihan biasa, kalian lawan 15 orang itu" ucap Chuan.
"baik kak" jawab mereka serempak. Terlihat para tetua memberi jalan sambil tetap waspada dengan keselamatan mereka.
__ADS_1
"whahaha, anak tikus dengan pedang mainan"
"biar aku yang hadapi" ucap pendekar mahir. Dua orang mendatangi anak anak yang sudah siaga.
"hiaat" lima anak mulai menyerang. Gerakan lincah kelimanya membuat keduanya keteteran. Tiga orang datang membantu. Anak anak hanya kalah dalam pengalaman, tapi kesempurnaan penguasaan mereka membuatnya masih bisa bertahan.
Lima anak datang membantu. Jurus demi jurus berlalu. Meskipun dalam keadaan serius, tapi anak anak masih tak mau melukai lawannya.
"anak anak jangan ragu melukai mereka" teriak Chuan.
"siap" teriak mereka sambil menyerang lebih ganas. Terlihat mereka mulai menghilangkan keraguan hatinya.
Jurus yang diperagakan anak anak semakin tajam. Namun hanya bisa menahan serangan para tamu tak diundang itu.
"mundur kalian" teriak Chuan
"siap kak" teriak mereka sambil melompat mundur
"kalian ajak bibi kebalai lelang" teriak Chuan. Para anak anak dan wanita masuk kebalai lelang.
"whahaha, cuma segitu kalian sudah menyerah" ucap pendekar bumi, namun tak dapat menyembunyikan keterkejutannya pada kejadian yang baru terjadi.
"kalian orang tua tak tahu diuntung" ucap Chuan. "serahkan sekte ini dari pada kalian semuanya mamp**" lanjutnya, masih dalam kesombongannya. Tahap seluruh anggota sekte hutan suci masih disembunyikan pada tahap mahir.
"tinggalkan tepat ini, demi kebaikan kalian" ucap Tetua Tian.
"pikir keselamatan kalian sendiri" ucap pendekar bumi lainnya.
"jangan salahkan kami kalau melawan" lanjut Tetua Tian.
"hahaha, tikus tua mau melawan kami" tawa pendekar bumi dengan sombingnya.
"pasukan keamanan lepaskan tahap kalian dan jangan biarkan anjing anjing ini lolos" ucap Chuan.
"baik" jawab mereka. Teysan, Teikong dan yang lain melepaskan tahap pendekar bumi mereka.
"habisi ketiga pendekar bumi itu" ucap Chuan
__ADS_1
"hahaha, biar kita jadikan samsak untuk latihan hari ini" teriak Teysan bersemangat, dia dan temannya lalu menerjang ketiganya.
"hahh, kalian" ucap pendekar bumi terkejut, meskipun menangkis serangan, tetapi nyali mereka mulai ciut. Lima belas orang dibelakang mereka gemetar ketakutan.